Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Ini Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental

0
Novo Indonesia meluncurkan kampanye Hidup Lebih Ringan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks.

Novo Indonesia luncurkan kampanye “Hidup Lebih Ringan” untuk mendorong pengelolaan obesitas demi kesehatan dan kualitas hidup – melampaui fokus pada angka timbangan semata

Jakarta, benang.id – Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks serta pentingnya pengelolaan yang memperhatikan kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup, Novo Indonesia meluncurkan kampanye Hidup Lebih Ringan, yang dirangkai dengan diskusi media Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental, yang menghadirkan para pakar untuk membahas hubungan keduanya dan pentingnya dukungan profesional yang empatik serta bebas stigma.

Kampanye Hidup Lebih Ringan hadir untuk memperluas pemahaman masyarakat bahwa keberhasilan pengelolaan obesitas tidak hanya diukur dari angka di timbangan, tetapi juga dari peningkatan kesehatan dan kualitas hidup secara menyeluruh.

Inggita Sistha Widyawan, Associate Director, Customer Engagement, Novo Indonesia, memaparkan kampanye “Hidup Lebih Ringan” yang diluncurkan oleh Novo Indonesia

Melalui kampanye ini, Novo mengajak masyarakat untuk melihat obesitas dari kacamata medis yang lebih utuh—mengurangi stigma, mendorong percakapan terbuka dengan tenaga kesehatan, dan mendukung penanganan yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu.

“Melalui Hidup Lebih Ringan, kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa perjalanan mengelola obesitas bukan semata tentang menurunkan berat badan, melainkan tentang meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup secara berkelanjutan. Yang ingin kami ringankan bukan hanya berat badan, tetapi juga beban untuk menjalaninya sendirian. Kami berharap orang dengan obesitas merasa lebih didukung, tidak dihakimi, dan terdorong mencari informasi serta bantuan medis yang tepat,” ujar Inggita Sistha Widyawan, Associate Director, Customer Engagement, Novo Indonesia.

Obesitas dan Kesehatan Mental: Hubungan yang Kerap Terabaikan

dr Putri Nugraheni SpKJ, dokter spesialis kedokteran jiwa, menjelaskan hubungan dua arah antara obesitas dan kesehatan mental yang berbeda-beda pada setiap individu, serta dampak dari stigma dan diskriminasi berat badan yang turut menambah beban psikologis.

Obesitas memang bukan sekadar persoalan angka di timbangan. Sebagai penyakit kronis yang kompleks, obesitas memiliki hubungan dua arah dengan kesehatan mental. Sebuah meta-analisis terhadap 15 studi jangka panjang yang melibatkan sekitar 58.000 peserta menemukan bahwa orang dengan obesitas memiliki kemungkinan 55% lebih tinggi untuk mengalami depresi seiring waktu. Sebaliknya, orang dengan depresi memiliki kemungkinan 58% lebih tinggi untuk mengalami obesitas.

Namun, meski hubungan ini nyata, banyak orang dengan obesitas yang belum mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Studi ACTION APAC Indonesia menunjukkan bahwa hanya 30% responden dengan obesitas pernah mendiskusikan berat badan mereka dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir. Anggapan bahwa penurunan berat badan adalah tanggung jawab pribadi—yang disebutkan oleh 43% responden—menjadi salah satu hambatan utama untuk memulai percakapan tersebut.

Stigma terhadap berat badan turut menambah beban psikologis. Diskriminasi dan komentar negatif mengenai bentuk tubuh dapat memengaruhi kesejahteraan emosional, bahkan membuat seseorang enggan mencari pertolongan medis.

“Hubungan obesitas dan kesehatan mental berjalan dua arah dan berbeda pada setiap individu. Orang dengan obesitas dapat menghadapi stigma, tekanan psikologis, dan pengalaman sosial yang memengaruhi kesejahteraannya. Sebaliknya, kondisi kesehatan mental tertentu juga dapat memengaruhi pola tidur, aktivitas, nafsu makan, dan perilaku sehari-hari.Setiap orang dengan obesitas memiliki pengalaman yang berbeda. Kondisi tubuh seseorang tidak dapat digunakan untuk menilai kesehatan mental, karakter, maupun kualitas dirinya. Hindari asumsi, pahami setiap individu secara utuh.,” ujar dr Putri Nugraheni SpKJ, dokter spesialis kedokteran jiwa.

Memahami peran otak dan respons biologis tubuh

dr Christopher Andrian MGizi SpGK, dokter spesialis gizi klinik, menjelaskan aspek biologis yang turut memengaruhi pengelolaan berat badan, di mana otak turut berperan dalam mengatur perilaku makan melalui berbagai sistem yang saling berhubungan.

Selain aspek psikologis dan sosial, mekanisme biologis turut memengaruhi pengelolaan berat badan. dr Christopher Andrian MGizi SpGK, dokter spesialis gizi klinik, menjelaskan bahwa otak mengatur perilaku makan melalui berbagai sistem yang saling berhubungan, termasuk pengaturan rasa lapar dan kenyang, respons terhadap kenikmatan makanan, serta pengambilan keputusan.

“Obesitas tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan kurang disiplin. Tubuh memiliki sistem biologis yang mengatur rasa lapar, kenyang, dan penggunaan energi. Bahkan setelah berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar sehingga mempertahankan hasil menjadi lebih menantang. Itu sebabnya pengelolaan obesitas membutuhkan strategi jangka panjang yang disesuaikan dengan kondisi setiap individu,” jelas dr Christopher.

Dokter Christopher menambahkan, pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi penanganan. Untuk sebagian orang, dokter dapat mempertimbangkan dukungan tambahan, seperti dukungan psikologis dan perilaku, terapi obat, atau bedah bariatrik, sesuai kondisi klinis.7 Salah satu terapi obat yang tersedia adalah terapi glucagon-like peptide-1 agonist (GLP-1 RA). Terapi ini bekerja menyerupai hormon alami pemberi sinyal kenyang, sehingga membantu mengurangi rasa lapar. Terapi ini termasuk obat keras: penggunaannya harus dengan resep dan pemantauan dokter, dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, dan kemungkinan efek samping, terutama keluhan pencernaan.

NovoCare.id, Langkah Awal Mendukung Pengelolaan Obesitas

dr Riyanny M Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, menyampaikan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap obesitas secara menyeluruh serta keberanian untuk mencari bantuan dari tenaga kesehatan profesional.

Sebagai perusahaan kesehatan global dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di Indonesia, Novo berkomitmen untuk menghadirkan inovasi dan edukasi yang mendukung penanganan penyakit kronis, termasuk obesitas. Untuk mendukung masyarakat dalam memulai langkah yang tepat, Novo menyediakan platform edukasi NovoCare.id sebagai sumber informasi tervalidasi tentang obesitas, termasuk kalkulator BMI dan akses untuk menemukan dokter spesialis, baik secara daring maupun tatap muka.

“Kami ingin mendorong masyarakat untuk memahami obesitas secara lebih menyeluruh dan tidak ragu mencari bantuan tenaga kesehatan profesional. Langkah awal dapat dimulai dengan berdiskusi bersama dokter mengenai kondisi kesehatan dan pilihan penanganan yang sesuai. Melalui NovoCare.id, masyarakat juga dapat mengakses informasi seputar obesitas dan menemukan dukungan untuk mengambil langkah yang tepat dalam menjaga kesehatan,” jelas dr Riyanny M Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here