
Jakarta, benang.id — Permata Bank kembali menghadirkan program literasi keuangan bertajuk Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) yang digelar serentak di 24 kota di Indonesia sebagai bagian dari keberlanjutan inisiatif Permata Hati – CSER & Sustainability for Social Impact. Tahun 2026 ini, Permata Bank memperluas jangkauan literasi keuangannya meliputi pemahaman tentang pengelolaan uang dan keamanan transaksi digital kepada siswa sekolah menengah pertama (SMP).
Direktur Utama Permata Bank, Meliza M Rusli, mengatakan, selama 24 tahun, Permata Bank terus bertumbuh bersama masyarakat dan menyaksikan bagaimana kebutuhan serta cara masyarakat mengelola keuangan terus berkembang.
“Di tengah pesatnya transformasi digital, kami percaya bahwa literasi keuangan merupakan bekal penting yang perlu ditanamkan sejak dini, agar generasi muda tidak hanya cakap menggunakan layanan keuangan, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan. Melalui Permata CERITA, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, menyenangkan dan relevan bagi generasi muda. Kami berharap setiap kebiasaan kecil yang dibangun hari ini dapat menjadi fondasi bagi mereka untuk tumbuh menjadi generasi yang mandiri, bertanggung jawab dan percaya diri dalam merencanakan masa depan finansialnya,” tuturnya.
Literasi keuangan yang salah satunya digelar di MTs Imadun Najah, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (16/10/2026), membekali siswa dengan pengetahuan praktis, mulai dari mengatur uang saku hingga mengenali risiko penipuan daring.

Materi edukasi juga mencakup penggunaan QRIS sebagai sarana pembayaran digital serta metode 3A, yakni Amati, Awasi, dan Adukan. Perluasan sasaran program ini didasarkan pada perbedaan tingkat inklusi keuangan antara masyarakat secara umum dan kalangan pelajar SMP.
Hadir dalam acara tersebut, Katharine Grace– Chief Corporate Affairs and Sustainability Permata Bank, Halimatus Sa’diyah – Kepala Divisi Pelaksanaan Edukasi Keuangan OJK, Ninik Purwaning Setyorini – Widyaprada Ahli Madya Direktorat SMP Kemendikdasmen, Sutikno SPd –Kepala Pokjawas Kementerian Agama Kota Jakarta Utara, Rohali SE SPd I M MPd –Kepala MTs Imadun Najah, serta puluhan karyawan Permata Bank yang tergabung sebagai Employee Volunteers (EVO).
Chief of Corporate Affairs and Sustainability Permata Bank, Katharine Grace, menjelaskan bahwa sejak pertama kali dilaksanakan pada 2016 program tersebut sebelumnya berfokus pada siswa sekolah dasar (SD).

“Dari 2016 sampai sekarang itu kita selalu ke SD, tahun ini kita baru mulai untuk SMP. Karena dari survei kita melihat ada gap, kalau survei inklusi keuangan 89 persen, sedangkan survei di SMP masih 56 persen,” ujar Grace, dalam sesi doorstop, usai acara.
Ia menilai kesenjangan itu memperlihatkan perlunya perluasan jangkauan pendidikan keuangan bagi pelajar SMP. Grace menyebutkan program tersebut selain untuk menambah pengetahuan, juga membantu siswa menerapkan pemahaman ketika mengambil keputusan finansial sederhana.
Fokus Permata CERITA 2026

Pelaksanaan Permata CERITA 2026 memiliki fokus antara lain, mendorong perubahan dari sekadar memahami konsep keuangan menuju pemanfaatan layanan keuangan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selnjutanya, memberikan pengenalan digitalisasi layanan keuangan termasuk mobile banking. Juga pengenalan QRIS hingga metode 3A.
Grace mengharapkan pada jenjang SMP, siswa mulai mampu merencanakan penggunaan uang dan mempertimbangkan pilihan finansial dengan lebih matang. Ia menjelaskan pemahaman mengenai layanan keuangan perlu disertai kemampuan untuk menerapkannya.
“Kita ingin meningkatkan dari literasi ke inklusi, seperti disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekarang harus inklusif yaitu aplikasinya. Jadi kita ingin anak SMP karena seumurnya bisa lebih dewasa untuk menentukan planning decision-nya,” jelas Grace.

Pengelolaan tabungan menjadi salah satu contoh penerapan pengetahuan tersebut. Grace menyebut sebagian anak telah memiliki tabungan bersama orang tua, sementara OJK juga mempunyai program yang memungkinkan anak membuka tabungan sendiri. Dengan pemahaman dasar yang memadai, siswa dapat mulai mempelajari cara mengelola uang saku sebagai bagian dari pengambilan keputusan finansial sederhana.
Halimatus Sa’diyah, Kepala Divisi Pelaksanaan Edukasi Keuangan OJK, menyampaikan, upaya peningkatan literasi keuangan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak atau OJK saja, melainkan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk industri perbankan, Bank Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama serta lembaga pendidikan, dan pihak terkait lainnya.

“Kami dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengapresiasi inisiatif Permata Bank melalui program Permata CERITA yang turut mendukung upaya bersama dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya di kalangan pelajar. Melalui edukasi sejak dini, kami berharap generasi muda dapat memiliki pemahaman keuangan yang lebih baik, sehingga mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak dan mempersiapkan diri untuk masa depan,” ujarnya.
Selanjutnya, Grace mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi keuangan juga perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai perlindungan diri. Pelajar perlu mengetahui transaksi digital memiliki risiko, termasuk penipuan daring dan tindakan scammer yang dapat mengancam keamanan pengguna.

Dalam kegiatan tersebut, pengenalan QRIS menjadi bagian dari pembelajaran transaksi digital, sedangkan metode 3A memberikan kerangka sederhana untuk meningkatkan kewaspadaan. Siswa diperkenalkan pada prinsip mengamati, mengawasi, dan mengadukan aktivitas yang patut dicurigai.
Grace mengingatkan ancaman keamanan tetap perlu diperhatikan ketika masyarakat semakin akrab dengan layanan digital. Peringatan mengenai risiko tersebut juga disampaikan oleh OJK. (*/GK)

