ara contemporary Persembahkan Dua Pameran Tunggal Perdana Alisa Chunchue & Mar Kristoff

0
Dua pameran tunggal: Galeri Utama menampilkan Wound karya seniman Thailand Alisa Chunchue, dan Galeri Fokus menampilkan Interloper karya Mar Kristoff. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Jakarta, benang.id – Mengawali musim Art Jakarta 2025, ara contemporary dengan bangga mempersembahkan dua pameran tunggal di seluruh ruangnya. Galeri Utama menampilkan Wound, pameran tunggal pertama seniman Thailand Alisa Chunchue, dengan teks pameran karya Pojai Akratanakul. Sementara itu, Galeri Fokus menampilkan Interloper, pameran tunggal pertama Mar Kristoff setelah dinobatkan sebagai UOB Artist of the Year, dengan teks pameran karya Raina Alonge.

Karya-karya Alisa Chunchue dan Mar Kristoff dapat Anda nikmati mulai tanggal 27 September hingga 2 November 2025, di galeri yang terletak di Jalan Tulodong Bawah I No 16, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini.

Wound oleh Alisa Chunchue

Alisa Chunchue (kiri) memberikan penjelasan tentang karya-karyanya. Foto: benang.id/Gora Kunjana

“Wound”, seri karya Alisa Chunchue yang masih berlanjut, terdiri dari gambar-gambar meditatif metodis yang merekam waktu yang dihabiskan sang seniman dengan setiap karyanya. Dalam pameran kali ini, ia menampilkan sebanyak 13 karya, yang dimulainya pada tahun 2020 sebagai metode untuk mengatasi duka, dan kemudian menjadi refleksi dari perjuangannya. Ia menelusuri langkah-langkah penjahitan teknik jahitan bedah menggunakan pensil dan menciptakan pola-pola melingkar tanpa henti hingga memenuhi seluruh ruang.

Terpesona dengan bagaimana luka sembuh pada tubuh yang hidup, obsesinya untuk menutupnya dengan sempurna bisa melelahkan, tetapi proses berkelanjutan untuk ‘melakukan’ tanpa henti, juga menenangkan, dan dengan melakukannya menjadi sebuah gerakan meditasi.

Seri lainnya, Invisible Suture (2022-24) dan Stitching (2024), menampilkan patung-patung kaca; melayang di udara, berbagi ruang dengan tubuh kita, kerangka-kerangka kokoh yang berkilau, lekuk-lekuk organik yang mengalir lembut, transparan dan rentan.

Karya-karya Alisa Chunchue di Galeri Utama ara contemporary. Foto: benang.id/Gora Kunjana

“Pemilihan material kaca kaena sesuai dengan tubuh yang natural, dan materi stainless dapat diasosiasikan dengan peralatan-peralatan medis. Sementara pilihan warna-warna seperti warna yang dapat ditemukan di tubuh kita seperti darah, kulit, dan sebagainya,” jelas Alisa Chunchue, saat memaparkan satu per satu karyanya.

Alisa Chunchue memang tertarik pada bagaimana material-material tersebut membutuhkan penanganan yang cermat, dan presisi yang sama seperti bekerja dengan tubuh, pembuatannya tidak dapat dibalik.

Semua garis cahaya yang tak terlihat dari kejauhan ini mengundang para penonton untuk mendekat dan mengamati. Rasakan kedekatan dengan karya ini. Bentuk dan nada abstrak sensorisnya perlahan mengisi bidang pandang seseorang. Pada akhirnya, bukan hanya konsentrasi sang seniman selama berkarya, tetapi juga latihan mengamati, juga penyerapan, yang membangkitkan keheningan dan meditasi.

Karya-karya Alisa Chunchue di Galeri Utama ara contemporary. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Pada karya seni instalasi bertitel Invisible Incision (2025) misalnya, Alisa Chunchue menampilkan sebuah jarum dan pisau bedah dengan bahan material kaca, baja stainless yang merupakan peralatan operasi yang pernah dialaminya di sebuah rumah sakit. “Karya ini berdasar pada pengalaman saya dioperasi. Ada jarum dan pisau yang digunakan untuk membelah dan menjahit kulit dalam operasi,” ungkapnya.

Tampak sekali bahwa Alisa Chunchue mengesampingkan sisi menakutkan dari sebuah pengalaman menderita sakit keras dan menjalani tindakan operasi. Seri yang ia tampilkan kali ini menjadi bukti bagaimana ia bertahan melewati masa-masa sulit itu. Karya instalasi maupun garis-garisnya di kanvas adalah potongan-potongan kehidupan Alisa sendiri, juga setiap tarikan dan hembusan napasnya, telah membumikan siapapun yang dapat melihat pesannya di masa kini.

Interloper oleh Mar Kristoff

Mar Kristoff (bertopi) memberikan penjelasan seputar karyanya. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Pameran tunggal Mar Kristoff, Interloper, menempatkan sang seniman dalam ranah ambigu antara peserta dan orang luar. Judulnya sendiri menyiratkan intrusi, sosok yang berpindah-pindah ruang tanpa sepenuhnya merasa memiliki.

Dalam lukisan-lukisannya, Kristoff mengolah foto-foto keluarga dan benda-benda temuan, menolak memandangnya sebagai wadah memori yang netral. Di sini, arsip bukanlah repositori yang tetap, melainkan situs yang cair, yang rentan terhadap revisi, penghapusan, dan spekulasi.

“Saya menggunakan arsip-arsip fotografi yang ada di dalam keluarga saya sendiri. Tapi kali ini saya juga menambahkan arsip fotografi keluarga saya lainnya yang baru saya temukan di online market atau e-commerce,” ujarnya.

Karya-karya Mar Kristoff di Galeri Fokus ara contemporary. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Melalui gestur-gestur lukis yang mengaburkan, membingkai ulang, dan perpindahan, Kristoff menggoyahkan makna yang diwariskan dan menempatkan memori pada lintasan alternatif serta menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab: Siapa pemilik sebuah gambar? Siapa yang berhak menarasikannya? Kebenaran siapa yang divisualisasikan?

Pameran ini mencerminkan sebuah paradoks mengingat: hasrat untuk melestarikan sekaligus menghadapi distorsi yang tak terelakkan. Setiap gambar mengisyaratkan penghentian waktu, namun begitu beredar, ia mulai melayang, menyerap interpretasi baru, mengumpulkan konteks, dan perlahan-lahan mengkhianati asal-usulnya.

Kristoff tidak menyelesaikan ketegangan ini, ia justru memperkuatnya. Hasilnya adalah potret ingatan bukan sebagai arsip statis, melainkan sebagai proses yang hidup: terputus-putus, mudah berubah, dan tak kunjung terselesaikan.

Mempertanyakan Arti Menjadi Manusia dan Menangkap Hakikat Kenangan

Seniman Thailand Alisa Chunchue. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Alisa Chunchue adalah seniman yang menyelidiki kondisi fisik dan mental, mempertanyakan arti menjadi manusia, dan apa yang mendorong kita untuk memahami keberadaan. Ia mengkaji bagaimana tubuh manusia saling terkait dalam masyarakat saat ini, dengan keterkaitan yang berlapis-lapis. Chunchue berkarya di berbagai medium dan disiplin dalam serangkaian proyek berskala besar, meliputi seni patung, instalasi, gambar, pertunjukan, dan baru-baru ini, videografi.

Wound merupakan seri terbarunya berupa prosedur menggambar meditatif yang terinspirasi oleh luka otopsi pada mayat manusia di Museum Anatomi Condon di Bangkok, telah dianugerahi ARTJOG Young Artist Awards (2024), The Vogue Hong Kong Women’s Art Prize dalam The Sovereign Asian Art Prize (2023), dan Prince Claus Seed Awards (2022).

Chunchue telah berpartisipasi dalam pameran kelompok seperti ARTJOG: Ramalan, Museum Nasional Jogja, Yogyakarta, Indonesia (2024); Pameran Finalis Sovereign Asian Art Prize 2023, H Queen, Hong Kong (2023); dan Illuminated Curiosities, Yayasan Seni Nguyen, Ho Chi Minh, Vietnam (2022).

Seniman asal Bali Mar Kristoff. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Adapun, Mar Kristoff adalah seniman multidisiplin yang saat ini berkarya di Bali, Indonesia. Mengumpulkan inspirasi dan referensi dari arsip pribadi dan citra temuannya, Kristoff dikenal karena interpretasinya terhadap citra fotografis dalam cat yang menangkap hakikat kenangan. Kristoff mempertanyakan keterbatasan dan potensi, serta kontras dan kemiripan, lukisan dan fotografi sebagai media sambil menggali tema-tema identitas, ingatan, nostalgia, konsep waktu, dan pencarian abadi akan rasa memiliki.

Kristoff telah berpartisipasi dalam pameran-pameran seperti Tandur, Galeri Nonfrasa, Bali, Indonesia (2024); TERRA, Burgundy, Prancis (2024); OPC Collectors Show, Galeri Gajah, Jakarta, Indonesia (2024); Salon Et Cetera, Ace House Collective, Yogyakarta, Indonesia (2024); Pameran Perdana di SUN. CONTEMPORARY, Bali, Indonesia (2024); TOREH, Galeri Nonfrasa, Bali, Indonesia (2023); dan Coalesce – OPC Collectors Show, ROH Projects, Jakarta, Indonesia (2023).

Ia adalah peraih medali emas kategori seniman pendatang baru dalam UOB Painting of the Year 2024, Indonesia. (*/GK)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here