Jakarta, benang.id – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menyampaikan keprihatinan mendalam atas temuan material radioaktif Cesium-137 di kawasan industri Cikande, Serang, Banten. Kasus ini tidak hanya menyangkut aspek kesehatan masyarakat dan lingkungan, tetapi juga berpotensi besar mengganggu reputasi perdagangan dan ekspor Indonesia di mata dunia.
Sekretaris Jenderal BPP Hipmi, Anggawira, menegaskan bahwa temuan ini adalah “alarm keras” bagi sistem pengawasan dan tata kelola industri nasional. “Ketika ekspor produk Indonesia, seperti udang beku, sampai terdeteksi mengandung radiasi di luar negeri, maka dampaknya bukan hanya bagi satu perusahaan. Seluruh pelaku ekspor dan industri nasional bisa terkena efek domino berupa penurunan kepercayaan global. Ini ancaman serius bagi daya saing bangsa,” kata Anggawira, dalam keterangannya, Rabu (1/10/2025).
Anggawira menilai kasus ini harus ditangani dengan langkah tegas, terukur, dan transparan. Beberapa hal yang didorong Hipmi antara lain:
1. Transparansi penuh hasil investigasi dan proses dekontaminasi, agar tidak menimbulkan spekulasi yang merugikan pasar ekspor.
2. Pengawasan impor bahan baku dan scrap metal diperketat, mengingat dugaan adanya material berbahaya yang lolos dari jalur masuk resmi.
3. Standardisasi dan audit keselamatan industri, khususnya bagi sektor yang rentan menggunakan bahan baku daur ulang.
4. Pendampingan dunia usaha agar tidak menjadi korban dari kelalaian pihak lain, serta diberi akses informasi dan perlindungan yang memadai.
Sebagai organisasi yang menaungi pengusaha muda di seluruh Indonesia, Hipmi –lanjut Anggawira– menekankan pentingnya sinergi lintas lembaga antara pemerintah, regulator, dan dunia usaha.
“Indonesia sedang dalam proses re-industrialisasi menuju visi Indonesia Emas 2045. Jangan sampai kasus ini melemahkan semangat investor maupun pelaku ekspor. Hipmi siap menjadi mitra pemerintah dalam memastikan standar keselamatan industri ditegakkan, sehingga keberlanjutan bisnis dan daya saing produk Indonesia tetap terjaga,” tegas Anggawira. (*/GK)



