
JAKARTA, BENANG.ID – Ngopi di kafe sepulang kerja atau membeli skincare merek favorit dulu terasa biasa.
Kini, sebagian orang berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang untuk hal yang masih bisa ditunda.
Fenomena ini ramai dibicarakan di Threads dan X.
Banyak anak muda bercerita beralih ke skincare lokal, mengganti kopi kafe dengan kopi saset, hingga mengurangi pemakaian kendaraan pribadi demi menghemat pengeluaran.
Tren ini dikenal sebagai downgrade lifestyle, yakni menurunkan standar gaya hidup agar sesuai dengan kondisi keuangan.
Lebih selektif berbelanja
Downgrade lifestyle berarti memilah pengeluaran yang benar-benar penting dan yang masih bisa dikurangi.
Contohnya mencoret langganan streaming, mengurangi makan di luar, menunda belanja tak mendesak, dan memilih produk lebih murah.
Perilaku ini berkaitan dengan trading down (beralih ke produk lebih ekonomis) dan selective spending (belanja yang kian selektif).
Data Mandiri Spending Index menunjukkan belanja masyarakat masih tumbuh 6,3 persen secara tahunan pada pekan kedua September 2026.
Namun, itu tidak berarti semua orang leluasa berbelanja.
Kebutuhan pokok tetap dipenuhi, sedangkan hiburan, nongkrong, dan fesyen menjadi pos yang paling mudah dipangkas.
Kelas Menengah Terjepit
Bagi sebagian masyarakat kelas menengah, perubahan ini bukan soal tren hidup sederhana, melainkan ruang keuangan yang menyempit.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai kelompok ini menanggung banyak pengeluaran rutin, mulai dari cicilan rumah, biaya pendidikan anak, hingga kebutuhan sehari-hari.
Kenaikan harga membuat uang lebih cepat habis, sementara kenaikan penghasilan tak selalu sebanding.
Posisi mereka juga serba tanggung.
Penghasilan belum tentu longgar menghadapi keadaan darurat, tetapi belum tentu pula memenuhi kriteria penerima bantuan sosial.
Ancaman PHK dan terbatasnya lapangan kerja formal berpenghasilan layak membuat mereka makin berhati-hati.
Dampak ke Perekonomian
Jika dilakukan banyak rumah tangga, penghematan ini bisa merembet ke ekonomi.
Direktur Next Policy Yusuf Wibisono menyoroti turunnya jumlah penduduk kelas menengah, dari 60,8 juta orang pada 2018 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.
Restoran, pusat perbelanjaan, dan industri fesyen berpotensi merasakan konsumen yang makin sensitif terhadap harga.
Karena itu, persoalan daya beli tak cukup diatasi dengan mengajak masyarakat berhemat.
Ketersediaan pekerjaan formal berpenghasilan layak, peningkatan produktivitas, dan penguatan industri juga penting.
Pilihan atau Keterpaksaan?
Beralih ke produk lokal terjangkau atau ngopi di warung dekat rumah bisa menjadi cara tetap menikmati hidup tanpa menguras dompet, sekaligus membuka peluang bagi usaha lokal.
Namun, ada beda antara berhemat karena pilihan dan karena terpaksa.
Orang yang sengaja menekan konsumsi untuk menabung tidak sama dengan mereka yang memangkas pengeluaran karena penghasilan tak lagi cukup.
Pada akhirnya, hidup hemat membantu menjaga isi dompet.
Tetapi masyarakat tetap butuh penghasilan memadai agar secangkir kopi atau makan di luar tak selalu berujung pada perhitungan panjang. (*)

