Petualangan Seru Bertandang ke Orangutan di Hutan Borneo

0
Erwin (kedua dari kanan), orangutan sang raja dalam kelompoknya tampak tenang menyantap makanan. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Suasana hutan yang hening, hanya sesekali terdengar desiran angin dan suara nyaring kumbang Tonggeret, mendadak “pecah” saat dua orang ranger atau penjaga hutan melangkah ke panggung papan kayu itu. Sambil memuntahkan pisang, ubi, jagung, dan buah-buahan lainnya dari dalam karung, mereka berteriak, “Ooouw…ooouw… ayo datang…makan!”

Sekejap, dari atas dahan dan ranting pepohonan nan menjulang, tampak bergelayutan bayangan jingga — satu, dua, tiga ekor dan terus bertambah, sekelompok orangutan perlahan namun pasti, turun menghampiri panggung papan yang telah penuh makanan. Sendirian, berbarengan berdua-dua, dan ada juga yang menggendong anak di punggung, mereka langsung duduk manis di papan dan menyantap lahap buah-buahan itu. Ada pula yang mengambil dan bergegas kembali ke pohon, sambil tetap mengunyah cuek. Lucu sekali dilihatnya.

Seekor induk orangutan bersama anaknya dalam gendongan menunggu feeding time. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Sekitar sepuluhan orangutan itu, datang dari segala arah merespons panggilan sang ranger yang memang sudah rutin datang pukul 15.00 saat feeding time. Inilah pemandangan paling menakjubkan di Tanjung Harapan, pos pertama Taman Nasional Tanjung Puting — saat para penghuni rimba itu berkumpul untuk makan bersama.

Di panggung sisi kanan, tampak orangutan jantan dewasa yang paling besar di antara orangutan lainnya, “sendirian” dengan santainya menyantap hidangan yang tersedia, tanpa ada yang berani menyenggolnya. Menurut ranger, orangutan yang berusia 35 tahun bernama Erwin itu, adalah sang raja dalam kelompoknya. Raja Orangutan memang cenderung soliter dan menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian untuk menjaga wilayah. Untuk menandai wilayahnya, si jantan akan membuat panggilan menggelegar– di samping juga untuk menarik perhatian betina.

Erwin (kedua dari kanan), orangutan sang raja dalam kelompoknya tampak tenang menyantap makanan. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Bagi kita yang sebelumnya cuma bisa melihat orangutan dalam kerangkeng besi di kebun binatang, mengamati perilaku mereka di habitat aslinya merupakan pengalaman yang menakjubkan. Termasuk kami, rombongan awak media nasional dan daerah yang diajak PT Astra Agro Lestari Tbk bertandang ke “rumah” orangutan di Hutan Borneo itu pada Rabu siang, 29 Oktober 2025, saat food feeding.

Meski kadang raja orangutan itu mengeluarkan suaranya yang menggelegar, kita tidak perlu merasa ngeri atau takut. Sebab berdasarkan penelitian, orangutan liar jarang sekali berperilaku agresif dan menyerang manusia. Sepanjang kita tidak mengganggu habitat dan teritorinya, orangutan tidak akan menyerang. Orangutan juga merupakan satwa liar yang sangat sensitif, sehingga selain tidak membuat keributan, kita juga tidak diperkenankan mengambil gambar dengan flash, dan membuat gerakan tiba-tiba.

Pusat Informasi Tanjung Harapan (kiri). Penjelasan sebelum treking ke feeding area (kanan). Foto: benang.id/Gora Kunjana

Oleh karena itulah, Pandu Gumilar—salah satu anggota Tim Media Astra Agro– yang ikut mendampingi selalu mewanti-wanti agar kami menjaga suasana tetap tenang dan jarak aman sekitar 10-15 meter. “Tolong hindari kegaduhan atau tindakan yang dapat membuat orangutan merasa terganggu,” ujarnya mengingatkan.

Dalam suasana silentium, kami yang berbaur dengan sekelompok wisatawan mancanegara sangat antusias menyaksikan pemandangan menarik dan unik itu, sekaligus tak henti-hentinya memotret, juga merekam video dengan kamera, atau pun ponsel.

Dimulai dari Dermaga Tanjung Puting

Dua kapal klotok siap menampun riombongan Astra Agro. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Petualangan seru bertandang ke rumah orangutan di hutan Borneo dimulai dari Dermaga Tanjung Puting National Park. Lokasi dermaga yang tepatnya berada di Kumai, Kotawaringin Barat, ini kami tempuh sekitar 30 menit dengan menggunakan bus dari Hotel Mercure di Kota Pangkalan Bun, tempat kami menginap.

Di dermaga tersebut telah menanti dua kapal klotok, perahu motor kayu berkapasitas 20-25 penumpang. Setelah foto bersama, rombongan yang berjumlah sekitar 50 ini kemudian terbagi dua dan boarding ke dalam kapal. Turut berbaur dalam kapal bersama para wartawan, Bandung Sahari – Chief Agronomy & Sustainability Officer PT Astra Agro Lestari, beserta jajaran Tim Media Relation antara lain: Muhammad Husni, Pandu Gumilar, Galih, Azhar, Yuni, dan Puteri.

Salah satu kapal klotok yang mengangkut sebagian rombongan Astra Agro. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Perjalangan dengan kapal klotok ke Tanjung Puting harus ditempuh sekitar 3 jam-an, mengingat kecepatan rendah kapal dan jalur sungai yang tidak mulus karena kadang terhalang “sampah” hasil tebangan pohon nipah yang belum dibersihkan. Perlahan-lahan dua kapal klotok kami meliuk-liuk menyusuri Sungai Sekonyer dengan pohon nipah memagari kiri kanan sungai.

Selain rangkaian pohon nipah, ada juga pohon rasau yang merupakan salah satu makanan bekantan, monyet berambut merah dan hidung panjang. Itulah sebabnya kami di sepanjang perjalanan, tak henti mendongakkan kepala, menengok ke kiri dan ke kanan, berharap melihat bekantan atau monyet ekor panjang yang sedang bergelayut di pohon. Dan, betul juga. Beberapa kali kami memergoki sejumlah bekantan yang merupakan hewan endemik Kalimantan ini tampak di pohon. Wow!

Sejumlah wisman sabar menunggu feeding time. Foto: benang.id/Gora Kunjana
Sejumlah wisman menyaksikan orangutan makan. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Tak kalah takjubnya, kami juga dapat melihat dan mendengar kicauan burung rangkong, gantung, bubut serta burung raja udang di sepanjang penyusuran sungai. Tak mengherankan mengingat di kawasan ini terdapat sekitar 220 spesies burung.

Dengan berbagai pengalaman tak ternilai dan menentramkan hati itu, tak ada sedikit pun muncul rasa bosan dan risau meski perjalangan relatif lama. Kami semua juga asyik bersendau gurau, dan tentu saja berselfi ria dengan latar belakang pemandangan indah seiring kapal klotok menyusuri sungai. Belum lagi terpaan angin yang mampu menyibakkan rambut, dan membuat beberapa teman mengantuk dan tertidur.

Foto bersama sebelum petualangan menyusuri Sungai Sekonyer. Foto: Tim Media Astra Agro

Sekitar pukul setengah tiga siang, akhirnya kami tiba di Pos Tanjung Harapan, pos utama pertama dari Taman Nasional Tanjung Puting. Adapun pos utama lainnya ada di Pondok Tanggui, dan Camp Leakey, Natai Lengkuas, Danau Burung, dan Sungai Buluh. Pos Tanjung Harapan menjadi pilihan pertama yang dikunjungi karena letaknya paling dekat dengan pintu masuk dari Kecamatan Kumai.

Untuk mencapai arena food feeding, dari tepi sungai kami perlu treking atau berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Saat tiba di sana menjelang feeding time pukul 15.00, kami melihat sudah banyak pengunjung sebagian besar wisman duduk di bangku kayu di depan area panggung kayu tempat food feeding. Sementara menunggu waktu, pengunjung dapat melihat sejumlah orangutan bergelayut di pohon di sekitar area. Mereka tampaknya juga sedang menunggu acara makan siang. Karena sudah hafal jadwalnya.

Perbekalan lengkap dengan aneka minuman dan snack sudah siap di meja di tengah kapal untuk menemani selama hampir 3 jam perjalanan menuju Tanjung Harapan. Foto: benang.id/Gora Kunjana
Menu makan siang komplit plus buah; nanas, pepaya, dan semangka sebagai penutup. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Kami sendiri tidak merasa lapar dan haus, karena sudah santap siang di atas klotok hasil olahan chef kapal. Lumayan nikmat, selain sayur capcay, lauknya pun cukup beragam mulai dari ikan asin, tempe dan bakwan goreng, juga ayam bakar, serta penyempurna rasa; sambal terasi. Maknyusss dah.

Sangat Terancam Punah

Ujung atau moncong kapal saat membelah Sungai Sekonyer. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Orangutan adalah makhluk kerabat dekat manusia, dengan 97% DNA mereka sama dengan manusia. Orangutan memiliki kecerdasan tinggi. Mampu menjalin hubungan personal dan merasakan emosi, seperti duka akibat kehilangan. Jelaslah mengapa makhluk ini dinamakan ‘orangutan’ yang berarti ‘orang dari hutan’. Namun mereka berstatus “sangat terancam punah”, dan akan punah total jika kita tak segera bertindak.

Satu-satunya kera besar Asia, orangutan hanya ditemukan di pulau Sumatra dan Kalimantan. Ada 3 spesies orangutan yaitu Pongo pygmaeus (orangutan Kalimantan), Pongo abelii (orangutan Sumatra), dan Pongo tapanuliensis (orangutan Tapanuli yang baru ditemukan). Mayoritas (+85%) orangutan terdapat di Indonesia (Sumatra dan Kalimantan), sementara 15% sisanya hidup di Sabah dan Sarawak, Malaysia.

Tampak seekor orangutan segera turun begitu ranger meninggalkan feeding area. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Nah, Taman Nasional Tanjung Puting yang terletak di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah punahnya orangutan. Pada tahun 1936, daerah ini adalah cagar alam dan suaka margasatwa, kemudian ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1984. Taman Nasional Tanjung Puting adalah pusat rehabilitasi orang utan pertama di Indonesia.

Orangutan menikmati makanan di feeding area. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Tanjung Puting Taman Nasional di ketinggian 0-100 meter di atas permukaan laut memiliki beberapa jenis ekosistem hutan hujan tropis, dataran rendah, hutan tanah kering, hutan rawa air tawar, hutan bakau, hutan pantai, dan hutan sekunder. Taman nasional ini juga rumah bagi spesies yang dilindungi selain endemik orangutan, juga bekantan, monyet merah, beruang, rusa, dan kucing liar.

Luas total Taman Nasional Tanjung Puting adalah 415,040 ha Tanjung Puting Wildlife Reserve merupakan daerah 300,040 ha, seluas 90.000 ha hutan produksi, dan perairan seluas 25.000 ha. (*)

Gora Kunjana dari Tanjung Puting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here