
Lewouran, benang.id — Kehadiran relikui Santo Petrus Rasul di Lewouran berkaitan dengan perjalanan Pater Markus Solo Kewuta SVD, yang berkarya di Vatikan, Roma. Ia membawa relikui Santo Petrus dan fragmen batu dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus ke kampung halamannya.
Bagi Padre Marco—demikian Pater Markus Solo akrab disapa– rangkaian peristiwa yang mengiringi perjalanan kedua benda tersebut menyimpan makna spiritual yang mendalam. Ia mengisahkan, relikui dan fragmen batu itu menempuh perjalanan lebih dari 15.000 kilometer serta melewati enam titik pemeriksaan, yakni Roma, Dubai, Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, dan Kupang.
Padre Marco juga mengingat bahwa Lewouran relatif selamat ketika erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki yang menghancurkan sejumlah wilayah di sekitarnya. Menurut dia, warga kampungnya tidak pernah mengungsi.
Ia menghubungkan pengalaman tersebut dengan peristiwa pada 2001, ketika memberkati gereja yang dibangun dengan susah payah oleh umat dan secara spontan memilih Santo Petrus Rasul sebagai pelindungnya. Enam tahun kemudian, pada 2007, ia dipanggil untuk berkarya di Vatikan, di lingkungan yang berpusat pada makam Santo Petrus.
“Saya tidak ingin mensakralkan Lewouran atau gereja kami, tetapi pengalaman-pengalaman di atas memendam misteri kuasa Tuhan yang mungkin belum banyak diketahui oleh orang,” ujar Padre Marco.

Bagi Padre Marco, pengalaman itu merupakan bagian dari perjalanan iman yang maknanya tidak selalu dapat dipahami manusia. Ia meyakini, ziarah dapat menjadi ruang bagi umat untuk menemukan keteduhan, memulihkan luka batin, dan menumbuhkan harapan.
Ia mengaku mendengar laporan bahwa sejumlah peziarah menitikkan air mata ketika membaca doa yang disiapkannya dan buku panduan yang ditulisnya. Padre Marco memaknai pengalaman tersebut sebagai perjumpaan spiritual yang dapat menguatkan orang-orang yang datang membawa pergulatan hidup.
“Para peziarah akan menerima banyak kekuatan iman, keteduhan, penyembuhan luka dan harapan serta berkat,” katanya.
Menurut Padre Marco, sejumlah peziarah bahkan menyampaikan keinginan untuk kembali ke Lewouran bersama keluarga, sahabat, kelompok, atau secara pribadi.
“Jalan Tuhan selalu indah. Orang butuh meninggalkan tempatnya untuk sedikit berjalan untuk menemukan Dia di berbagai tempat, dan dalam berbagai peristiwa,” ujarnya.
Ia melihat pengalaman tersebut sebagai awal yang menjanjikan bagi pengembangan Lewouran sebagai tujuan ziarah rohani, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Sisi pun memiliki harapan serupa. Ia menyebut Lewouran sebagai tempat yang menawarkan keteduhan bagi orang-orang yang mencari pengalaman spiritual.
“Di Lewouran ada oase rohani, ada keteduhan jiwa, ada perjumpaan dengan Tuhan melalui Santo Petrus Rasul yang abu dari makamnya kami simpan di dalam gereja yang juga berpelindung di bawah Santo Petrus Rasul,” kata Sisi.
Ia bahkan mengibaratkan Lewouran sebagai Nazaret kecil, tempat sederhana yang mungkin tidak banyak dikenal orang, tetapi menyimpan pengalaman iman yang berharga. Ia merujuk pada pertanyaan Natanael dalam Injil Yohanes 1:46, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”
Bagi Sisi, pertanyaan itu menjadi refleksi tentang bagaimana sebuah kampung kecil dapat menghadirkan pengalaman rohani bagi banyak orang. (*/GK, bersambung)
Baca selanjutnya di https://benang.id/iman-yang-berbuah-dalam-pelayanan-4/

