
Jakarta, benang.id – Pelaku bisnis saat ini dituntut untuk semakin adaptif dan tangguh agar mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan yang dinamis. Pasalnya, ketidakpastian ekonomi global masih terus menekan keberlangsungan dunia usaha. Mulai dari tensi geopolitik, fluktuasi harga energi, disrupsi rantai pasok, hingga perubahan iklim. Semuanya menciptakan ketidakpastian ekonomi yang sulit diprediksi.
Demikian sorotan dalam sesi “Adapting the Weather: Building Business Resiliency” pada event Wealth Wisdom 2025 yang digelar Permata Bank, di Jakarta, Selasa (7/10/2025). Sesi ini menghadirkan dua sosok inspiratif yakni; Shinta W Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), dan Adrianto Djokosoetono, Direktur Utama PT Blue Bird Tbk. Melalui diskusi ini, keduanya berbagi pengalaman dan strategi dalam memperkuat ketahanan bisnis keluarga di tengah tantangan ekonomi global maupun domestik.
Purpose, Passion dan Perserverance Kunci Keberlanjutan Bisnis Keluarga
Bisnis keluarga berperan besar dalam perekonomian Indonesia. Sekitar 70 persen perekonomian swasta nasional disumbang oleh bisnis keluarga yang juga menyerap lebih dari 70 persen tenaga kerja nasional. Namun, berdasarkan Riset Daya Qarsa, hanya 30 persen bisnis keluarga yang bertahan hingga generasi kedua, dan 13 persen hingga generasi ketiga.
Menurut Shinta, tantangan terbesar bagi bisnis keluarga bukan hanya keberlanjutan, tetapi juga memastikan proses regenerasi dan kepemimpinan lintas generasi berjalan dengan baik. Generasi penerus perlu memiliki profesionalisme, menjunjung tinggi nilai perusahaan, serta adaptif terhadap dinamika industri dan perkembangan teknologi.
“Penting bagi setiap pelaku bisnis keluarga untuk selalu kembali pada purpose atau tujuan dan mimpi yang ingin dicapai, menumbuhkan passion dengan mencintai bisnis yang dijalankan, serta memiliki perseverance atau ketekunan untuk terus bekerja keras menghadapi tantangan agar bisnis dapat tumbuh lintas generasi,” jelas Shinta.
Ia menilai, kegiatan seperti Wealth Wisdom sangat relevan bagi para pemilik usaha keluarga dan generasi muda sebagai next generation untuk saling berbagi pengalaman dan belajar satu sama lain.
Stay Relevant dan Adaptif Kunci Keberhasilan Transformasi Bluebird
Kemampuan untuk terus relevan dan beradaptasi dengan perubahan industri, kebutuhan konsumen, dan perkembangan teknologi menjadi kunci keberhasilan transformasi Bluebird sebagai perusahaan mobilitas terkemuka di Indonesia. Kisah sukses Bluebird menjadi contoh nyata bagaimana bisnis keluarga mampu berevolusi seiring waktu.
Didirikan oleh mendiang Ibu Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono dengan 25 armada taksi Holden Torana, Bluebird kini telah berkembang menjadi perusahaan mobilitas nasional dengan lebih dari 24 ribu armada dan 30 ribu pengemudi di 20 kota di Indonesia.
Sebagai generasi ketiga penerus keluarga pendiri, Adrianto Djokosoetono menegaskan bahwa inovasi dan digitalisasi merupakan kunci ketahanan bisnis. “Transformasi digital bukan hanya soal mengikuti tren, tapi menjadi fondasi baru agar bisnis tetap adaptif dan relevan. Bluebird kini berkembang menjadi Mobility as a Service company, dengan menghadirkan layanan mobilitas dengan beragam layanan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” jelas Adrianto.
Kolaborasi dan Nilai Jadi Kompas Ketahanan
Kedua pembicara sepakat bahwa membangun resiliensi tidak bisa dilakukan sendirian. Dunia usaha harus memperkuat kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah, asosiasi, perusahaan besar, UMKM, dan generasi muda sebagai penerus. Kolaborasi bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi juga tentang saling melengkapi kekuatan, berbagi pengetahuan, dan membangun ekosistem bisnis yang tangguh menghadapi tantangan global.

Wealth Wisdom 2025 di Jakarta menghadirkan beragam aktivitas, kelas, dan topik dengan narasumber lintas bidang yang membahas keseimbangan antara finansial, kesehatan, dan pendidikan sebagai fondasi kesejahteraan. Acara ini juga menghadirkan ekonomi Josua Pardede– Chief Economist Permata Bank, dan Arief Wana– Managing Partner PT Ashmore Asset Management Indonesia, serta tokoh publik seperti Airlangga Hartarto, Basuki Tjahaja Purnama, Prof Rhenald Kasali, Prof Eka J Wahjoepramono, Stephanie Gunadi, Andy F Noya, dan Raymond Chin.
Sejak pertama kali digelar pada 2014, Wealth Wisdom terus berkembang menjadi platform interaktif untuk belajar, berbagi inspirasi, dan memperluas wawasan demi masa depan finansial yang lebih kuat, sejalan dengan visi Permata Bank untuk tumbuh bersama nasabah dan menciptakan nilai bermakna bagi masyarakat. (*/GK)


