Thursday, August 11, 2022
No menu items!
spot_img
HomeEkonomiEkspor Turun 68%, Stok CPO Melonjak Capai 7,2 Juta Ton

Ekspor Turun 68%, Stok CPO Melonjak Capai 7,2 Juta Ton

Jakarta, benang.id – Kinerja industri sawit pada bulan Mei 2022 dipengaruhi oleh kebijakan larangan ekspor yang berlaku pada 28 April – 23 Mei 2022.

“Kebijakan larangan ekspor tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap pencapaian ekspor tetapi juga terhadap produksi,” tutur Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (15/7/2022).

Mukti menjelaskan, secara agronomis, produksi tanda buah segar (TBS) tanaman meningkat, tetapi secara industri produksi minyak sawit atau crude palm oil (CPO) 18% lebih rendah dari produksi bulan April.

Astra Agro
Tandan buah segar (TBS) sawit. Foto ilustrasi: benang.id/Gora Kunjana

“Beberapa perusahaan mulai membatasi panen dan pembelian TBS dari petani karena kapasitas tangki yang terbatas,” katanya.

Mukti menguraikan bahwa ekspor bulan Mei 2022 hanya 678 ribu ton atau turun 68% dari ekspor bulan April sebesar 2.089 ribu ton. Penurunan terbesar pada CPO dan olahan CPO.

Ekspor oleokimia pada bulan Mei 318 ribu ton, relatif sama dengan ekspor bulan April (319 ribu ton). Dibandingkan dengan ekspor bulan April, ekspor Indonesia bulan Mei ke Tiongkok turun 28%, ke Amerika Serikat turun 32%, ke Filipina turun 52%, ke Rusia turun 64%, ke Uni Eropa turun 64%, ke Singapura turun 67%, sedangkan ke India turun 80%, ke Pakistan turun 90%, dan ke Bangladesh turun 98%.

Astra Agro
Tandan buah segar (TBS) sawit. Foto ilustrasi: benang.id/Gora Kunjana

Harga CPO Cif Rotterdam bulan Mei sebesar US$ 1.714/ton mengalami penurunan dibandingkan harga bulan April sebesar US$ 1.719/ton, demikian juga dengan harga tender dalam negeri turun dari US$ 1.144,7 pada bulan April menjadi US$ 936,0 pada bulan Mei.

“Harga CPO yang turun menyebabkan penurunan harga TBS yang diterima oleh petani,” sambung Mukti.

Data industri sawit
Data industri sawit.

Lebih lanjut Mukti mengungkapkan, konsumsi minyak sawit dalam negeri bulan Mei adalah 1.610 ribu ton, lebih rendah (-8%) dari konsumsi bulan April. Untuk keperluan pangan, konsumsi minyak sawit naik dari 812 ribu ton pada bulan April, menjadi 837 ribu ton pada bulan Mei (+3%), sedangkan untuk keperluan biodiesel, konsumsi bulan Mei sebesar 590 ribu ton adalah 22% lebih rendah dari konsumsi bulan April yaitu sebesar 755 ribu ton.

“Kinerja ekspor yang menurun menyebabkan kenaikan stok akhir dari 6,1 juta ton pada bulan April menjadi 7,2 juta ton pada bulan Mei,” pungkas Mukti Sardjono.   

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments