Vatikan, benang.id – Ensiklik pertama Paus Leo XIV yang sudah ditunggu-tunggu akan diperkenalkan pada hari Senin Pentakosta, 25 Mei 2026. Judulnya adalah “Magnifica Humanitas: Tentang Perlindungan Manusia di Era Kecerdasan Buatan”. Demikian dikemukakan Pater Markus Solo Kewuta SVD, Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci, Vatikan, dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).
“Ensiklik pertama dari Paus Leo XIV ini memiliki tanggal publikasi resmi 15 Mei 2026. Tanggal ini adalah sebuah tanggal khusus karena tepatnya 135 tahun yang lalu, yakni 15 Mei 1891, Paus Leo XIII mengeluarkan Ensiklik Rerum Novarum tentang Hak dan Kewajiban Kapital dan Tenaga Kerja,” tutur satu-satunya pejabat Vatikan, asal Indonesia yang akrab disapa Padre Marco ini.

Vatikan– seperti dilansir Instagram Tripol.co— menegaskan bahwa AI harus dikembangkan berdasarkan etika dengan menjadikan martabat manusia sebagai prioritas utama.
Ensiklik ini juga menyoroti ancaman deepfake, manipulasi informasi, penggunaan senjata oomatis berbasis AI, hingga dampak lingkungan dari pusat data AI yang boros energi dan air.
Berikut Pokok-Pokok Isi Ensiklik Paus Leo XIV tentang AI:

Pertama: AI harus berlandaskan etika
Teknologi tidak boleh menggantikan peran kemanusiaan atau mengorbankan nilai sosial demi kepentingan ekonomi dan militer.
Kedua: Martabat manusia adalah prioritas utama
Vatikan menegaskan bahwa AI harus menjadi alat pendukung manusia, bukan pengganti kecerdasan dan nilai kemanusiaan.
Ketiga: Ancaman deepfake dan menipulasi informasi
Paus Leo XIV menaruh perhatian besar terhadap penyelahgunaan AI generatif yang dapat memicu disinformasi.
Keempat: Penolakan senjara otonom
Vatikan mengritik penggunaan sistem senjata berbasis AI dalam konflik modern seperti di Ukraina dan Gaza.
Kelima: Regulasi AI global
Vatikan ingiin memperkuat tata kelola AI internasional berbasis transparansi, akuntabilitas, enklusivitas, dan perlindungan privasi.
Paus Leo XIV melalui ensiklik ini ingin menunjukkan bahwa Vatikan ingin mengambil posisi penting dalam perdebatan global mengenai regulasi AI.
Gereja Katolik menilai perkembangan teknologi tidak boleh berjalan tanpa batas moral karena dapat mengancam martabat manusia, memperbesar disinformasi, dan memperluas penggunaan senjata otomatis dalam perang.
Sikap ini juga memperlihatkan perbedaan pandangan dengan pemerintahan Donald Trump yang mendorong percepatan pengembangan AI demi kepentingan ekonomi dan keamanan nasional.
Dengan pengaruh umat Katolik yang mencapai sekitar 1,5 miliar jiwa, ensiklik ini berpotensi menjadi referensi etika global dalam penyusunan aturan AI internasional di masa depan. (*/GK)


