
Bogor, benang.id – Musyawarah mufakat dalam Temu Nasional (Temunas) IV PEREMPUAN AMAN, menetapkan Margareta Seting Tekwan Beraan sebagai Ketua Umum Persekutuan Perempuan Adat Nusantara AMAN (PEREMPUAN AMAN) periode 2026–2031. Proses ini menegaskan pentingnya pengambilan keputusan secara kolektif dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan memperkuat kepemimpinan Perempuan Adat.
Pemilihan berlangsung melalui musyawarah yang melibatkan perwakilan tujuh region hingga mencapai kesepakatan bersama tanpa pemungutan suara. Hasil tersebut menjadi bagian dari proses organisasi untuk menentukan kepemimpinan lima tahun ke depan sekaligus merawat kebersamaan di tengah beragam pandangan.
Margareta akan memimpin PEREMPUAN AMAN bersama Dewan Nasional (DeNas) periode 2026–2031. Susunan DeNas terpilih terdiri atas Marlina Taba sebagai Ketua, Evi Susanti sebagai Wakil Ketua I, dan Margaretha Lisiye Suwae sebagai Wakil Ketua II. Adapun anggota lainnya adalah Elwina Lamtiur Situmorang, Yurni Sadariah, Suparmi, dan Nofriyani Konofo.

Usai terpilih, Margareta menyoroti pentingnya keterlibatan kader dari berbagai komunitas dan generasi untuk memperkuat organisasi. Perjumpaan dengan anggota baru, menurutnya, menjadi modal bagi perkembangan PEREMPUAN AMAN ke depan. “Saya senang sekali bertemu dengan orang-orang baru ini, dan saya yakin ini akan menjadi landasan atau dasar bagi perkembangan PEREMPUAN AMAN ke depan,” ujar Margareta.
Ia menegaskan kepemimpinan baru akan menjalankan mandat yang dirumuskan bersama anggota, termasuk program kerja dan statuta organisasi. Mandat tersebut menjadi pijakan untuk menjaga keberlanjutan gerakan sekaligus memperkuat kerja kolektif. “Apa yang sudah dicanangkan atau dipilih atau ditetapkan oleh teman-teman semua sebagai program kerja maupun statuta yang kita sepakati, itulah yang akan saya jalankan,” katanya.
Memperkuat Kepemimpinan Kolektif

Pergantian kepemimpinan PEREMPUAN AMAN menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun ruang bagi Perempuan Adat untuk bersuara dan mengambil peran dalam pengambilan keputusan. Setelah Margareta Seting Tekwan Beraan terpilih sebagai Ketua Umum periode 2026–2031, Devi Anggraini, yang memimpin organisasi selama dua periode(2015-2021 dan 2021-2026), menekankan pentingnya melanjutkan upaya memperluas ruang partisipasi tersebut.
“Kawan-kawan ikut membesarkan ruang-ruang bagi Perempuan Adat, mulai dari kampung, sampai ke tingkat seterusnya di mana kita bisa membawa suara-suara kita,” kata Devi.
Perluasan ruang tersebut penting karena Perempuan Adat tidak hanya menghadapi ancaman terhadap wilayah dan sumber penghidupan, tetapi juga pembatasan kewenangan untuk menentukan masa depannya. Karena itu, kepemimpinan transformatif perlu memperkuat kapasitas anggota, membangun kesadaran kritis, serta memastikan Perempuan Adat terlibat setara dalam pengambilan keputusan.
Devi menekankan bahwa keberlanjutan perjuangan bergantung pada kekuatan kolektif organisasi. “Fondasi terkuatnya adalah kepemimpinan kolektif yang dibangun,” ujarnya.
Melalui kepemimpinan baru, PEREMPUAN AMAN diharapkan terus memperkuat kaderisasi, solidaritas antarkomunitas, dan advokasi hak-hak Perempuan Adat. Upaya tersebut menjadi bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk membongkar ketimpangan struktural dan mewujudkan kehidupan yang berdaulat, berkeadilan, serta setara secara politik, budaya, dan pengetahuan. (*/GK)

