Tuesday, September 27, 2022
No menu items!
spot_img
HomeEkonomiStakeholder Sawit Harus Kompak Hadapi Situasi Penuh Tantangan

Stakeholder Sawit Harus Kompak Hadapi Situasi Penuh Tantangan

Jakarta, benang.id –  Seluruh stakeholder dan supply chain industri sawit Indonesia dari hulu hingga hilir harus kompak dalam menghadapi situasi yang penuh tantangan saat ini.

Demikian ditegaskan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono dalam acara Buka Puasa Gapki Bersama Media dan Stakeholder Kelapa Sawit di Ayana-Mid Plaza, Jakarta, Selasa (19/4/2022).

“Oleh karena itu acara buka puasa ini bukan saja untuk Gapki namun juga mengajak seluruh supply chain supaya kita ini dari hulu sampai hilir tetap kompak apalagi saat ini sawit Indonesia menghadapi situasi yang challenging,” tandas Joko Supriyono.

Untuk diketahui, selain jajaran pengurus Gapki pusat dan daerah, Buka Puasa offline pertama setelah 2 tahun Covid-19 ini juga dihadiri seluruh stakeholder industri sawit di Indonesia. Ikut memberikan update informasi di antaranya Sahat Sinaga—Direktur Eksekutif GIMNI, Paulus Tjakrawan-Ketua Harian Aprobi, dan Rapolo Hutabarat-Ketua Umum Apolin.

Bukber Gapki
Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Joko Supriyono menjelaskan bahwa di situasi yang challenging saat ini satu hal yang sangat penting adalah seluruh pemangku kepentingan industri sawit saling memberikan informasi dan pemahaman supaya dapat me-manage situasi penuh tantangan ini dengan baik.

“Situasi global memang harga komoditas naik semua, termasuk minyak nabati yang juga mengalami harga yang meroket karena supply dan demand. Dan juga sawit menjadi bagian yang tak terpisahkan. Jadi kalau harga demikian tinggi namun menimbulkan ekses kemana-mana itu karena supply dan demand. Supply nabati yang ketat karena faktor-faktor kegagalan panen ditambah terakhir faktor perang Ukraina-Rusia,” papar Joko.

Nah, ternyata lanjut Joko, sawit Indonesia berkontribusi tidak terlalu excellent. Di satu sisi supply minyak nabati global mengalami pengetatan, supply minyak sawit juga sama. Seharusnya kalau produksi sawit Indonesia melimpah ruah tentu keadaan akan mendingan.

“Ternyata memang di pasar global supply ketat, produksi sawit kita tidak seperti yang kita harapkan dan data dua bulan pertama produksi sawit kita juga turun,” ucapnya. “Jika produksi turun maka ekspor kita juga turun.”

Bukber Gapki
Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Joko memprediksi bahwa industri sawit Indonesia masih akan menghadapi situasi yang sulit ini beberapa bulan ke depan. “Dan, itu tadi situasi ini harus kita manage supaya tidak menimbulkan ekses kemana-mana. Masalah minyak goreng itu adalah ekses dari situasi ini,” tambah Joko.

Untuk itulah, lanjut Joko, Gapki mengundang stakeholder sawit untuk dapat memberikan update informasi agar media dan publik mendapatkan pemahaman yang lengkap terkait situasi industri sawit saat ini.

Joko Supriyono dalam kesempatan tersebut juga mengapresiasi dukungan media nasional melalui pemberitaan yang positif terkait industri sawit. 

“Harapan besar kami semua adalah agar kerja sama antara Gapki dengan media nasional ini terus dilanjutkan dan dikembangkan hingga betul-betul sebagai bagian yang mendukung industri sawit yang merupakan bagian yang sangat penting bagi Indonesia,” tutur Joko.

Menurut dia, media nasional selalu update soal industri sawit. Ia mengibaratkan hitam putih, merah, kuning atau hijaunya industri sawit tergantung pemberitaan media.  

“Terima kasih kepada teman-teman media yang selama ini sudah memberikan dukungan terhadap kemajuan industri sawit. Dan yang paling penting adalah perkembangan opini masyarakat terhadap industri sawit makin lama makin membaik sehingga industri kebanggaan kita bersama ini bisa makin maju,” pungkasnya.

Produksi masih lesu, harga tetap tinggi 

Bukber Gapki
Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Sementara itu, berdasarkan data Gapki, harga rata-rata CPO CIF Rotterdam pada bulan Februari 2022 mencapai US$1.522/ton, US$164 lebih tinggi dari harga bulan Januari sebesar US$1.358/ton, US$469 lebih tinggi dibandingkan dengan harga Februari 2021 sebesar US$1.053/ton.

Harga KPBN FOB untuk Februari adalah Rp15.532/kg berbanding Rp14.811 di bulan Januari.

Harga yang tinggi tersebut disebabkan oleh produksi minyak nabati dunia yang tidak seperti diharapkan terutama untuk kedelai di Amerika Selatan.

Produksi CPO Indonesia pada Februari 2022 diperkirakan sebesar 3.505 ribu ton dan PKO
sebesar 302 ribu ton yang lebih rendah dari produksi bulan Januari sebesar 3.863 ribu ton untuk CPO dan 365 ribu ton untuk PKO karena faktor musiman.

Harga yang sangat tinggi berdampak pada konsumsi dan ekspor. Konsumsi dalam negeri untuk pangan bulan Februari 2022 sebesar 489 ribu ton adalah 17,3% lebih rendah dari bulan Januari sebesar 591 ribu ton.

Konsumsi oleokimia bulan Februari sebesar 178 ribu ton dan biodiesel 710 ribu ton yang dibandingkan dengan konsumsi Januari masing- masing turun sebesar 2,7% dan 3%.

Total ekspor sawit bulan Februari mencapai 2.098 ribu ton adalah lebih rendah dibandingkan dengan bulan Januari 2.179 ribu ton (-3,7%) sehingga walaupun harga bergerak naik, nilai ekspor minyak sawit bulan Februari yang
mencapai US$2.799 juta, lebih rendah 0,6% dari nilai bulan Januari sebesar US$2.816 juta.

Sattistik sawit

Penurunan ekspor yang besar terjadi untuk tujuan Afrika sebesar 153,3 ribu ton dari 278,1 ribu ton di bulan Januari menjadi 134,7 di bulan
Februari (-54%).

Penurunan yang cukup besar juga terjadi untuk tujuan Filipina sebesar -55% dari 63,8 ribu ton di bulan Januari menjadi 28,7 ribu ton di bulan Februari.

Ekspor untuk tujuan Rusia turun 7,8% dari 69,6 ribu ton pada Januari menjadi 64,2 ribu ton pada Februari. Ekspor ke Ukraina fluktuatif dengan rata-rata bulanan pada 2021 sebesar 25 ribu ton. Pada Januari 2022, ekspor ke Ukraina turun menjadi hanya 256 ton sedangkan pada Februari pulih dan mencapai 15,28 ribu ton.

Ekspor untuk tujuan Belanda, China, India, Bangladesh dan Malaysia naik cukup besar. Ekspor ke Belanda di bulan Februai mencapai 184,41 ribu ton naik dari 128,27 ribu pada Januari (+42,21%) sedang untuk China mencapai 240,3 ribu ton naik dari 197,4 ribu ton (+21,7%), untuk India mencapai 290,2 ribu ton naik dari 249,9 ribu ton (+16,12%), untuk Bangladesh mencapai 126,0 ribu ton naik dari 87,6 ribu ton (+43,9%) dan untuk Malaysia mencapai 229,5 ribu ton naik dari 180,4 ribu ton (+27,2%).

BMKG memperkirakan cuaca sepanjang 2022 akan normal, tetapi situasi geopolitik menimbulkan berbagai ketidakpastian, sehingga meningkatkan upaya efisiensi dan produktivitas merupakan tindakan bijak yang harus dipertahankan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments