
Seiring dengan penyusunan strategi bioekonomi nasional, sebuah laporan baru menyoroti potensi biosolusi dalam mendorong kemajuan di berbagai bidang prioritas Indonesia, mulai dari ketahanan pangan dan diversifikasi energi hingga transformasi industri serta pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029
Jakarta, benang.id — Sebuah laporan baru menyebutkan bahwa di tengah upaya Indonesia meletakkan fondasi menuju Indonesia Emas 2045, biosolusi berpotensi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan transformasi industry.
Diterbitkan saat pemerintah menjalankan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 dan Kementerian PPN/Bappenas menyusun peta jalan bioekonomi nasional Indonesia, laporan Nilai Biosolusi: Pertumbuhan dan Kemakmuran – Edisi Indonesia (The Value of Biosolutions: Growth and Prosperity – Indonesia Edition) menyoroti bagaimana kekayaan sumber daya hayati Indonesia dan agenda pembangunan yang ambisius dapat menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemimpin bioekonomi di Asia Tenggara pada masa mendatang.
Laporan tersebut memperkirakan bahwa sektor biosolusi di Indonesia berpotensi menghasilkan nilai ekonomi sebesar US$2,23 miliar pada 2035, sementara jumlah lapangan kerja yang tercipta diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat dalam periode yang sama. Nilai tersebut setara dengan lebih dari dua kali nilai ekspor kopi Indonesia saat ini sebagai salah satu komoditas pertanian Indonesia yang paling dikenal.
Setiap lapangan kerja baru di sektor biosolusi juga diperkirakan dapat mendukung penciptaan 3,8 lapangan kerja tambahan di sektor-sektor ekonomi lainnya, terutama di bidang pertanian dan sistem pangan. Efek berganda ini hampir 60% lebih tinggi daripada rata-rata global. Temuan tersebut menegaskan bahwa biosolusi, khususnya di Indonesia, dapat memperkuat rantai pasok lokal dan menciptakan nilai ekonomi yang jauh melampaui sektor itu sendiri.

Temuan laporan menunjukkan bahwa biosolusi berpotensi mempercepat pencapaian berbagai prioritas pembangunan utama Indonesia, mulai dari ketahanan pangan, diversifikasi energi, dan transformasi industri hingga penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, penerapan prinsip ekonomi sirkular, dan penguatan ketahanan jangka panjang.
Studi ini juga menghadirkan bukti baru untuk mendukung perumusan kebijakan dan kolaborasi seiring dengan upaya Indonesia mengembangkan bioekonomi nasional.
“Biosolusi merupakan peluang penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya hayatinya guna mendukung kemakmuran ekonomi, pelestarian lingkungan, dan ketahanan nasional,” ujar Leonardo AA Teguh Sambodo, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup di Kementerian PPN/Bappenas.
“Seiring dengan pengembangan strategi bioekonomi Indonesia, kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan mitra pembangunan akan menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi ini,” imbuhnya.

“Di berbagai belahan dunia, biosolusi membantu negara-negara menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit, memperkuat ketahanan pangan dan energi, mengurangi emisi, serta membangun industri yang lebih tangguh,” ujar Yonny Setiady, Country Manager Indonesia, Novonesis.
“Indonesia memiliki sumber daya dan ambisi untuk menjadi pemimpin bioekonomi di Asia Tenggara. Laporan ini menunjukkan bagaimana biosolusi, dengan dukungan kebijakan yang tepat, dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja berkualitas tinggi, dan mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.”
Laporan tersebut juga menyoroti pentingnya kolaborasi internasional dan pertukaran pengetahuan dalam mendukung perkembangan bioekonomi Indonesia. Pengalaman Denmark dapat memberikan wawasan berharga bagi Indonesia dalam menyusun strategi bioekonomi nasional.

“Denmark telah melihat bagaimana inovasi berbasis hayati dapat menciptakan nilai ekonomi nyata. Selama puluhan tahun, perusahaan dan lembaga penelitian Denmark telah mengembangkan teknologi di bidang enzim, fermentasi, dan bioteknologi yang mendukung pertumbuhan industri sekaligus berkontribusi pada transisi hijau kami. Seiring dengan penyusunan strategi bioekonomi nasional Indonesia, terdapat peluang besar untuk menyatukan berbagai elemen ini dan memastikan bahwa biosolusi menjadi bagian dari pembangunan ekonomi jangka panjang negara,” ujar Yang Mulia Sten Frimodt Nielsen, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Timor-Leste, Papua Nugini dan ASEAN.
Laporan Nilai Biosolusi (The Value of Biosolutions) diluncurkan hari ini di Jakarta. Para pembuat kebijakan, pemimpin industri, peneliti, dan mitra pembangunan berkumpul untuk membahas peran biosolusi dalam mendukung ambisi Indonesia di bidang ekonomi, industri, dan keberlanjutan. Acara ini diselenggarakan bersama oleh Kementerian PPN/Bappenas, Novonesis, dan Kedutaan Besar Denmark di Indonesia. (*/GK)

