Yogyakarta Gelar Festival Wellness Berbasis Budaya, Ada Membatik, Belajar Seni Tradisi, dan Meracik Jamu

0
Ketua BPPD DIY GKR Bendara (tengah) memaparkan rencana Jogja Cultural Wellness Festival 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10/2026).

YOGYAKARTA, BENANG.ID – Kunjungan wisatawan ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) biasanya melandai pada November.

Tahun ini, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY menyiapkan jawabannya lewat Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026, yang menyajikan 85 program mulai dari yoga, gamelan, hingga meracik jamu.

Festival tahun keempat ini digelar pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta.

Sebanyak 97 komunitas dan mitra terkurasi terlibat, dengan target sekitar 1.500 kunjungan selama tiga hari.

Dari seluruh program, 14 di antaranya gratis, sedangkan sisanya mengikuti ketentuan tiket dan reservasi.

Memanfaatkan Low Season

Mengusung tema RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing, JCWF sengaja dijadwalkan pada periode yang dipandang sebagai musim sepi.

Ketua BPPD DIY GKR Bendara menyebut pemilihan November sebagai strategi menghidupkan pariwisata sekaligus menciptakan permintaan baru (new demand).

Menurut GKR Bendara, pendekatan cultural wellness menghubungkan pengalaman wisata dengan budaya, keseimbangan hidup, dan hubungan manusia dengan alam.

Landasannya adalah filosofi Jawa, seperti hamemayu hayuning bawana serta sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh.

“Budaya adalah ruh yang menghubungkan manusia dengan identitasnya. Melalui JCWF, kami ingin menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan memperkuat pelaku usaha lokal,” ujarnya dalam konferensi pers di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10/2026).

Belajar Membatik hingga Meracik Jamu

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata DIY Ellya Shari menilai wellness tourism dapat memperkuat pariwisata berkualitas (quality tourism).

Potensi DIY, katanya, tidak hanya pada destinasi populer, tetapi juga pada pengalaman budaya seperti membatik, belajar seni tradisi, menikmati gastronomi, dan meracik jamu.

“Banyak hal dari DIY yang bisa dikembangkan dalam wellness, mulai dari budaya sampai kuliner. Harapannya, wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di DIY, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh hotel, restoran, desa wisata, dan pelaku usaha lokal,” kata Ellya.

Pengunjung bisa mengikuti yoga, latihan pernapasan, tari dan gamelan, lokakarya seni, diskusi kesehatan mental, serta pengenalan jamu dan rempah Nusantara.

Festival ini juga menghadirkan Wellness Artisan Market yang terbuka gratis untuk umum.

Ruang Bagi Pelaku Usaha

Festival melibatkan 65 praktisi wellness dan 32 artisan dari 13 kota dan daerah.

Mereka dapat memperkenalkan produk, memperluas jejaring, dan menjajaki kerja sama.

Produk yang ditawarkan meliputi kuliner sehat, produk lokal, perawatan diri, karya kreatif, dan barang berkelanjutan.

Penyelenggara berharap pasar ini memperluas akses pasar bagi usaha lokal.

Namun, nilai transaksi dan dampak ekonominya baru bisa diketahui setelah festival berakhir.

Sampah Jadi Telur untuk Posyandu

Festival ini juga menggandeng Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Bantul, untuk mengelola sampah.

Lurah Guwosari Masduki Rahmad menjelaskan, sampah plastik diolah menjadi kerajinan, sedangkan sisa makanan dipakai untuk budidaya maggot sebagai pakan ayam.

Telur dari ayam tersebut kemudian disalurkan ke posyandu.

“Setiap sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar. Kami berharap kolaborasi ini berdampak pada kebersihan, keberlanjutan, dan ekonomi masyarakat,” ujar Masduki. Pengelolaan ini melibatkan pekerja kebersihan setempat.

Penyelenggara juga berencana mengompensasi jejak karbon melalui penanaman pohon.

Pengunjung diajak membawa tumbler, memakai fasilitas pengisian air minum, naik transportasi umum, dan memilah sampah.

Pada 6 November, JCWF akan menggelar Pentahelix Forum yang mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas budaya, praktisi wellness, dan pelaku industri pariwisata.

Lewat festival ini, DIY berharap budaya tak hanya mendongkrak jumlah kunjungan, tetapi juga membuka pasar baru, memperluas kesempatan usaha, dan melibatkan masyarakat menjaga lingkungan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here