Jakarta, benang.id – Untuk ke sekian kalinya, tokoh pelestari budaya dan wastra Nusantara GKBRAA Paku Alam X kembali meluncurkan karya adiluhung Pakualaman. Yakni, Puspawicitra yang meliputi batik, dan tari beserta musik gending pengiringnya.
“Batik Puswawicitra merupakan simbol keberagaman dalam sehelai kain. Melalui batik ini kita diingatkan bahwa perbedaan bukanlah pemecah belah melainkan sebuah anugerah yang patut disyukuri. Keindahan Puspawicitra diwujudkan melalui ornamen yang sangat kaya akan makna simbolik. Ada gambar sawah, aneka bunga, serta daun puring, dan lainnya,” jelas GKBRAA Paku Alam X dalam pembukaan Puspa Nuswantara 2026, Rabu (8/7/2026), di JICC, Jakarta.

Pameran batik bertema “Rupa Makna Tambal Nusantara” dengan tagline “Asli Batiknya, Asli Perajinnya, dan Asli Harganya”, diselenggarakan oleh Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) di Hall A Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, pada 8–12 Juli 2026.
Hadir juga memberikan sambutan Ketua APPBI Komarudin Kudiya, dan menyampaikan Opening Speech Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita, serta Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebubayaan (PMK) Pratikno.


“Setelah seratusan karya saya diam, akhirnya saya kembali menciptakan karya terbaru, Batik Puspawicitra yang terinspirasi dari Ketawang Puspawarna yakni musik gamelan yang selalu diperdengarkan saat seorang raja hadir di suatu acara,” jelasnya.
Gusti Ayu Paku Alam kemudian mengungkapkan, sejak Jumeneng Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X di Bangsal Sewatama Puro Pakualaman pada 7 Januari 2016, KGPAA Paku Alam X bertekad menjadi pengemban kemajuan kebudayaan dan kesenian. Khususnya batik dengan mengangkat gambar naskah-naskah kuno dari Pakualaman menjadi prioritas untuk dikembangkan.

Sejak tahun 2011 batik naskah Pakualaman mulai dikenalkan kepada seluruh pecinta batik dan perkembangannya terus menggembirakan. Batik Pakualaman tidak hanya terbatas pada inspirasi naskah tetapi juga meliputi inspirasi berbagai tradisi Jawa yang tumbuh di lingkungan Istana.
Sampai saat ini motif batik Pakualaman sudah mencapai dari seratus motif. Dan batik Puspawicitra merupakan motif yang ke 193 dalam seri batik Pakualaman. “Hal ini menunjukkan bahwa kami di Puro Pakualaman tetap berkreasi untuk memajukan budaya Puro Pakualaman dalam ranah budaya Yogyakarta,” jelasnya.

Dengan demikian Kadipaten Pakualaman tidak hanya berdiri sebagai penjaga tradisi melainkan juga sebuah ruang hidup tempat kebudayaan bisa terus tumbuh dinamis.
Selain Batik Puspawicitra, Gusti Ayu Paku Alam juga meluncurkan tarian dengan komposisi gendingnya, yaitu Tari Puspawicitra yang diperagakan oleh penari putra dan putri. Tarian ini, jelasnya, memadukan kelembutan dan ketegasan dalam jalinan gerak yang dinamis. “Tarian ini mengajak penonton untuk memahami bahwa keberagaman sebagaimana motif aneka bunga dalam motif batik Puspawicitra sungguh luar biasa indahnya,” imbuhnya.

Demikian pula dengan musk iringan tari, yang merupakan gabungan tiga pilar yakni estetika cosmis yang halus dan formal, unsur kerakyatan yang dinamis, serta sentuhan modern yang adaptif.
Gusti Ayu Paku Alam menandaskan bahwa Puspawicitra yang terwujud dalam seni batik, tari, dan musik ini menjadi representasi visual dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
“Segenap karya ini terwujud atas kerja sama yang tulus para abdi dalem, dan pengajar Kadipaten Pakualaman Yogyakarta. Terima kasih atas upaya dan semangat yang melandasi terciptanya Puspawicitra,” tuturnya.
Tambal Nusantara

Dalam keynote speech-nya, Menko PMK Pratikno memahami bahwa perajin batik menghadapi tantangan yang tidak mudah. Karena itu ia memaknai tema pameran batik Tambal Nusantara dengan suatu usaha bersama. “Mari bersama-sama kita tambal yang terkoyak, kita rekatkan yang terpisah, dan kita kuatkan yang lemah,” ujarnya.
Pratikno mengakui bahwa batik sebagai warisan leluhur menghadapi tantangan yang berat. Oleh karena itu batik harus kita jaga bersama sebagai warisan budaya sekaligus kekuatan ekonomi bangsa.

Pratikno juga mengapresiasi tagline pameran “Asli Batiknya, Asli Perajinnya, dan Asli Harganya”. Hal ini sangat penting karena teknoologi automasi semakin meningkat, bukan hanya robotik tetapi juga AI yang bahkan juga bisa menciptakan motif batik.
“Ini sebuah tantangan yang luar biasa yang harus kita waspadai dan harus bersama-sama kita jaga, kita dukung, kita perkuat yang lemah, kita sambungkan yang tidak tersambung, kita tambal yang terpisah sehingga batik tetap bertahan bahkan semakin kuat, dan perajin semakin sejahtera,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Menko PMK juga mengapresiasi karya batik, tari, dan musik terbaru GKBRAA Paku Alam, Puspawicitra. “Ini bukti bahwa tradisi dan inovasi terus bertumbuh. Kita harus jaga warisan budaya bangsa. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian, kita harus kerja bersama. Kami membawahi beberapa Kementerian ternasuk Kebudayaan, tapi itu tidak cukup masih ada kementeriian Perindustrian dan Kementerian UMKM, dan pihak mana saja hasus bisa mendukung,” ujarnya.
Dalam acara pembukaan Puspa Nuswantara 2026 ini, juga diumumkan para pemenang APPBI Award. Yakni: Yayasan Batik Jawa Barat meraih penghargaan Indikasi Geografis Batik Terbanyak, Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur (Organisasi Perajin Batik Daerah Terbesar), Provinsi Jawa Tengah (Pelestari Jumlah Perajin Seni Batik Terbanyak), Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagat Yogyakarta (Organisasi Batik Se-Indonesia), Yayasan Batik Indonesia (YBI)) meraih penghargaan Yayasan yang Konsisten Melakukan Pendampingan terhadap Batik Indonesia, serta GKBRAA Paku Alam X menerima penghargaan sebagai Pemberi Dukungan, Bimbingan, dan Perlindungan atas Lahirnya Pagelaran Puspa Nuswantara 2026.

Ikut memeriahkan fashion show kain batik tulis karya GKBRAA Paku Alam X oleh ibu-ibu YBI. (*/GK)
Foto-foto: benang.id/Gora Kunjana


