Pesparani II Sumsel Wujud Harmoni, Penguat Toleransi, dan Titik Tolak Menuju Nasional 2027

0
Kontingen Prabumulih foto bersama

Palembang, benang.id – Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik II Tingkat Provinsi Sumatera Selatan resmi menuntaskan seluruh rangkaian kegiatannya dengan penuh sukacita dan gelora kebersamaan pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Berpusat di kompleks Sekolah Kusuma Bangsa, Jalan A. Rozak, Kota Palembang, perhelatan akbar yang dimulai sejak 23 Oktober 2026 ini tidak sekadar menjadi panggung megah bagi kreativitas seni rohani dan liturgi umat Katolik. Lebih dari itu, acara ini berhasil menjelma sebagai momentum strategis untuk meneguhkan iman, mempererat simpul persaudaraan, sekaligus merawat pilar toleransi lintas agama yang kokoh di Bumi Sriwijaya.

Mengusung Semangat Persaudaraan Sejati di Tengah Keberagaman

Para penyanyi cilik juga terlibat dalam Pesparani

Mengusung tema besar yang sangat relevan dengan dinamika sosial masyarakat modern, yakni “ Berjalan Bersama dalam Harmoni, Bersaksi dalam Kasih di Tengah Keberagaman, Mewujudkan Sumsel Maju melalui Persaudaraan Sejati”, ajang tiga tahunan ini menyedot perhatian luas. Sebanyak 727 peserta dan official hadir meramaikan acara. Para kontingen terbaik ini merupakan utusan resmi dari 9 kabupaten dan kota yang berada di bawah naungan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) se-Sumatera Selatan.

Mulai dari delegasi Kota Palembang, Kota Prabumulih, hingga Kota Lubuklinggau, seluruh peserta mengerahkan kemampuan terbaik mereka dalam 13 kategori perlombaan yang dipertandingkan. Berbagai cabang seni dan edukasi keagamaan disajikan secara kompetitif namun penuh kekeluargaan, mulai dari paduan suara dari berbagai kelompok usia, pembacaan mazmur, bertutur Kitab Suci, hingga cerdas cermat rohani yang menguji wawasan keagamaan peserta secara mendalam.

Perayaan Ekaristi Kudus dan Refleksi Iman Bersama Uskup Agung Palembang

Pemukulan gong sebagai tanda dimulainya penyelenggaraan Pesparani Katolik II Sumsel

Sebelum dewan juri mengumumkan deretan nama pemenang, rangkaian acara puncak penutupan diawali secara khidmat dengan Perayaan Ekaristi Kudus. Misa agung ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Palembang, Mgr Yohanes Harun Yuwono. Seribuan peserta dari kontingen dan umat Katolik tampak memenuhi area perayaan dengan penuh ke khidmatan.

Dalam kotbah yang disampaikan dengan penuh inspirasi, Mgr Yohanes Harun Yuwono memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia penyelenggara, pemerintah daerah, aparat keamanan yang mengawal kelancaran acara, dewan juri yang bertugas secara profesional, serta seluruh peserta yang telah berjuang maksimal.

Ia menegaskan bahwa substansi terpenting dari penyelenggaraan Pesparani bukanlah semata-mata mengejar trofi, medali, atau gelar juara dunia, melainkan menjadikannya sebagai wadah pembinaan rohani yang efektif dan sarana memperluas relasi persaudaraan antarsesama anak bangsa.

“Melalui alunan suara, kidung pujian, dan olah vokal yang dipersembahkan, kita tidak hanya memuji kebesaran Tuhan, tetapi juga merajut kebersamaan dan memperkuat kerukunan. Apapun hasil kejuaraan hari ini, setiap peserta yang hadir adalah duta-duta perdamaian,” ungkap Mgr Yohanes Harun Yuwono di hadapan ribuan umat.

Konsolidasi Organisasi dan Penguatan Tata Kelola Melalui Rapat Strategis

Foto bersama para tokoh Pesparani Katolik II Sumsel

Di sela-sela semaraknya perlombaan, agenda krusial turut mewarnai penyelenggaraan Pesparani II Sumsel melalui kehadiran Sekretaris Umum Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN), Dr Salman Habeahan. Ia memimpin langsung forum rapat koordinasi strategis yang dihadiri oleh Vikjen Keuskupan Agung Palembang Romo Yohanes Kristianto, jajaran pengurus inti LP3KD Provinsi Sumatera Selatan, serta para ketua LP3KD dari berbagai kabupaten dan kota.

Pertemuan penting ini dikemas dalam suasana dialog terbuka guna membedah berbagai dinamika kelembagaan, tantangan tata kelola organisasi, hingga sinkronisasi program kerja jangka panjang dengan pihak pemerintah daerah. Sejumlah isu strategis yang dibahas secara mendalam meliputi:
• Legalitas Formal dan SK Kepengurusan: Urgensi penerbitan Surat Keputusan (SK) resmi dari kepala daerah guna memperkuat posisi tawar LP3KD sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembinaan umat beragama.
• Perencanaan Anggaran Berjenjang: Mencari solusi komprehensif atas hambatan pencairan dana hibah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui penyusunan program kerja yang terstruktur dan selaras dengan siklus anggaran pemerintah daerah jauh-jauh hari.
• Sinergitas Hierarki Gereja: Memperkuat kolaborasi aktif bersama para pastor paroki di tingkat lokal demi mempermudah koordinasi operasional kegiatan pembinaan umat.

Hasil dari diskusi komprehensif ini diyakini akan menjadi fondasi pijakan strategis bagi seluruh jajaran LP3KD di Sumatera Selatan dalam mempersiapkan kontingen yang lebih matang menuju ajang Pesparani Tingkat Nasional berikutnya pada tahun 2027 di Provinsi Sulawesi Utara.

Kontingen Palembang Kukuhkan Diri Sebagai Juara Umum dengan 10 Gold Champion


Kontingen Palembang juara umum Pesparani Katolik II Sumsel

Suasana tegang bercampur antusiasme yang luar biasa menyelimuti auditorium Sekolah Kusuma Bangsa ketika dewan juri secara resmi membacakan hasil akhir rekapitulasi nilai dari seluruh cabang lomba. Berkat penampilan vokal yang memukau, harmonisasi suara yang matang, serta penguasaan materi yang prima di berbagai kategori mulai dari paduan suara anak, remaja, dewasa, hingga cabang pemahaman Kitab Suci dan cerdas cermat Kontingen LP3KD Kota Palembang sukses menorehkan prestasi gemilang.

Kota Palembang berhasil memborong 10 medali Gold Champion, sebuah pencapaian luar biasa yang sekaligus mengukuhkan mereka sebagai Juara Umum Pesparani II Sumatera Selatan 2026. Prestasi ini sekaligus memperpanjang tradisi keunggulan pembinaan seni suara gerejani di wilayah tersebut. Perwakilan kontingen menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas buah dari kedisiplinan latihan panjang, dedikasi tinggi para pelatih, serta dukungan doa yang tiada henti dari umat.

Merawat Keharmonisan, Toleransi, dan Persaudaraan Sejati di Bumi Sriwijaya

Salah satu penyerahan trofi juara

Ketua LP3KD Provinsi Sumatera Selatan, Alphonsus Supardi , dalam sambutan penutupannya menegaskan bahwa kemajemukan suku, bahasa, budaya, dan agama di Sumatera Selatan merupakan anugerah terindah yang harus senantiasa dijaga dan dirawat bersama oleh seluruh elemen masyarakat.

“Perbedaan bukanlah untuk dipertentangkan, melainkan dipadukan menjadi sebuah keindahan yang harmonis. Acara ini merupakan wujud nyata ungkapan iman umat Katolik yang diekspresikan melalui keindahan seni dan budaya,” tutur Alphonsus dengan penuh semangat.

Pernyataan senada turut disampaikan oleh Pembimas Katolik Provinsi Sumsel, Leonardus Sutrisno , serta Ketua Panitia, Harmadi . Keduanya memberikan apresiasi tinggi terhadap tingginya tingkat sportivitas yang ditunjukkan oleh para peserta, yang senantiasa mengutamakan peningkatan kualitas spiritual di atas ambisi kompetisi semata.

Di sisi lain, Vikjen Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristianto , merangkum esensi perhelatan Pesparani II ini ke dalam tiga pilar fundamental: pertama, sebagai Ekspresi Iman umat melalui seni liturgi yang luhur; kedua, sebagai Penguat Persaudaraan lintas wilayah; dan ketiga, sebagai Kesaksian Nyata Gereja Katolik dalam menghadirkan diri di tengah masyarakat yang rukun, moderat, dan damai.

Dengan resmi ditutupnya rangkaian perhelatan akbar ini, seluruh kontingen diharapkan tidak lekas berpuas diri, melainkan terus mengasah potensi demi membawa nama harum Provinsi Sumatera Selatan di kancah nasional pada ajang Pesparani 2027 mendatang di Sulawesi Utara, sekaligus konsisten merawat iklim kerukunan, kedamaian, dan persaudaraan sejati di Bumi Sriwijaya. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here