
Oleh: RP Paulus Halek Bere SSCC *)
Konsep jembatan dalam Kitab Suci merujuk pada peran teks suci sebagai penghubung antara manusia dengan Tuhan, serta antar sesama dalam keragaman budaya dan keyakinan. Kitab suci menjadi jembatan spiritual yang membawa nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, keadilan, dan mendorong pemahaman bersama dalam masyarakat multikultural.
Dengan ajaran universalnya, kitab suci memfasilitasi dialog lintas agama dan membangun jembatan empati serta saling menghargai. Konsili Vatikan II menyebut Gereja sebagai tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah serta kesatuan seluruh umat manusia (LG, no. 1). Karena itu, Gereja tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Gereja dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Kristus yang mempersatukan dan mendamaikan.
Dari sinilah kita menggunakan gambaran Gereja sebagai jembatan dan pembangun jembatan. Menjadi jembatan berarti menghadirkan ruang perjumpaan dalam kasih, kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Menjadi jembatan berarti membantu orang-orang yang berjauhan untuk saling melihat, saling mendengarkan, dan berjalan bersama. Gereja dapat menjadi jembatan sejauh Gereja tinggal dalam Kristus, Sang Jembatan yang hidup antara Allah dan manusia.
Dalam kacamata ini, saya hendak merefleksikan figur Pastor Rolf, SSCC sebagai jembatan dan pembangun jembatan kasih dalam karya pastoralnya.
Gambaran tentang jembatan bukan sekadar metafora pastoral yang menarik. Dasarnya adalah iman akan Kristus. Kristus sendiri adalah Jembatan yang hidup: antara surga dan bumi; antara Allah dan manusia; antara manusia yang terpisah oleh dosa, permusuhan, dan berbagai tembok kehidupan; dan antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok yang berbeda. Kristus adalah satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia.
Dalam diri-Nya, Allah datang mendekati manusia dan manusia dibawa masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Karena itu, Gereja menjadi jembatan hanya sejauh Gereja tinggal dalam Kristus dan mengambil bagian dalam karya pendamaian-Nya. Gereja bukan sumber keselamatan yang berdiri sendiri. Gereja menerima tugas untuk menjadi tanda dan sarana karya Kristus di tengah dunia.

Dalam ketekunan doa dan kerendahan hati, Pastor Rolf, SSCC menghadirkan diri sebagai jembatan. Dia memaknai bahwa membangun jembatan spiritual bukan pertama-tama persoalan keterampilan komunikasi atau teknik menyelesaikan konflik. Semua keterampilan itu penting, tetapi belum cukup. Jembatan yang sejati lahir dari: pertobatan hati; kerendahan hati; kesediaan untuk mendengarkan; keberanian mengakui kesalahan; kesabaran dalam membangun kepercayaan; dan kasih yang tidak mudah menyerah.
Pastor Rolf SSCC adalah figur yang telah menjadi jembatan kasih Allah dalam pelayanan pastoralnya. Dia menghayati komitmen hidup dalam seruan hati: Tuhan, jadikanlah hidupku jembatan kasih yang menghubungkan mereka yang terpisah. Beri aku keberanian untuk menjangkau lebih dulu, kerendahan hati untuk tidak mencari pujian, dan belas kasih untuk hadir di tengah penderitaan sesama.
Pastor Rolf SSCC adalah pribadi yang sedikit bicara tetapi banyak bekerja dan turun tangan. Kutipan “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia” (Flp. 4:13) bukan hanya diucapkan, melainkan dihidupi. Ia meneguhkan banyak orang dalam berdoa, khususnya adorasi reparatif dan keheningan sebagai kekuatan pelayanan. Kekudusan tampak dalam doa yang tak kenal lelah dan perjumpaan singkat yang berbuah. Ia digambarkan sebagai api yang menyalakan api, menemukan bakal talenta pada orang lain, dan berjuang dalam kasih.
Sebuah jembatan berdiri tegak justru karena ada dua tepi yang berbeda, dipisahkan oleh jurang. Perbedaan bukan ancaman, melainkan alasan jembatan itu ada. Hidup yang membangun jembatan kasih berarti belajar melihat perbedaan suku, budaya, keyakinan, dan latar belakang sebagai kekayaan yang saling melengkapi bukan tembok yang memisahkan. Jembatan tidak memilih siapa yang melintasinya: orang kuat maupun lemah, senang maupun sedih. Kasih yang sejati hadir di tengah penderitaan sesama, mendengarkan yang sunyi, mengangkat yang jatuh, dan menemani yang tersingkir.
Berbelarasa adalah bentuk nyata jembatan itu: kasih yang menyentuh luka orang lain tanpa menghakimi. Pastor Rolf SSCC hadir di tengah umat untuk melihat, merasakan dan mencari solusi atas situasi persoalan hidup yang dialami oleh umat.
Jembatan yang baik bertahan melampaui pembangunnya. Nilai hidup yang membangun jembatan kasih diwariskan melalui kesaksian, keteladanan, dan karya yang terus berbuah. Yang ditinggalkan bukan hanya nama, melainkan jalan yang tetap bisa dilalui orang lain. Tidak ada jembatan yang menjadi pusat perhatian saat orang melintasinya. Demikian pula pelayanan yang tulus tidak mencari pujian, tetapi memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh dan bertemu satu dengan yang lain. Kerendahan hati membuat seseorang menjadi penghubung, bukan penghalang.
Dalam karya pastoralnya, Pastor Rolf SSCC tidak memikirkan pujian untuk dirinya. Perjumpaan yang meskipun singkat bersama beliau mengabadikan memori pancaran wajah Allah yang sejati. Ketulusan pelayanannya adalah untuk keselamatan banyak jiwa dan kesejahteraan bersama semua ciptaan.

Pastor Rolf SSCC menjadikan dirinya sebagai jembatan yang menghubungkan keterpisahan manusia. Jembatan selalu dibangun di atas sesuatu yang terputus. Ia hadir di tengah keluarga yang terluka lama, namun yang belum dibicarakan dan tersapa dan di komunitas kelompok yang tersisih. Kita lebih mudah mengukur kasih dari niat kita daripada dari perasaan orang yang menerimanya. Padahal jembatan dinilai bukan dari ketangguhan bahannya saja, melainkan dari apakah orang benar-benar berani melintas di atasnya. Jembatan sejati bukan hanya menerima orang yang sepaham atau menyenangkan kita.
Di tengah kecurigaan, prasangka, dan kesalahpahaman, Pastor Rolf SSCC terpanggil untuk membangun jembatan kepercayaan. Jembatan ini dibangun melalui: kesediaan berbicara dengan jujur; kesediaan mendengarkan tanpa terburu-buru membela diri; penghormatan terhadap pengalaman orang lain; keterbukaan untuk mengakui kesalahan; dan kesetiaan menepati janji-janji kecil. Saat kekerasan, konflik, dan perpecahan memecah komunitas, dia tergerak hati untuk menjadi pembawa damai. Perdamaian bukan berarti menutupi masalah atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Perdamaian dibangun dengan menghadapi kebenaran, mendengarkan semua pihak, memulihkan keadilan, dan membuka jalan menuju pengampunan serta rekonsiliasi.
Di tengah kemiskinan, kerentanan, kesepian, dan keterpinggiran, dia tersentuh untuk membangun jembatan belarasa. Belarasa berarti melihat, mendekati, mendengarkan, dan menemani. Belarasa tidak berhenti pada rasa iba. Belarasa mendorong kita untuk memperjuangkan martabat dan hak setiap orang. Ia dipanggil untuk melihat Kristus dalam diri saudara-saudari yang miskin, sakit, lanjut usia, tersisih, terluka, atau tidak lagi memiliki suara. Pastor Rolf SSCC menaruh perhatian dan visi bagi generasi muda.
Ketika kaum muda, banyak di antara mereka sedang mencari makna, arah, dan tempat untuk menemukan jati diri, Pastor Rolf SSCC hadir sebagai figur seorang bapak sekaligus ibu. Ia hadir memancarkan kasih Allah bagi generasi muda untuk menemukan kehendak Tuhan bagi hidupnya. Hal ini terdengar dari kesaksian banyak kaum muda yang mengadakan retret panggilan bersamanya. Pastor Rolf SSCC hadir membangun jembatan harapan dengan: mendengarkan pertanyaan dan kegelisahan kaum muda; memberi ruang bagi mereka untuk mengungkapkan suara hati; menghargai karunia dan kreativitas mereka; menemani mereka tanpa menghakimi; menghubungkan iman dengan kehidupan nyata; dan membantu mereka menemukan panggilan dan tanggung jawab dalam Gereja serta masyarakat.
Pastor Rolf SSCC, dalam karya pastoralnya telah membangun jembatan dialog dan kepercayaan, jembatan perdamaian, jembatan belarasa, dan jembatan harapan bagi setiap generasi,khususnya kaum muda. Setiap jembatan dibangun bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain yang akan melintasinya. Begitu pula hidup dan karya Pastor Rolf SSCC yang dijiwai kasih. Kasih tidak menunggu pihak lain layak dijangkau; ia bergerak lebih dulu, menjangkau, dan mempersatukan. Di sinilah nilai keutamaan hidup: keberanian untuk mengasihi tanpa syarat, sebagaimana Kristus mengasihi manusia terlebih dahulu dihidupi oleh Pastor Rolf SSCC. ***
*) Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Medan dan Dosen Kitab Suci Sekolah Tinggi Pastoral Santo Bonaventura, Keuskupan Agung Medan


