Hadiri Forum Insinyur ASEAN CAFEO 43, Anggawira Tunjukkan Komitmen Indonesia pada Net Zero 2060

0
58
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Monitoring dan Evaluasi Infrastruktur Migas, Dr Anggawira MM MH hadir mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai keynote speaker pada sesi Green Energy & Net Zero dalam CAFEO 43 di SMX Convention Center, Clark, Pampanga, Filipina.

Clark, Pampanga, Filipina – Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Monitoring dan Evaluasi Infrastruktur Migas, Dr Anggawira MM MH hadir mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai keynote speaker pada sesi Green Energy & Net Zero dalam 43rd Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 43) yang digelar di SMX Convention Center, Clark, Pampanga, Filipina.

Anggawira menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Potensi tersebut menjadi fondasi kuat bagi Indonesia untuk bertransformasi menuju ekonomi rendah karbon.

“Transisi energi bukan sekadar perubahan teknologi, tapi gerakan sosial-ekonomi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan,” ujar Anggawira yang juga merupakan Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi), dalam keterangannya, Selasa (4/11/2025).

Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Monitoring dan Evaluasi Infrastruktur Migas, Dr Anggawira MM MH hadir mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai keynote speaker pada sesi Green Energy & Net Zero dalam CAFEO 43 di SMX Convention Center, Clark, Pampanga, Filipina.

Dalam presentasinya, Anggawira memaparkan bahwa pelaksanaan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 diproyeksikan akan menciptakan lapangan kerja hijau, mengurangi emisi CO₂, serta menarik investasi “Investasi hijau itu peluang masa depan, Indonesia membuka ruang kolaborasi bagi negara-negara ASEAN untuk membangun rantai pasok energi bersih yang saling terintegrasi,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan transisi energi tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan, melainkan memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan seperti pemerintah, BUMN, swasta, akademisi, media, dan masyarakat sipil untuk memastikan proses yang inklusif dan berkeadilan. “Kita harus memastikan transisi ini tidak meninggalkan siapa pun, no one left behind,” tegasnya.

CAFEO 43 berlangsung selama tiga hari, 28–30 Oktober 2025, mengangkat tema “ASEAN Engineers: Beacons of Prosperity, Inclusivity, Equity, Resilience, and Sustainability.” Forum ini mempertemukan ratusan insinyur, akademisi, dan pembuat kebijakan dari 10 negara ASEAN untuk bertukar ide dan inovasi dalam membangun masa depan yang berkelanjutan. “ASEAN memiliki potensi besar untuk menjadi kawasan energi hijau dunia. Kuncinya adalah kolaborasi dan inovasi,” tutup Anggawira. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here