Menyusuri Jejak VOC, PETA, hingga KNIL di Benteng Van Der Wijck

0
76
Rombongan masuk ke dalam Benteng Van der Wijck. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Mendengar nama Van Der Wijck, pada umumnya orang langsung ingat “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” (2013), sebuah film drama percintaan Zainudin dan Hayati yang terhalang perbedaan latar belakang/status sosial masyaraat Minangkabau di masa itu, hingga berakhir tragis, mati tenggelam dalam sebuah kapal yang mereka naiki. Film yang dibintangi Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Reza Rahadian ini, diangkat dari Novel (1939) dengan judul sama karya Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka.

Namun, jauh sebelum film itu dibuat dan bahkan lebih jauh lagi sebelum mendiang Buya Hamka mulai menuliskan cerita bersambung “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” pada 1938 dalam Majalah Pedoman Masyarakat, yang kemudian disusun menjadi sebuah novel pada 1939, ada juga nama Van Der Wijck yang lain. Nama itu melekat pada sebuah situs bersejarah di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, yakni: Benteng Van Der Wijck.

Tim Pengusul foto bersama Sarno –Kepala Desa Sidobunder (kiri) dan Bambang Priyambodo –Ketua Tunas Patria Putera-puteri TP Kab Kebumen (ke-3 dari kanan) di dalam Benteng Van der Wijck. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Benteng Van Der Wijck menjadi salah satu agenda Napak Tilas Jejak Kepahlawanan Nasional Herman Yoseph Fernandez pada 6-8 Februari 2026. Tim Pengusul terdiri dari Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, Brigjen (Purn) Andreas Mere, Rikard Mosa Dhae, serta kerabat Herman Yoseph Fernandez yakni pasangan suami-istri Jacob Riberu-Susi Riberu, Grace Siahaan Njo, dan Icha Lamury, ditemani Sarno– Kepala Desa Sidobunder, dan sejumlah pengurus Tunas Patria Putera Puteri Tentara Pelajar Kabupaten Kebumen, antara lain Bambang Priyambodo —Ketua, serta Sigit dan Eko –anggota, mengunjungi Benteng Van Der Wijck, Sabtu, 7 Februari lalu.

Bersama Sigit dan Eko dari Tunas Patria Putera-Puteri TP Kab Kebumen. Foto: Tim Pengusul/Rikard Mosa Dhae

Simak beritanya di https://benang.id/berawal-dari-palagan-sidobunder-napak-tilas-pejuang-herman-yoseph-fernandez-berakhir-di-tmp-kusumanegara-yogya/

Benteng Merah Oktagonal

Sejumlah momunen di depan Benteng Van Der Wijck. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Benteng Van Der Wijck merupakan benteng yang dibangun Hindia Belanda sekitar tahun 1818 atau permulaan abad ke 19. Nama benteng ini diambil dari Van Der Wijck, nama jenderal militer Belanda yang menjadi Komandan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). Nama benteng ini terpampang di atas pintu masuk. Benteng ini juga biasa disebut dengan benteng merah karena tersusun dari batu bata merah yang masih awet hingga saat ini.

Benteng Van Der Wijck semula merupakan sebuah kantor VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), persekutuan dagang Belanda yang memonopoli rempah-rempah di Asia, khususnya Nusantara. Namun karena besarnya kekuatan Pangeran Diponegoro pada tahun 1825-1830, Belanda mendatangkan pasukan bala bantuannya dan menempatkan mereka di sini.

Salah satu sisi bangunan oktagonal Benteng Van Der Wijck. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Benteng persegi delapan (oktagonal) satu-satunya di Indonesia ini memiliki luas bangunan 7.168 meter persegi terdiri atas 2 lantai, dengan tinggi mencapai 10 m, dan ketebalan dinding 1,4 m. Benteng ini dilengkapi 16 ruangan besar, dan 50-an ruangan dengan berbagai ukuran.

Tangga penghubung lantai 1 dan 2 Benteng Van Der Wijck. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Di bagian depan tengah, terdapat empat tangga (masing-masing dua di kiri dan kanan) agak melengkung ke atas untuk menghubungkan lantai satu ke lantai dua, dan lantai dua ke atap. Di atap ini, pengunjung dapat melihat keseluruhan benteng dari atas, dan menikmati wahana Kereta Wisata Atas Benteng. Rangkaian kereta mini akan mengantarkan pengunjung mengelilingi benteng dari atas.

Wahana kereta mini di atap Benteng Van Der Wijck. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Berkat nuansa Eropa klasik yang masih terjaga dengan baik, Benteng Van Der Wijck juga kerap digunakan sebagai lokasi syuting film dan sinetron. Salah satunya, lapangan di tengah benteng itu telah menjadi lokasi adegan penjara syuting film The Raid 2: Berandal (2014).

Halaman tengah di dalam bangunan oktagonal Benteng Van Der Wijck. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Dikutip dari kebumenkab.go.id, pada masa pendudukan Jepang, kompleks Benteng Van Der Wijck difungsikan sebagai tempat pelatihan anggota Pembela Tanah Air (PETA), sebuah organisasi tentara Indonesia bentukan Jepang untuk menghadapi sekutu. Pada masa ini, Jepang menutupi tulisan-tulisan Belanda dengan cat hitam.

Ruang bagian depan di sayap kiri dan kanan Benteng Van Der Wijck. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Belanda kembali menguasai Gombong melalui Agresi Militer pada Juli 1947. Selanjutnya Belanda menciptakan garis demarkasi atau garis batas yang dikenal dengan nama garis Demarkasi Van Mook sebagai batas kekuasaan Belanda-Indonesia. Kompleks Benteng Van Der Wijck kemudian dijadikan sebagai markas pertahanan terdepan untuk menghadapi kekuatan RI yang berada di timur Sungai Kemit.

Selain sebagai basis militer, benteng ini di masa silam juga pernah difungsikan sebagai tempat pendidikan militer bagi calon perwira KNIL.

Lorong-lorong di klantai 1 Benteng Van Der Wijck. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, kompleks benteng dimanfaatkan oleh TNI Angkatan Darat dalam hal ini Komando Daerah Militer (Kodam) IV Diponegoro. Bekerjasama dengan pihak swasta selaku investor, Benteng Van Der Wijck dikembangkan sebagai daya tarik wisata sejak tahun 2000 silam, bernama Hotel & Taman Wisata Bersejarah Benteng Wandeerwijck Gombong.

Sekarang kompleks benteng yang terletak di Desa Sidayu ini, telah dilengkapi dengan beragam fasilitas, antara lain permainan anak, gedung pertemuan, serta hotel wisata yang masih mempertahankan arsitektur asli bangunan.

Bekas Barak Tentara Belanda

Kamar-kamar Hotel Wisata Benteng Van Der Wijck yang dulunya adalah barak militer. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Sebagai bangunan bersejarah, penginapan atau hotel di sini sangat unik karena dulu digunakan sebagai barak tentara Belanda. Hotel Wisata Benteng Van Der Wijck memiliki 65 kamar dengan empat kelas. Yakni, standard room, deluxe room, falmily room, dan group room. Dengan tarif kamar mulai Rp 150 ribu hingga Rp 450 ribu.

Keunikan lainnya adalah sama sekali tidak ada perubahan bentuk. Kecuali. barak yang dahulu berbentuk los, kini dipasang sekat papan kayu sebagai pembatas antarkamar. Fasilitasnya pun sama hanya berbeda pada kapasitas penghuni kamar.

Gedung Diponegoro yang mampu menampung hingga 1000 orang. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Hotel Wisata Benteng Van Der Wijck juga memiliki gedung pertemuan peninggalan Belanda, bernama Gedung Diponegoro, yang bisa digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan dan pertemuan berkapasitas hingga 1000 orang.

Hotel & Taman Wisata Bersejarah Benteng Wandeerwijck Gombong ini bahkan tidak jarang digunakan calon pengantin untuk melakukan sesi foto pre-wedding di areal benteng. Tentu saja dengan meminta izin terlebih dahulu kepada pengelola hotel. (*)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here