CLOSED: Pameran Tunggal Architecture of Fear a la Irfan Hendrian di ara contemporary

0
Irfan menjelaskan tumpukan kertas yang membentuk tugu. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Jakarta, benang.id – Membuka tahun 2026 ini, ara contemporary mempersembahkan program pertamanya CLOSED, sebuah pameran tunggal oleh Irfan Hendrian. Pameran yang berlangsung 31 Januari hingga 17 Maret ini menampilkan karya terbaru Hendrian, Chinatown Window Sample, di Galeri Utama, disertai dengan presentasi Studio Terbuka di Galeri Fokus yang menyoroti proses dan penelitian berkelanjutan sang seniman. Total ada 25 judul karya yang dapat Anda nikmati di dua galeri ini.

Selama ribuan tahun, kertas telah mewujudkan temporalitas dan keabadian. Manuskrip, surat, dan dokumen melestarikan sejarah pada lembaran tunggal yang membawa lapisan ambiguitas laten. Di zaman yang semakin mempromosikan penurunan budaya berbasis kertas dan bahan cetak, Irfan Hendrian, sebaliknya, terus menggunakan kertas sebagai media utamanya—baik secara intensif maupun ekstensif. Namun ia tidak bekerja dengan, di atas, atau pada kertas; melainkan, ia melihat ke dalam media itu sendiri.

Suasana pameran CLOSED by Irfan Hendrian di ara contemporary. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Proses pembuatan, perancangan, dan penataan karyanya selalu berawal dari unit paling dasar: selembar kertas. Melalui karya-karya yang dipresentasikan dalam CLOSED, Irfan berupaya membuka kembali ruang memori—sebuah “sisi lain” dari bentuk yang mengundang dialog alternatif dan mengungkapkan dimensi di luar pertimbangan estetika semata.

“Foto-foto dalam karya tersebut pertama kali dicetak dalam ratusan salinan menggunakan risografi, yang menyebabkan setiap salinan sedikit bergeser. Lapisan-lapisan ini kemudian diiris dan dipotong oleh mesin sebelum akhirnya disusun ulang. Dalam struktur akhir karya tersebut, hanya jejak tinta di sepanjang tepi kertas yang terlihat, mewujudkan sejarah sebagai artefak berlapis yang halus,” jelas Irfan Hendrian, dalam acara Press Preview di Galeri ara contemporary, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Architecture of Fear

Irfan Hendrian menunjukkan lot pintu lebih dari satu dan karya tralis. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Bentuk-bentuk tertentu yang berulang dalam karya Irfan, seperti teralis jendela, pagar logam bergelombang, gembok, dan kunci—adalah apa yang digambarkan oleh seniman sebagai architecture of fear atau arsitektur ketakutan. Bentuk-bentuk ini membawa bobot historis dan kontekstual tertentu, berfungsi sebagai realitas yang dialami yang dibentuk oleh ingatan dan pengalaman Irfan tentang kecemasan, kegelisahan, hingga trauma yang dihadapi oleh komunitas Tionghoa di Indonesia.

Arsitektur ketakutan itu tampak antara in di dalam karya berjudul Paper Thin Protection (2025), yang menggambarkan sebuah pintu diberi banyak slot pengunci. “Salah satu ketakutan tergambarkan dalam banyaknya kunci, meski banyak kunci tapi tetap saja gampang dibobol,” jelas Irfan.

Alat untuk menduplikat kunci (kiri), dan Irfan Hendrian menunjukkan kertas duplikat kunci tergantung dalam Paranoia Holder (kanan). Foto: benang.id/Gora Kunjana

Juga dalan karya Trallis Trend (2025), Irfan menghadirkan aneka contoh multitralis untuk jendela atau pun pintu. Tralis yang lazimnya cuma satu lapis rangkaian besi, karena memiliki muatan ketakutan hingga berlapis-lapis besi yang justru kemudian membentuk karya seni yang indah.

Ada satu hal yang unik. Untuk dapat ikut merasakan nuansa “ketakutan” ini, CLOSED menghadirkan segmen partisipatoris. Di sini pengunjung diajak untuk mencetak dua duplikat dari kunci rumah, kamar, atau pun kunci gembok di atas kertas. “Hasilnya, satu copy untuk kenang-kenangan, satunya lagi digantung di dalam karya berjudul Paranoia Holder ini. Saya dulu selalu membawa segombyok kunci,” kenang Irfan.

Tampak bahwa secara bersama-sama, karya-karya Irfan tersebut berfungsi sebagai objek yang membangun konteks yang lebih luas, mengungkapkan dimensi di luar apa yang langsung dipersepsikan sebagai bentuk visual. Pada akhirnya, CLOSED mengajak kita untuk melihat lebih dekat, untuk menghadapi bayangan di dalam “bekas luka” yang tetap ada dalam ingatan.

Irfan Hendrian dan karya Emas Beras. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Selain arsitektur ketakutan,Irfan juga menampilkan sejumlah karya terkait tradisi atau budaya masyarakat Tionghoa,semisal di karya berjudul Emas Beras. “Banyak yang bilang orang Tionghoa suka menimbun emas dan beras. Memang orang Tionghoa punya kebiasaan menimbun emas, tapi tidak sebanyak ini,” tukas Irfan tersenyum sambil menunjuk timbunan “Emas” yang dipamerkan.

Di sela-sela satu setengah bulan pameran tunggalnya di ara contemporary, Irfan Hendrian juga menampilkan beberapa karyanya di event Art Jakarta Papers di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Jakarta, pada 5–8 Februari 2026. Gelaran perdana seni rupa bermedium kertas dari Art Jakarta ini memang ingin mengajak pengunjung menemukan kisaran luas penjelajahan artistik seputar kertas, mulai dari gambar, seni cetak, patung, hingga instalasi, dan karya-karya Irfan, “no doubt” sangat mendukung hal itu.

Konsisten Mengeksplorasi

Dua ruang berisi karya-karya Irfan Hendrian. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Sebagai seorang seniman dan pembuat cetakan profesional, Irfan Hendrian secara konsisten mengeksplorasi dan mendorong kualitas formal kertas serta potensi pahatannya. Di tangan Hendrian, kertas bukan lagi sekadar media datar untuk representasi; kertas menjadi pigmen dan kanvas, dibentuk menjadi objek dan instalasi yang semakin rumit dan berskala besar sepanjang praktik artistik Hendrian.

Tak heran jika karya-karya Irfan Hendrian bukan kaleng-kaleng. Asal tau saja, proses kreatif untuk mencipta karya yang “sederhana” saja, ia butuh waktu setidaknya dua minggu. “Kalau yang rumit dan berskala besar tentu saja butuh waktu yang lebih lama, bisa sampai empat bulan,” jelas Irfan.

Tim ara contemporary memberikan penjelasan seputar karya Irfan Hendrian (kiri). Foto: benang.id/Gora Kunjana

Seniman kelahiran 1987, yang tinggal di Bandung ini, telah mengadakan beberapa pameran tunggal; di antaranya Incognito, The Arts House, Singapura (2024); Incognito di Art Jakarta, Jakarta, Indonesia (2022); Constructed _scape di Sulivan+Strumpf Singapura (2020); Some Other Matter di Aloft at Hermes, Singapura (2019); SANS, di Sulivan+Strumpf Singapura (2018); dan Terenne di Jeonbuk Museum of Art, Korea Selatan (2016).

Karya-karya Hendrian terdapat dalam koleksi Deutsche Bank, Jerman; Museum Seni Jeonbuk, Korea Selatan; Museum MACAN, Indonesia; Museum Seni Singapura, Singapura; dan Museum Tumurun, Indonesia. (*/GK)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here