Friday, February 23, 2024
No menu items!
spot_img
HomeNasionalRm Budi Purnomo: Budayawan Harus Jadi Suluh Pencerah, Bukan Pemecah Belah

Rm Budi Purnomo: Budayawan Harus Jadi Suluh Pencerah, Bukan Pemecah Belah

Jakarta, benang,id – Ramai diberitakan bahwa Butet Kertarejasa dan Agus Noor mengaku mendapatkan intimidasi lantaran menggelar pertunjukan seni di Taman Ismail Marzuki, pada 1 Desember 2023 lalu. Mereka mengklaim bahwa intimidasi dilakukan oleh oknum polisi, dengan permintaan agar tidak menggelar kegiatan yang mengandung unsur politik. Diceritakan, sore hari sebelum acara berlangsung, sejumlah petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Cikini tiba-tiba datang dan meminta penyelenggara membuat surat pernyataan agar tidak menampilkan pertunjukan dengan unsur politik. Butet kemudian menandatangani surat tersebut.

“Bagi kami itu adalah intimidasi,” kata Agus Noor, Senin (4/12/2023).

Selain berisi pernyataan tidak menyinggung materi berbau politik, surat tersebut juga mencantumkan komitmen penanggung jawab teater tidak melakukan dan menyebarkan bahan kampanye pemilihan umum (pemilu).

Menanggapi polemik tersebut, Rohaniwan Katolik yang dikenal sebagai Budayawan Interreligius, Romo Aloysius Budi Purnomo, mengimbau masyarakat untuk tak terjebak dalam situasi panas menjelang helat pilpres.

“Kalau benar telah terjadi intimidasi, saya turut prihatin dan sedih. Itu tidak boleh terjadi. Namun, dalam suasana semacam ini, provokasi dan disinformasi itu mudah terjadi. Karena itu kita mesti jernih mencerna setiap informasi yang kita terima,” terang Rm Budi Purnomo dalam keterangan tulisnya, Rabu (6/12/2023).

Lebih lanjut, Doktor Ilmu Lingkungan Soegijapranata Catholic University itu juga memberikan nasihat agar para politisi, akademisi, budayawan, dan cerdik pandai untuk bersikap bijak dan waskita.

“Janganlah kita gampang diadu-domba oleh kepentingan politik praktis. Budayawan pun tidak boleh memecah belah, namun harus menjadi suluh pencerah peradaban kasih tanpa diskriminasi,” tandasnya.

“Marwah Budayawan itu tersemat di pundaknya klaim terhadap otoritas peradaban kasih ekologis, pengetahuan, dan kebudayaan yang merangkul bukan memukul; menebarkan kasih bukan selisih. Itu amanat berat untuk menjadi berkat bagi masyarakat. Jangan sampai hanya karena urusan dukung mendukung di wilayah politik kekuasaan, marwah dan martabat kebudayawanan dikesampingkan. Eman-eman“, paparnya.

Terakhir, Romo yang selama ini dikenal aktif mewujudkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan secara interreligius itu berpesan agar semua pihak menjaga kondusivitas dan mengutamakan hidup yang harmonis antar anak bangsa menjelang pesta rakyat pemilihan presiden dan wakil presiden.

“Tenun kebangsaan kita, jangan sampai koyak lantaran kita tak kuasa menahan diri untuk tidak saling memprovokasi karena alasan politik praktis yang berujung pada kekuasaan semata. Hidup harus dirayakan dalam semangat menjunjung tinggi keberagaman, kerukunan, dan persaudaraan yang saling terjalin indah! Itulah peradaban kasih ekologis,” pungkasnya. (*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments