Kebersamaan dalam Perbedaan Terjalin Indah di Hutan Brabe Maron

0
457
PC GP Ansor Kota Kraksaan, PAC GP Ansor Kecamatan Maron, MWC NU Kecamatan Maron, Gereja Katolik Santo Paulus Kraksaan serta Gereja Kristen Jawi Wetan Kraksaan gelar Dialog Karya Penanaman 1000 Pohon Pisang di lahan waqaf milik MWC NU Maron di Desa Brabe Maron, Probolinggo.

Umat Katolik Santo Paulus Kraksaan, Gereja Kristen Jawi Wetan, dan Ansor bersama-sama tanam pohon pisang

Kraksaan, Probolinggo, benang.id – Hutan Brabe Maron menjadi saksi bahwa kebersamaan dalam perbedaan dapat terjalin indah pada Sabtu, 15 November 2025. Hari itu merupakan hari yang istimewa dan membahagiakan bagi Pimpinan Cabang(PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Kraksaan, Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Maron, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Maron, Gereja Katolik Santo Paulus Kraksaan serta Gereja Kristen Jawi Wetan Kraksaan.

Mereka sepakat untuk bekerjasama dalam sebuah kegiatan bertajuk Dialog Karya Penanaman 1000 Pohon Pisang di lahan waqaf milik MWC NU Maron yang terletak di Desa Brabe Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo.

Bibit pisang yang disiapkan untuk penanaman secara simbolis.

Agenda yang diinisiasi oleh PC GP Ansor Kota Kraksaan dan PAC GP Ansor Kecamatan Maron ini menggandeng umat Katolik dan umat Kristen Jawi Wetan Kraksaan untuk bekerjasama dalam program Ketahanan Pangan berupa penanaman 1000 pohon pisang.

Ketua PC GP Ansor Kota Kraksaan, Zen Ubaidillah menyampaikan dalam sambutannya bahwa acara ini merupakan bentuk konkret toleransi antarumat beragama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia banyak menjabarkan ajaran – ajaran tentang toleransi antarumat beragama yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Pengejawantahan Dokumen Abu Dhabi

Romo Fadjar ikut dalam Dialog Karya Penanaman 1000 Pohon Pisang di lahan waqaf milik MWC NU Maron di Desa Brabe Maron, Probolinggo.

Romo Fadjar Tedjo Soekarno Pr, yang mewakili umat Gereja Katolik Santo Paulus Kraksaan memaparkan bahwa kegiatan ini sedianya lahir dari persahabatannya yang lama dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Gus Addin Jauharuddin.

Ia lantas bercerita bahwa di bulan Agustus 2024 ia pernah menemani Gus Addin (Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharuddin) untuk bertemu dengan Paus Fransiskus di Vatikan, Roma. Di sana, ungkap Romo Fadjar, Gus Addin membangun kesepahaman dengan Paus tentang pentingnya menjaga nilai-nilai perdamaian antar iman di seluruh dunia terkhusus di negara tercinta Indonesia.

Ketua Umum PP GP Ansor Addin Jauharudin memberikan kado sebuah peci kepada Paus Fransiskus, 21 Agustus 2024 lalu. Foto: Istimewa

Romo Fadjar menjabarkan, bagi umat Katolik acara semacam ini merupakan pengejawantahan dari dokumen Abu Dhabi tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama. Dokumen bersejarah itu memuat pentingnya menjaga keharmonisan antar orang beriman dan antar orang yang tidak beriman untuk hidup berdampingan dengan damai selama hidup di dunia.

Dokumen maha penting bagi kemanusiaan ini ditandatangani pada 4 Februari 2019 oleh Paus Fransiskus yang mewakili umat Katolik, dan Imam Besar Al – Azhar Syaikh Ahmed El-Thayyeb di Abu Dhabi Uni Emirat Arab. Dokumen ini bertujuan untuk mempromosikan persaudaraan, toleransi,dan perdamaian antarumat beragama dan seluruh umat manusia, dengan menekankan bahwa agama seharusnya menjadi jembatan perdamaian dan bukan penyebab konflik.

Kata Romo Fadjar, beberapa poin perjanjian Abu Dhabi yang relevan dengan kegiatan bersama itu antara lain adalah pentingnya menjaga toleransi antarumat beriman dan non-umat beriman untuk hidup berdampingan dengan damai, poin berikutnya adalah pentingnya menggalakkan dialog antarumat beriman dan non- beriman agar menimbulkan sikap saling pengertian dan menghormati.

Hasil SAGKI 2025

Romo Fadjar ikut dalam Dialog Karya Penanaman 1000 Pohon Pisang di lahan waqaf milik MWC NU Maron di Desa Brabe Maron, Probolinggo.

Lebih jauh, Romo Fadjar mengungkapkan hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) yang berlangsung di Jakarta, 3-7 November 2025, sangat relevan dan saling mendukung dengan isi dokumen Abu Dhabi. Adapun sikap yang dihasilkan SAGKI 2025, antara lain, Gereja berjalan bersama mendengarkan suara Roh Kudus melalui suara sesama, terutama mereka yang kecil, lemah dan tersisih.

Gereja diharapkan untuk menjadi komunitas profetis yang berani menyuarakan kebenaran, semakin sinodal, membawa damai dan rekonsiliasi di tengah konflik. Gereja yang mampu menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih serta menumbuhkan kehidupan sosial yang lebih adil, terbuka, dan berkeadaban.

Untuk melaksanakan panggilan misioner, Gereja diharapkan menjalankan formatio yang integral untuk membentuk pribadi-pribadi yang baik dalam iman, hati dan budi agar mampu menghadirkan wajah Kristus secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Penanaman bibit pisang.

Gereja juga dipanggil untuk mengembangkan eklesiologi pengharapan, menjadi pelaku aktif dalam membangun habitus ekologis. Gereja Katolik perlu membangun perjumpaan lintas agama dan budaya untuk melawan pengabaian martabat manusia dan perusakan keutuhan ciptaan.

“Penanaman pohon pisang bersama umat Islam, Katolik, dan Kristen ini kan wujud konkret ‘membangun perjumpaan lintas agama dan budaya’ yang sekaligus ‘melawan pengabaian martabat manusia dan perusakan keutuhan ciptaan’,” tandas Romo Fadjar, yang
sejak 1 September 2025 ditugaskan ke Kuasi Paroki Kraksaan.

Dialog konkret lewat penanaman pisang

PC GP Ansor Kota Kraksaan, PAC GP Ansor Kecamatan Maron, MWC NU Kecamatan Maron, Gereja Katolik Santo Paulus Kraksaan serta Gereja Kristen Jawi Wetan Kraksaan gelar Dialog Karya Penanaman 1000 Pohon Pisang di lahan waqaf milik MWC NU Maron di Desa Brabe Maron, Probolinggo.

Acara kerjasama penanaman pisang ini merupakan salah satu bentuk dialog konkret bernama Dialog Karya yang telah dipelopori oleh PC GP Ansor Kraksaan dan PAC GP Ansor Maron, Gereja Katolik, dan Gereja Kristen Jawi Wetan dengan tentu saja restu yang tulus dari PCNU Kota Kraksaan dan MWC NU Maron.

Pendeta Gereja Kristen Jawi Wetan, Pendeta perempuan yang masih muda bernama Pendeta Josephine menyatakan sangat bergembira dengan kegiatan bersama ini. Baginya kerja sama ketahanan pangan ini merupakan pintu masuk untuk menjalin silaturrahim berkelanjutan antarumat beragama di Kabupaten Probolinggo khususnya di wilayah Kraksaan.

“Ketika kita berbicara tentang bergereja selalu kecenderungan berpusat pada: kebaktian, organisasi, pelayanan (gerejawi), atau mungkin paduan suara. Namun lebih lanjut ketika pelayanan kesaksian, gereja menjumpai masalah pelik. Apalagi hubungan antarumat gereja seringkali ‘kikuk’ untuk berjumpa dengan sang ‘liyan’. Padahal perjumpaan ini tidak terelakkan antara gereja dimana kita tinggal dan hidup dengan yang lain,” papar Pendeta Josephine.

Ia mengungkappkan bahwa bagi GKJW Jemaat Kraksaan perjumpaan dengan sang “liyan” sudah sering dilakukan baik dalam bulan kesaksian maupun pada saat Natal. Tetapi hal itu dirasakan belum terlalu mendalam.

Penanaman bibit pisang.

Oleh karena itu, GKJW sangat mendukung kerja sama penanaman pisang raja di desa Brabe Kecamatan Maron yang letaknya kurang lebih 28 km dari Kraksaan. Dan kerja sama itu dilakukan dua kali pada tanggal 8 dan 15 November 2025. “Kami dengan senang hati menyambut kerja sama ini karena dengan perjumpaan kami dengan sang ‘liyan’ semakin terbuka bukan hanya dengan gereja Katolik saja melainkan juga dengan Ansor maupun WMC Nu Maron,” ujar Pendeta Josephine.

Kyai Misnaji yang merupakan perwakilan PCNU Kraksaan juga terlihat sangat bahagia memberikan sambutannya. Ia menyatakan dukungan dan restu penuh bagi sahabat – sahabat PC GP Ansor Kota Kraksaan dan PAC GP Ansor Maron. “Saya memberikan apresiasi tulus bagi kejelian sahabat- sahabat Ansor dalam membaca dan memanfaatkan potensi pimpinan dan anggota GP Ansor demi kemandirian organisasi apalagi ditambah dengan komitmen menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Foto bersama di depan Gereja Katolik Santo Paulus Kraksaan.

Dukungan terhadap program ini juga diungkapkan Ustadz Cung Asy’ari, sebagai Ketua MWC NU Maron yang notabene pemangku wilayah NU Maron sekaligus pemilik tanah waqaf yang diserahkelolakan kepada PAC GP Ansor Maron. Menurutnya, tanah waqaf seluas satu hektar itu sudah lebih satu tahun tidak ada yang mau mengelola.

“Makanya kami coba serahkan ke PAC GP Ansor, ternyata tak lama kemudian lahan waqaf satu hektar itu benar – benar dikelola dengan baik oleh PAC GP Ansor Maron,” katanya, seraya menyatakan apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada sahabat-sahabat PAC GP Ansor Maron dan kepada seluruh pihak yang terlibat untuk menghidupkan lahan waqaf itu.

Ia juga menyampaikan MWC NU Maron banyak memiliki lahan waqaf yang bisa dikelola oleh PAC GP Ansor Maron.

Selain para pihak yang bekerjasama di atas acara ini juga dihadiri oleh sahabat – sahabat dari GP Ansor Mojokerto, yang bermaksud untuk mencontoh program yang mereka anggap sangat bermanfaar bagi kemandirian organisasi.

Kerja bakti membersihkan lahan dan membuat lubang untuk penanaman bibit pisang.

Romo Fadjar mengungkapkan agar kegiatan Dialog Karya Penanaman 1000 Pohon Pisang tersebut dapat berjalan baik, pada Sabtu, 8 November 2025, ia bersama umat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Kraksaan dan para pemuda GP Ansor Kraksaan menggelar kerja bakti membersihkan lahan dan membuat lubang ukuran 50 cm persegi yang bakal ditanami pisang.

“Jarak antara lokasi penanaman dan Gereja Katolik Kraksaan sekitar 28 km. Meski medannya menantang dan terjal tetapi umat sangat antusias. Banyak umat yang jatuh. Saya pun sempat terjatuh 2 kali,” kenang Romo Fadjar.

Doa bersama usai tanam bibit pisang secara simbolis.

Ia menambahkan bahwa kegiatan kerja bakti itu mendapat tanggapan yang positif baik dari umat Kristen/Katolik maupun Islam. Banyak umat khususnya yang Tionghoa mengaku baru sekali ini melakukan kerja bakti bersama umat agama lain. “Seumur hidup saya baru sekarang ini saya melakukan hal seperti ini,” ujarnya.

Hal positif juga dikemukakan para pemuda Ansor. “Ternyata orang Katolik dan Kristen ifu guyub ya, meski mereka sudah tua tapi melaksanakan kerja bakti penuh ceria,” ucap seorang pemuda anggota Ansor, yang hadir.

Kegiatan Dialog Karya ini ditutup dengan pembacaan do’a oleh Kyai Misnaji dan penanaman secara simbolis 9 bibit pisang ke dalam 9 lubang yang dillakukan oleh Pendeta GKJW, perwakilan PC GP Ansor, perwakilan MWC NU Maron, dan Romo Fadjar Tedjo Soekarno. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here