Penjajahan di Era Modernisasi—OPINI

0
75
Penjajahan di Era Modern
Ketua Umum JKJT Agustinus Tedja Bawana

Oleh: Agustinus Tedja GK Bawana *)

Di bawah kolong jembatan ada kehidupan. Di sana kita melihat manusia berjuang mempertahankan eksistensi, menghadapi keterbatasan ekonomi, akses pendidikan, kesehatan, hingga kesempatan kerja. Namun di balik keterbatasan itu, tersimpan harapan besar tentang keadilan dan pemenuhan hak-hak dasar sebagai manusia.

Di sudut-sudut perkampungan kota, persoalannya tidak jauh berbeda. Keterbatasan sering kali melahirkan keberanian, kreativitas, bahkan perlawanan terhadap keadaan. Akan tetapi, pada saat yang sama, kekurangan juga dapat melahirkan kecemasan, ketakutan, dan dorongan untuk menutupi ketidakmapanan dengan simbol-simbol kemapanan semu.

Tidak sedikit orang yang membeli kendaraan demi gengsi sosial, sementara kebutuhan pokok dan kemampuan memenuhi biaya operasionalnya masih menjadi persoalan. Fenomena ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan persoalan psikologi sosial dan budaya.

Di kawasan perkotaan dan metropolitan, persoalan tersebut berkembang menjadi lebih kompleks. Persaingan tidak lagi sekadar tentang bertahan hidup, melainkan tentang pencapaian, status, pengaruh, dan pengakuan. Ambisi menjadi energi utama yang menggerakkan kehidupan. Namun dalam banyak kasus, ambisi itu tidak lagi berjalan berdampingan dengan rasa syukur dan kesadaran diri. Manusia terjebak dalam perlombaan tanpa garis akhir. Ketika satu target tercapai, target berikutnya segera dikejar. Ketika satu kemewahan diperoleh, kemewahan lain menjadi kebutuhan baru.

Inilah bentuk penjajahan modern yang sering tidak disadari. Jika pada masa lalu penjajahan hadir dalam bentuk penguasaan wilayah, sumber daya alam, dan kekuatan militer, maka di era modern penjajahan hadir dalam bentuk penguasaan cara berpikir, pola konsumsi, dan standar keberhasilan hidup. Manusia merasa merdeka secara politik, tetapi sering kali menjadi tawanan ambisi, gengsi, dan hasrat yang tidak pernah terpuaskan.

Kajian Empirik: Ketika Konsumerisme Menguasai Pikiran
Dalam kajian sosiologi modern, fenomena ini dikenal sebagai budaya konsumtif. Banyak penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kebahagiaan. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia cenderung mengejar pengakuan sosial melalui simbol-simbol materi.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari:
Seseorang rela berutang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak mendesak. Gaya hidup media sosial menciptakan standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis. Nilai seseorang lebih sering diukur dari kepemilikan materi daripada integritas karakter.

Persaingan sosial mendorong orang untuk terlihat berhasil meskipun secara finansial rapuh. Akibatnya, muncul tekanan psikologis, kecemasan sosial, depresi, hingga hilangnya solidaritas antarwarga. Masyarakat menjadi sibuk membandingkan diri dengan orang lain daripada memperbaiki kualitas dirinya sendiri.

Pandangan Filsuf Kuno
Sejak ribuan tahun lalu, para filsuf sebenarnya telah mengingatkan tentang bahaya ketika manusia dikuasai oleh keinginannya sendiri.

Socrates
Socrates mengajarkan bahwa kehidupan yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani. Menurutnya, manusia harus terus bertanya kepada dirinya sendiri: “Untuk apa aku mengejar ini?” dan “Apakah ini benar-benar membuatku menjadi manusia yang lebih baik?”

Aristoteles
Aristoteles menyatakan bahwa tujuan hidup bukanlah kekayaan atau kekuasaan, melainkan kebajikan. Kebahagiaan sejati lahir ketika manusia mampu menyeimbangkan akal, moral, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Confucius
Confucius menekankan pentingnya karakter, keteladanan, dan keharmonisan sosial. Menurutnya, bangsa yang kuat tidak dibangun oleh kekayaan semata, melainkan oleh manusia-manusia yang memiliki rasa malu, rasa hormat, dan tanggung jawab.

Diogenes
Diogenes bahkan memilih hidup sederhana untuk menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada kepemilikan materi. Ia mengkritik masyarakat yang mengukur nilai manusia dari harta dan status sosial.

Revolusi Waktu dan Perubahan Nilai
Perubahan zaman memang tidak dapat dibendung. Teknologi berkembang, ekonomi berubah, dan pola interaksi sosial terus bergerak dinamis. Namun ada pertanyaan mendasar yang tetap relevan sepanjang sejarah: Apakah kemajuan teknologi selalu diikuti kemajuan karakter? Jawabannya belum tentu.

Manusia modern mampu berkomunikasi lintas benua dalam hitungan detik, tetapi belum tentu mampu berdialog dengan dirinya sendiri. Kita mampu membangun gedung pencakar langit, tetapi sering gagal membangun kejujuran. Kita mampu menciptakan kecerdasan buatan, tetapi masih kesulitan mengendalikan keserakahan alami manusia. Di sinilah letak tantangan terbesar bangsa-bangsa modern. Persoalannya bukan lagi sekadar membangun infrastruktur fisik, melainkan membangun infrastruktur moral.

Benar dan Salah Tidak Cukup
Dalam kehidupan berbangsa, kita sering terjebak pada pertarungan antara siapa yang benar dan siapa yang salah. Padahal persoalan sosial jauh lebih kompleks daripada sekadar hitam dan putih.

Ketika setiap kelompok hanya ingin memenangkan pendapatnya sendiri, maka yang lahir adalah polarisasi. Ketika ambisi kelompok lebih besar daripada kepentingan bersama, maka karakter kebangsaan perlahan terkikis. Keserakahan yang terorganisir sering kali lebih berbahaya daripada kemiskinan yang terlihat.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan, tetapi bangsa yang mampu menjadikan perbedaan sebagai energi untuk membangun keadilan dan kesejahteraan bersama.

Menuju Keteladanan Budaya Syukur
Rasa syukur bukan berarti menyerah pada keadaan. Syukur adalah kemampuan melihat pencapaian secara proporsional. Ia menjadi rem moral yang menjaga manusia agar tidak diperbudak oleh ambisi tanpa batas.

Keteladanan budaya syukur berarti:
-Mengutamakan karakter sebelum pencapaian.
-Menempatkan moral sebelum kekuasaan.
-Menghargai proses sebelum hasil.
-Mengukur keberhasilan dari manfaat yang diberikan kepada sesama.
-Menjadikan kemajuan sebagai sarana kemanusiaan, bukan sekadar pemuasan ambisi.

Pada akhirnya, penjajah terbesar di era modern bukan selalu bangsa lain, bukan pula kekuatan asing. Sering kali penjajah itu hadir dalam diri kita sendiri: berupa keserakahan, gengsi, ambisi tanpa kendali, dan ketidakmampuan bersyukur.

Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penguasaan orang lain, melainkan bebas dari belenggu nafsu yang membuat manusia kehilangan jati dirinya. Sebab bangsa yang kuat lahir dari manusia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri sebelum berusaha menaklukkan dunia. **

*) Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here