Putar Kanan, Putar Kiri, Maju ke Depan, Mundur ke Belakang — Asal Jangan Serong

0
73
Ilustrasi kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini
Ketua Umum JKJT Agustiinus Tedja GK Bawana

Oleh: Agustinus Tedja GK Bawana *)

Bangsa ini sedang berada dalam sebuah persimpangan besar. Hampir setiap hari masyarakat disuguhi berbagai persoalan yang seolah datang silih berganti. Mulai dari harga BBM yang naik turun, nilai tukar dolar yang mempengaruhi harga kebutuhan pokok, polemik pembukaan lahan yang bersinggungan dengan lingkungan dan investasi, perdebatan mengenai film “Pesta Babi”, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memunculkan pro dan kontra.

Ironisnya, dalam menghadapi berbagai persoalan tersebut, kita sering terjebak dalam kebiasaan lama: melihat segala sesuatu hanya dari sudut “benar” atau “salah”. Akibatnya, diskusi yang seharusnya menghasilkan solusi justru berubah menjadi arena saling menyalahkan. Padahal dalam kehidupan berbangsa, tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan menunjuk siapa yang benar dan siapa yang salah.

Seorang komandan lapangan ketika memimpin pasukannya akan mengenal empat perintah dasar: putar kanan, putar kiri, maju jalan, dan balik kanan atau mundur. Semua perintah itu memiliki fungsi sesuai situasi. Tidak ada yang lebih hebat satu sama lain.

Putar kanan diperlukan ketika arah tujuan berada di sebelah kanan. Putar kiri diperlukan ketika ancaman atau peluang datang dari sisi kiri. Maju diperlukan ketika keadaan memungkinkan untuk bergerak menuju sasaran. Mundur terkadang diperlukan untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan menyusun strategi yang lebih baik. Yang menjadi masalah bukanlah putar kanan atau putar kiri. Bukan pula maju atau mundur.

Masalah muncul ketika seseorang berjalan serong. Serong adalah sikap ketika seseorang tidak lagi melihat tujuan bersama, melainkan hanya mengikuti kepentingan kelompok, ego pribadi, fanatisme politik, atau kebencian terhadap pihak lain.

Dalam posisi serong, fakta tidak lagi penting. Yang penting hanyalah membenarkan kelompok sendiri dan menyalahkan kelompok lain. Ketika BBM naik, kelompok tertentu langsung menyalahkan pemerintah tanpa memahami kondisi geopolitik dunia dan beban fiskal negara. Sebaliknya ada pula yang membela tanpa mau mendengar kesulitan masyarakat kecil.

Ketika dolar menguat, sebagian orang panik seolah negara akan runtuh. Sebagian lainnya menganggap semua baik-baik saja tanpa melihat dampak terhadap UMKM, industri, dan daya beli rakyat.

Ketika pembukaan lahan dilakukan untuk kepentingan ekonomi dan ketahanan pangan, ada yang hanya melihat keuntungan investasi tanpa memikirkan kerusakan lingkungan. Sebaliknya ada yang menolak seluruh pembangunan tanpa menawarkan alternatif yang realistis bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

Ketika muncul polemik film “Pesta Babi”, sebagian sibuk menyerang karya seni, sementara sebagian lain mengabaikan sensitivitas sosial yang berkembang di masyarakat. Padahal dialog dan pemahaman budaya jauh lebih penting daripada saling menghujat. Begitu pula dengan program MBG. Ada yang menganggapnya sebagai solusi masa depan generasi bangsa, ada yang melihatnya sebagai pemborosan anggaran. Kedua pandangan memiliki ruang diskusi yang sah. Yang diperlukan bukan perang opini, melainkan pengawasan agar program berjalan efektif, tepat sasaran, dan memberi manfaat nyata.

Bangsa yang besar tidak dibangun oleh mereka yang hanya pandai menunjuk kesalahan. Bangsa yang besar dibangun oleh mereka yang mampu membaca situasi secara utuh. Dalam filsafat kehidupan, ada sebuah pemahaman bahwa kebenaran sering kali tidak berdiri sendiri. Ia harus ditempatkan dalam konteks ruang, waktu, dan kemanfaatan bagi masyarakat luas.

Mata yang hanya melihat ke kanan akan kehilangan pandangan di kiri. Mata yang hanya melihat ke kiri akan kehilangan pandangan di kanan. Mata yang hanya melihat ke belakang akan tertinggal. Namun mata yang hanya melihat ke depan tanpa belajar dari masa lalu juga berpotensi menabrak jurang.

Karena itu seorang pemimpin, seorang warga negara, bahkan seorang aktivis kemanusiaan harus memiliki kemampuan melihat ke empat arah sekaligus. Melihat ke kanan untuk memahami peluang. Melihat ke kiri untuk memahami risiko. Melihat ke belakang untuk mengambil pelajaran. Melihat ke depan untuk menemukan solusi.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia juga tidak kekurangan orang yang mampu mengkritik. Yang masih kurang adalah mereka yang mampu menjembatani perbedaan dan mengubah kritik menjadi jalan keluar. Hari ini yang dibutuhkan bukan sekadar teriakan bahwa sesuatu salah. Yang dibutuhkan adalah keberanian menjawab: “Jika salah, lalu apa solusi yang lebih baik?”

Nasionalisme sejati bukanlah membela pemerintah secara membabi buta. Nasionalisme juga bukan membenci pemerintah dalam segala keadaan. Nasionalisme adalah keberanian menjaga kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Karena itu, mari belajar dari perintah baris-berbaris yang sederhana. Putar kanan bila memang harus ke kanan. Putar kiri bila memang harus ke kiri. Maju bila waktunya maju. Mundur bila keadaan mengharuskannya. Tetapi jangan pernah berjalan serong. Sebab bangsa yang berjalan serong akan terus sibuk memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah, sementara bangsa lain sudah berjalan jauh menuju masa depan.

Dan pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya siapa yang paling keras berteriak. Sejarah akan bertanya siapa yang mampu menghadirkan solusi bagi rakyatnya. **

*) Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here