Lewat Gerakan Paroki Hijau, Kevikepan Yogyakarta-UAJY Ajak Masyarakat Terlibat di Tengah Krisis Ekologi

0
Kevikepan Yogyakarta Timur, Kevikepan Yogyakarta Barat, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menggelar Talkshow Gerakan Paroki Hijau di Auditorium Kampus 3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Sabtu (16/5/2026)

Yogyakarta, benang.id — Kevikepan Yogyakarta Timur, Kevikepan Yogyakarta Barat, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menggelar Talkshow Gerakan Paroki Hijau di Auditorium Kampus 3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Sabtu (16/5/2026), sebagai upaya kepedulian terhadap lingkungan hidup dan semangat merawat bumi sebagai rumah bersama.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 170 peserta dari hampir seluruh paroki di Yogyakarta. Hadir pula perwakilan mahasiswa dari Universitas Sanata Dharma, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, serta perwakilan Wisma Mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh perwakilan FMKI, PMKRI, dan WKRI.

Talkshow Gerakan Paroki Hijau yang mempertemukan berbagai komunitas lintas paroki dan organisasi ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Drs P Kianto Atmodjo MSi, Fransisca Supriyani Wulandari SPd, dan Dr Bernadus Wibowo Suliantoro MHum. Ketiganya mengajak umat untuk memaknai ensiklik Laudato Si’ dan Laudate Deum sebagai panggilan iman untuk menjaga ciptaan.

Pada awal kegiatan, Rm AR Yudono Suwondo Pr memberikan pengantar sekaligus menegaskan pentingnya gerakan ekologis Gereja di tengah situasi krisis lingkungan saat ini. Beliau mengapresiasi lahirnya Gerakan Paroki Hijau sebagai langkah nyata membangun kesadaran umat untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Gerakan ini berawal dari Seruan Pastoral Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur dan Kevikepan Yogyakarta Barat yang dikeluarkan pada 27 Januari 2026 dan dibacakan di seluruh gereja di Yogyakarta pada awal Februari 2026. Setelah seruan pastoral tersebut, langkah berikutnya adalah membangun konsientisasi umat melalui talkshow ini.

Ke depan, gerakan ini direncanakan tidak berhenti pada sosialisasi semata, tetapi akan dilanjutkan melalui pendampingan berkelanjutan di paroki-paroki. Program Paroki Hijau juga akan menjadi bagian dari proses pengecekan dalam program Supervisi Paroki.

Dalam pengantarnya, Rm Martinus Joko Lelono Pr menegaskan bahwa Gereja perlu hadir secara nyata dalam menjawab krisis ekologis yang semakin dirasakan masyarakat. Persoalan sampah, kerusakan lingkungan, dan pola hidup konsumtif tidak hanya menjadi masalah sosial, tetapi juga persoalan moral dan spiritual.

Kianto Atmodjo menjelaskan bahwa manusia dipanggil untuk membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Ia menekankan pentingnya pertobatan ekologis melalui langkah-langkah sederhana di lingkungan paroki, seperti homili ekologis, pengurangan penggunaan plastik, pengolahan sampah organik, serta liturgi yang ramah lingkungan.

Sementara itu, Fransisca Supriyani Wulandari membagikan pengalaman Paroki Maria Marganingsih Kalasan dalam membangun gerakan Paroki Hijau. Berbagai program dilakukan mulai dari pengolahan sampah, penghijauan, pemanfaatan lahan kosong untuk pangan, hingga pembentukan kader lingkungan tangguh. Ia juga memperkenalkan konsep tiga Ah, yaitu cegah, pilah, dan olah sampah sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan umat dalam menjaga lingkungan.

Dalam sesi berikutnya, Dr Bernadus Wibowo Suliantoro mengajak peserta melihat persoalan sampah sebagai persoalan moral manusia terhadap alam. Ia menyoroti kondisi darurat sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan mengingatkan pentingnya solidaritas sosial serta kepedulian terhadap kelompok kecil yang paling terdampak kerusakan lingkungan.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat dengan berbagai pengalaman dan tantangan dari peserta paroki, mulai dari pengolahan sampah residu, limbah plastik, hingga upaya membangun gerakan ekologis yang berkelanjutan di tingkat kevikepan. Peserta juga menekankan pentingnya kerja sama lintas komunitas dan dukungan Gereja agar gerakan Paroki Hijau tidak berhenti sebagai wacana.

Pada penutupan kegiatan, Rm Yudono Suwondo kembali menegaskan pentingnya kerja sama lintas paroki dan komunitas untuk membangun budaya ekologis yang berakar pada iman. Ia berharap semangat Laudato Si’ tidak berhenti sebagai wacana, tetapi sungguh menjadi gerakan nyata yang hidup dalam keseharian umat.

Melalui talkshow ini, semangat Laudato Si’ diharapkan semakin membumi dalam kehidupan Gereja dan berkembang menjadi gerakan bersama untuk membangun budaya hidup yang lebih sederhana, peduli, dan bertanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here