
Mendaratkan Dokumen Abu Dhabi dan mengonkretkan moderasi beragama melalui gotong royong, penghormatan kepada pahlawan, dan persaudaraan lintas iman
Probolinggo, benang.id – Menyongsong 100 tahun Keuskupan Malang, Gereja Katolik Santo Paulus Kraksaan, Probolinggo, yang dipimpin Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr, menggelar kegiatan kerja bakti lintas agama di Taman Makam Pahlawan (TMP) Probolinggo, Sabtu (31/10/2026).
“Kegiatan ini dilaksanakan juga dalam rangka menyambut Hari Pahlawan 10 November, sekaligus menjadi wujud nyata persaudaraan lintas iman dan komitmen merawat kerukunan di tengah keberagaman masyarakat,” tutur Rm Fadjar, dalam keterangannya yang diterima Senin (2/11/2026).
Kegiatan yang digelar mulai pukul 6.30 inni, melibatkan umat Katolik, jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Gerakan Pemuda Ansor, perwakilan Pondok Pesantren Nurul Jadid (PP Nurul Jadid), serta utusan Wakil Bupati Probolinggo dari LBP (Lora Berpikir Perubahan).

Rm Fadjar mengatakan bahwa kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan agama dan latar belakang bukan penghalang untuk bekerja bersama demi kepentingan bangsa dan kemanusiaan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara penghormatan kepada para pahlawan, yang menjadi momentum untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pejuang yang telah memberikan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia. Semangat perjuangan mereka menjadi pengingat bahwa persatuan dan perdamaian merupakan warisan berharga yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.
Usai upacara, para peserta melaksanakan kerja bakti bersama di kawasan Taman Makam Pahlawan, meliputi pengecatan warna hitam-putih pada jalur menuju makam, baik di bagian luar maupun di dalam area makam, pembersihan setiap makam, pencabutan dan pemotongan rumput, serta pengumpulan sampah di lingkungan sekitar.

Dalam suasana gotong royong, para peserta bahu-membahu tanpa membedakan agama, keyakinan, maupun organisasi. Semua mengambil bagian dalam pekerjaan yang sama, yakni merawat lingkungan makam sekaligus memberikan penghormatan kepada mereka yang telah berjasa bagi bangsa dan negara.
Setelah kerja bakti selesai, kegiatan dilanjutkan dengan tabur bunga di makam para pahlawan. Tabur bunga menjadi ungkapan penghormatan, rasa syukur, dan terima kasih atas pengorbanan para pejuang yang telah mewariskan kemerdekaan kepada generasi sekarang.
Menurut Rm Fadjar, rangkaian upacara, kerja bakti, dan tabur bunga tersebut menyampaikan pesan bahwa menghormati pahlawan tidak cukup hanya melalui seremoni. “Semangat kepahlawanan perlu dihidupi dalam tindakan nyata, termasuk menjaga persatuan, merawat lingkungan, dan membangun persaudaraan di tengah masyarakat yang beragam,” tandasnya.
Mendaratkan Dokumen Abu Dhabi dalam Kehidupan Nyata

Lebih jauh Rm Fadjar mengatakan, kegiatan lintas agama ini bukan sekadar aksi sosial, melainkan juga upaya konkret untuk mendaratkan nilai-nilai Dokumen Abu Dhabi, yaitu Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmad Al-Tayyeb pada 4 Februari 2019.
“Dokumen tersebut menegaskan pentingnya persaudaraan manusia, dialog antarumat beragama, penghormatan terhadap martabat setiap manusia, serta kerja sama demi perdamaian dunia,” jelas Rm Fadjar.

Ia meyakini bahwa semangat itu menemukan bentuk nyata ketika umat Katolik, jemaat GKJW, anggota Ansor, perwakilan PP Nurul Jadid, dan unsur masyarakat lainnya bersedia hadir dan bekerja bersama. Mereka tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk memiliki kepedulian yang sama terhadap lingkungan, sejarah bangsa, dan kehidupan bersama.
Bagi Rm Fadjar, mendaratkan Dokumen Abu Dhabi berarti membawa pesan persaudaraan dari tingkat gagasan menuju tindakan yang dapat dilihat dan dirasakan. Persaudaraan tidak berhenti pada pernyataan atau dialog formal, tetapi diwujudkan melalui kesediaan untuk saling menghormati, bekerja sama, dan berkontribusi bagi kebaikan bersama.
“Perbedaan keyakinan tetap dihormati. Setiap kelompok tetap memiliki identitas dan tradisi keagamaannya masing-masing, tetapi semuanya dapat bertemu dalam nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan perdamaian,” ujarnya.
Moderasi Beragama yang Dikerjakan Bersama

Rm Fadjar menekankan bahwa moderasi beragama menjadi konkret ketika nilai-nilai toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, penolakan terhadap kekerasan, dan komitmen kebangsaan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kerja bakti ini, lanjutnya, moderasi beragama tidak hanya dibicarakan dalam seminar, diskusi, atau ceramah. “Nilai-nilainya dipraktikkan melalui tindakan sederhana: mengecat jalur makam, membersihkan makam, mencabuti dan memotong rumput, mengumpulkan sampah, serta memberikan penghormatan kepada para pahlawan melalui tabur bunga,” imbuhnya.
Bagi Rm Fadjar, ketika orang-orang dari berbagai agama bekerja berdampingan, mereka membangun ruang perjumpaan yang memperkuat kepercayaan. Mereka belajar bahwa di balik perbedaan keyakinan terdapat kesamaan kepedulian terhadap lingkungan, penghormatan terhadap sejarah bangsa, dan harapan akan kehidupan yang damai.

Ia mengingatkan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama masing-masing. Sebaliknya, moderasi beragama mendorong setiap orang menghayati imannya secara dewasa, menghormati martabat sesama, dan menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.
“Kerukunan pun tidak berhenti sebagai slogan. Kerukunan menjadi pengalaman nyata ketika orang bersedia menyapa, saling membantu, dan menyelesaikan pekerjaan bersama tanpa prasangka,” tandasnya.
Satu Abad Keuskupan Malang: Gereja Hadir bagi Semua

Di sisi lain, bagi Gereja Katolik Santo Paulus Kraksaan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari semangat menyongsong 100 tahun Keuskupan Malang. Momentum satu abad bukan hanya kesempatan untuk mengenang perjalanan sejarah Gereja, melainkan juga saat untuk memperbarui komitmen pelayanan kepada masyarakat.
Gereja dipanggil untuk hadir di tengah kehidupan masyarakat dan berjalan bersama semua orang yang berkehendak baik. Iman tidak hanya diungkapkan melalui doa dan perayaan liturgi, tetapi juga melalui kepedulian sosial, pelayanan kemanusiaan, dialog antaragama, dan usaha membangun perdamaian.

Kegiatan lintas agama ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan Gereja dalam membangun kehidupan bersama. Umat Katolik bekerja berdampingan dengan jemaat GKJW, Gerakan Pemuda Ansor, perwakilan PP Nurul Jadid, dan utusan Wakil Bupati Probolinggo dari LBP.
Kebersamaan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Gereja menuju satu abad dapat diisi dengan tindakan yang memperkuat persaudaraan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Gereja tidak kehilangan identitasnya ketika membangun kerja sama dengan umat beragama lain. Justru melalui perjumpaan dan pelayanan bersama, Gereja dapat memberikan kesaksian tentang kasih, penghormatan terhadap sesama, dan kepedulian terhadap kehidupan.
Menyongsong 100 tahun Keuskupan Malang menjadi kesempatan untuk terus bertanya: sejauh mana kehadiran Gereja membawa harapan, mempererat persaudaraan, dan membantu menciptakan masyarakat yang semakin rukun dan damai? “Kerja bakti lintas agama ini merupakan salah satu langkah nyata untuk menjawab panggilan tersebut,” tegas Rm Fadjar.
Menghormati Pahlawan, Merawat Persatuan Bangsa

Taman Makam Pahlawan menjadi ruang refleksi kebangsaan yang mempertemukan masyarakat dalam penghormatan terhadap jasa para pejuang. Di tempat ini, setiap orang diingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan yang melampaui kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan.
Upacara menghidupkan ingatan tentang perjuangan para pahlawan. Kerja bakti menerjemahkan penghormatan itu ke dalam tindakan nyata. Tabur bunga mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas pengorbanan mereka.
Ketiga rangkaian kegiatan tersebut mengandung pesan yang mendalam: sejarah perlu dikenang, lingkungan perlu dirawat, dan persaudaraan harus terus dihidupi.

Jika para pahlawan dahulu berjuang demi kemerdekaan dan persatuan, generasi sekarang dipanggil untuk meneruskan perjuangan itu dengan merawat kerukunan, menolak diskriminasi, menjaga lingkungan, dan memperkuat solidaritas sosial.
Dalam masyarakat Probolinggo yang beragam, kerja sama lintas agama menjadi salah satu cara untuk memperkuat kepercayaan dan membangun kehidupan bersama yang damai. Perbedaan tidak perlu menjadi sumber pertentangan, tetapi dapat menjadi kekuatan ketika semua pihak bersedia bekerja untuk tujuan bersama.
Terakhir, Rm Fadjar mengharapkan, semangat kegiatan ini tidak berhenti pada peringatan Hari Pahlawan atau momentum satu abad Keuskupan Malang. Semangat gotong royong dan persaudaraan tersebut dapat terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan bersama di bidang sosial, lingkungan, pendidikan, dan kemanusiaan.
“Sebab, persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan. Persaudaraan harus dihidupi, dirawat, dan diwariskan demi Indonesia yang semakin rukun, damai, dan bermartabat. Moderasi dan Toleransi Bergama bukan hanya wacana dan pemahaman tapi narasi dan pengalaman,” pungkasnya. (*/GK)

