Friday, October 7, 2022
No menu items!
spot_img
HomeInternasionalKirab Budaya sampai Ruwatan Bumi, Rangkaian Agenda Pertemuan G20 Kebudayaan

Kirab Budaya sampai Ruwatan Bumi, Rangkaian Agenda Pertemuan G20 Kebudayaan

Magelang, benang.id –  Rangkaian agenda kebudayaan seperti Kirab Budaya dan Rapat Raksasa bertajuk “Nyawiji Nunggal Rasa” dan  G20 Orchestra, hingga diakhiri dengan Ruwatan Bumi di Kawasan Candi Borobudur mewarnai Pertemuan Tingkat Menteri Kebudayaan G20 atau G20 Culture Ministers Meeting (CMM) di Magelang, Jawa Tengah, pada 11—12 September 2022.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid dalam keterangan pers mengungkapkan bahwa Kirab Budaya melibatkan masyarakat desa di sekitar Candi Borobudur yang melakukan arak-arakan dengan berjalan dari Candi Pawon hingga Candi Borobudur. Jumlah peserta mencapai 2.000 orang yang berasal dari 20 desa di Kecamatan Borobudur.

“Kirab akan sampai di Taman Lumbini lalu dilanjutkan dengan Rapat Raksasa karena aspirasi para pemangku kepentingan di bidang kebudayaan luar biasa banyaknya. Nanti akan ada rapat dan pembicara dari komunitas budaya yang akan dikonsolidasi dalam suatu pernyataan kemudian akan disampaikan kepada menteri,” ujar Hilmar dalam Temu Media di Yogyakarta, Minggu (11/9) kemarin.

Kirab Budaya dan Rapat Raksasa terdiri dari empat segmen kegiatan, yakni Ritus ‘Bangun Tuwuh’ di Candi Pawon, Kirab Budaya ‘Mulih Pulih’ dari Candi Pawon menuju Candi Borobudur, Rapat Raksasa ‘Nyawiji’ di Taman Lumbini Candi Borobudur, dan Parade Seni ‘Golong Gilig’.

Kirab Massal

Kirab Budaya ‘Mulih Pulih’ adalah gerak kirab masal yang melibatkan 2.000 warga desa yang bergerak dari Candi Pawon ke Lapangan Lumbini, Borobudur, pada Senin (12/9)). Kirab ini merupakan gerak menari warga yang ditata secara koreografis menurut gagasan dan tradisi masing-masing desa namun dalam harmoni yang sama dengan menampilkan karya-karya instalasi fauna Borobudur dan karya-karya limbah dan tetumbuhan yang menemani gerak kirab. Semua itu merupakan gambaran semangat masyarakat untuk bergerak bersama membangun masa depan yang cerah dan berkelanjutan.

Dalam rangkaian G20 CMM, dilakukan juga seremoni penanaman pohon oleh para menteri kebudayaan dari negara anggota G20. Selain itu, satu hal yang menarik dan membedakan Presidensi Indonesia dalam G20 adalah dibentuknya G20 Orchestra. “G20 Orchestra ini khusus dibentuk pertama kali, belum pernah ada di platform G20 sebelumnya. Anggota orkestranya dari negara-negara G20, dipimpin oleh Ananda Sukarlan dan disiarkan secara langsung di Indonesiana TV,” ujar Hilmar.

Kemudian pada 13 September 2022 akan berlangsung Pertemuan Tingkat Menteri Kebudayaan G20 dan beberapa kegiatan bilateral meeting untuk membahas kerja sama di bidang kebudayaan. Setelah itu, Kemendikbduristek juga telah merencanakan penandatanganan prasasti yang mencantumkan nama-nama pemimpin dan pekerja yang berkontribusi dalam restorasi atau pemugaran Candi Borobudur. (*)

 “Akan ada 150 nama, dan mereka yang saat ini masih ada dan akan diundang untuk bertemu dengan Mendikbudristek,” ujar Hilmar.

Rangkaian kegiatan kebudayaan dalam G20 CMM akan ditutup dengan kegiatan Ruwatan Bumi. Menurut Hilmar, Ruwatan Bumi penting untuk dilakukan terkait dengan pentingnya sumber daya di bidang kebudayaan yang membutuhkan sebuah praktik budaya. “Kita menghadirkan masyarakat adat untuk sama-sama melakukan prosesi mendoakan bumi agar tetap lestari,” tuturnya.

Ia menambahkan, Ruwatan Bumi merupakan puncak dari prosesi kebudayaan sudah berjalan, yaitu Ruwatan Nusantara, di mana komunitas masyarakat adat di daerah masing-masing melakukan kegiatan ruwatan masing-masing dengan bentuk yang berbeda-beda sebagai bentuk rasa syukur dan mendoakan bumi agar tetap lestari.

“Ruwatan Bumi tanggal 13 September nanti mempertemukan semua kegiatan ruwatan dalam satu acara yang akan berlangsung sekitar 1,5 jam dan tidak secara utuh mengambil salah satu bentuk, tapi  menggabungkan semuanya. Jadi masing-masing akan menampilkan secara singkat , misalnya doa dan nyanyian. Akan ada empat pemimpin adat yang akan memimpin semua prosesi secara keseluruhan,” ujar Hilmar.

Ritual Ruwatan Bumi akan dikemas dalam bentuk pertunjukan karena ruwatan ditujukan bersifat terbuka dan tidak ekslusif, melainkan untuk semua orang di seluruh dunia, sebagai persembahan Indonesia untuk dunia. (*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments