Pohon Natal Zero Waste Bukti Nyata Kepedulian Umat Katolik Kraksaan

0
35
Kantong-kantong beras 3 kg, mie instan, gula pasir, kopi, minuman instan dan lain sebagainya, disusun rapi di depan gua / palungan Natal.

Kraksaan, benang.id – Pada tanggal 11 Januari 2026, bertepatan dengan Hari Raya Pembaptisan Tuhan, umat Katolik menutup kemeriahan rangkaian perayaan Natal 2025. Romo Devit Setiawan Pr memimpin misa perayaan yang diikuti seluruh umat Katolik Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, yang hadir di gedung gereja.

Di Kuasi Paroki St Paulus Kraksaan, Natal yang bertema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” ini telah dipersiapkan dengan hikmat sejak 30 November 2025 yaitu pada Minggu Adven Pertama, dilanjutkan dengan Natal pada tanggal 25 Desember, Oktaf Natal, dan menemukan akhirnya di perayaan Minggu (11/1/2026) ini. Cukup panjang memang waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan diri menyambut perayaan kelahiran Yesus Kristus ini.

Pohon Natal sembako

Ada yang unik di Gereja Katolik St Paulus Kraksaan tahun ini. Simbol-simbol Natal seperti gua Natal, palungan Natal (simbol tempat makan di kandang hewan yang menjadi peraduan perdana Yesus Kristus ketika Ia dilahirkan), juga pohon Natal dihadirkan tetapi dalam dekorasi yang tidak biasa. Alih-alih memakai pernak-pernik mewah berkilauan, umat memutuskan untuk memakai sembako. Ada kantong-kantong beras 3 kg, mie instan, gula pasir, kopi, minuman instan dan lain sebagainya, disusun rapi di depan gua / palungan Natal. Sungguh pemandangan yang menarik dan menggelitik.

Ketika ditanya mengapa menggunakan konsep seperti itu, ternyata itu adalah bentuk kepedulian umat terhadap sesama. Masih banyak orang yang membutuhkan bahan makanan, terlebih di zaman ekonomi ketat sekarang ini, sehingga sepatutnyalah umat menerapkan gaya hidup sederhana dan berbagi dengan keluarga-keluarga pra sejahtera.

Kantong-kantong beras 3 kg, mie instan, gula pasir, kopi, minuman instan dan lain sebagainya, disusun rapi di depan gua / palungan Natal.

Di samping itu, dengan memanfaatkan aneka bahan makanan kering tersebut, gua dan pohon natal ini menjadi zero waste, tidak menghasilkan sampah. Patung-patung natal dan lampu-lampu disimpan untuk dipakai lagi di tahun-tahun berikutnya. Aneka pot tanaman dikembalikan ke kebun gereja untuk dirawat dan dikembangbiakkan. Sembako yang sudah selesai dipakai akan dibagikan kepada keluarga pra sejahtera yang membutuhkan. Inilah bentuk kepedulian umat Katolik St Paulus terhadap kondisi lingkungan hidup di Kraksaan.

Pada akhirnya, perayaan Natal sudah seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek ritual tetapi juga pada aspek keadilan sosial.

Sembako yang sudah selesai dipakai akan dibagikan kepada keluarga pra sejahtera yang membutuhkan.

Bapa Suci Paus Leo XIV pada pidatonya di depan orang muda di Vatikan tanggal 10 Januari 2026 menegaskan: “Bagaimana kita menghadapi begitu banyak persoalan, dengan begitu banyak kekuatiran? Bagaimana kita mengatasi kesepian, bagaimana kita bertahan? Jawabnya: we are not alone. Kita tidak sendirian!”

Betapa indahnya dunia jika umat manusia bersama-sama bergandengan tangan, saling menemani dan membantu, dan dengan begitu memanusiakan manusia. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here