Thursday, June 13, 2024
No menu items!
spot_img
HomeInternasionalPesan Paus: Kecerdasan Artifisial dan Kebijaksanaan Hati Menuju Komunikasi yang Manusiawi

Pesan Paus: Kecerdasan Artifisial dan Kebijaksanaan Hati Menuju Komunikasi yang Manusiawi

Jakarta, benang.id  – Hari Minggu sebelum Hari Raya Pentakosta selalu menjadi hari di mana Gereja Katolik merayakan Hari Minggu Komunikasi Sosial (Komsos) Sedunia. Setiap tahun pula, Paus selalu menyampaikan pesan untuk Hari Minggu Komunikasi Sedunia.

Secara singkat, tradisi merayakan Hari Komsos sedunia ini diawali oleh Bapa Suci Paulus VI (1897-1978). Pada Minggu, 7 Mei 1967, beliau untuk pertama kalinya menetapkan Hari Minggu Komsos Sedunia. Kala itu, diusung tema “Gereja dan Komunikasi Sosial” dan dari situlah tonggak sejarah perayaan Hari Komsos Sedunia dimulai.

Untuk tahun 2024 ini adalah tahun ke 58  Gereja Katolik  merayakan Hari Komsos Sedunia, tepatnya dirayakan pada Minggu  tanggal 12 Mei 2024 .  Pesan Paus Fransiskus kali ini  bertajuk “Kecerdasan Artifisial dan Kebijaksanaan Hati: Menuju Komunikasi yang Sungguh Manusiawi”. Paus Fransiskus kali ini  mengingatkan kita bagaimana kecerdasan artifisial dan kebijaksanaan hati dapat memperkaya pengalaman komunikasi kita untuk menjadi semakin manusiawi dan manusia yang seutuhnya.

Menurutnya, manusia perlu memiliki ‘kebijaksanaan hati’ dalam menanggapi kemajuan teknologi jaman ini. Ia mengatakan: “Bentuk refleksi yang baik dimulai dari hati. Segala bentuk refleksi harus dimulai dari hati. Kalau tidak, risikonya manusia bisa kaya di bidang teknologi, tetapi miskin dalam kemanusiaan”. Ia menambahkan bahwa hati adalah tempat terdalam manusia. Di sana manusia dapat berjumpa dan berbicara dengan Tuhan. Segala keputusan yang baik lahir dari hati yang bijaksana. Sehingga hati tidak bisa dikalahkan oleh kecerdasan buatan.

Teknologi mampu menciptakan aplikasi-aplikasi baru, memposting beragam konten, menyimpan data, berkomunikasi dengan orang lain dari beragam bahasa, menciptakan ilmu pengetahuan baru, tetapi teknologi tidak bisa dikendalikan dengan hati yang bijaksana. Kecerdasan buatan tidak mampu berefleksi dan mencerna. Ia hanya mampu menciptakan dan ‘melemparkan’ isi tapi tidak berpikir secara matang. Paus menegaskan juga bahwa setiap individu memiliki kesadaran yang bertanggung jawab atas penggunaan dan pengembangan berbagai bentuk komunikasi seiring dengan berkembangnya teknologi dan kecerdasan artifisial jaman sekarang. Ia menambahkan bahwa komunikasi perlu berorientasi pada kehidupan pribadi manusia yang lebih utuh.

Pesan Paus untuk Hari Perdamaian Sedunia, yang dikhususkan untuk pengembangan sistem kecerdasan buatan (AI).  AI “secara radikal mempengaruhi dunia informasi dan komunikasi, dan melalui AI, fondasi tertentu dalam kehidupan masyarakat,” kata Paus dalam pesan Hari Komunikasinya, seraya menambahkan bahwa “perubahan ini berdampak pada semua orang.”  Jadi, Paus bertanya, “bagaimana kita bisa tetap menjadi manusia seutuhnya dan membimbing transformasi budaya ini untuk mencapai tujuan yang baik?”

Dimulai dengan hati

Menjawab pertanyaan ini, Bapa Suci menyatakan bahwa “pada masa sejarah ini, yang berisiko menjadi kaya dalam teknologi dan miskin dalam kemanusiaan, refleksi kita harus dimulai dari hati manusia.”  Ia mengenang bahwa, dalam Alkitab, hati dipandang sebagai tempat kebebasan dan pengambilan keputusan, “melambangkan integritas dan persatuan, sekaligus melibatkan emosi, keinginan, dan impian kita.”

Namun, lanjutnya, hati, di atas segalanya, adalah “tempat terdalam perjumpaan kita dengan Tuhan.” “Kebijaksanaan hati, kemudian, adalah kebajikan yang memungkinkan kita untuk mengintegrasikan keseluruhan dan bagian-bagiannya, keputusan-keputusan kita dan konsekuensi-konsekuensinya, keluhuran kita dan kerentanan kita, masa lalu dan masa depan kita, individualitas kita dan keanggotaan kita dalam komunitas yang lebih besar,” kata Paus.

Bapa Suci selanjutnya menekankan bahwa kebijaksanaan seperti itu tidak dapat diperoleh dari mesin. Meskipun istilah “kecerdasan buatan” telah menggantikan istilah “pembelajaran mesin” katanya, “penggunaan kata ‘kecerdasan’ terbukti menyesatkan.”

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa menyimpan data saja tidak cukup, seperti halnya mesin, namun data ini harus masuk akal, dan “manusia saja” mampu melakukan hal ini. “Tergantung pada kecenderungan hati, segala sesuatu yang berada dalam jangkauan kita bisa menjadi peluang atau ancaman,” ungkap Paus.

Ia mencatat bahwa teknologi simulasi di balik algoritma AI dapat berguna dalam bidang tertentu.  Namun, tambahnya, penggunaan AI menjadi “salah jika hal itu merusak hubungan kita dengan orang lain dan dengan kenyataan.”  Faktanya, sangat penting untuk mengetahui bahwa jika berada di tangan yang salah, alat-alat tersebut dapat menyebabkan “skenario yang mengganggu.”  Kecerdasan Buatan tetap harus diatur, tegas Paus Fransiskus, seperti dalam setiap konteks manusia, “peraturan saja tidak cukup.”

Pertumbuhan umat manusia

Paus Fransiskus kemudian mengajak semua orang untuk tumbuh bersama, “dalam kemanusiaan dan sebagai kemanusiaan,” seraya mengingatkan bahwa kita semua ditantang untuk melakukan lompatan kualitatif guna menjadi “masyarakat yang kompleks, multietnis, pluralistik, multiagama, dan multikultural.”

Berbicara mengenai informasi, Bapa Suci memperingatkan bahwa “informasi tidak dapat dipisahkan dari hubungan yang hidup.” Dia menjelaskan bahwa hubungan melibatkan tubuh dan pencelupan ke dalam dunia nyata, namun juga melibatkan pengalaman manusia, “belas kasih, dan berbagi.”

Mengingat hal ini, Paus Fransiskus merujuk pada banyak wartawan yang terluka atau terbunuh saat menjalankan tugas ketika mereka berusaha menunjukkan kepada dunia apa yang telah mereka lihat sendiri. “Hanya melalui kontak langsung dengan penderitaan anak-anak, perempuan, dan laki-laki kita dapat menghargai absurditas perang,” kata Paus.

Mengakhiri pesannya pada Hari Komunikasi Sedunia, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa “terserah kita untuk memutuskan apakah kita akan menjadi sasaran algoritma atau akan memberi makan hati kita dengan kebebasan yang tanpanya kita tidak dapat bertumbuh dalam kebijaksanaan.”

Hanya dengan bersama-sama, beliau menyimpulkan, kita dapat meningkatkan kapasitas kita dalam menilai dan waspada serta melihat segala sesuatu dari sudut pandang pemenuhannya.

Paus Fransiskus kemudian berdoa agar umat manusia tidak pernah kehilangan arah, dan agar kebijaksanaan yang ada sebelum adanya teknologi modern dapat kembali kepada kita.  Kebijaksanaan, kata Paus, dapat membantu kita “menempatkan sistem kecerdasan buatan untuk melayani komunikasi manusia sepenuhnya.” (*)

sumber: Francesca Merlo (Vatican News)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments