Friday, July 1, 2022
No menu items!
spot_img
HomeIptekTerapkan Indikator Toolkit, Indonesia Adakan Survey Masyarakat Digital

Terapkan Indikator Toolkit, Indonesia Adakan Survey Masyarakat Digital

Yogyakarta, benang.id –  Isu literasi dan keterampilan digital menjadi salah satu agenda prioritas dalam Digital Economy Working Group (DEWG) Presidensi G20 Indonesia dan kepresidenan sebelumnya. 

Staf Khusus Menteri Kominfo Bidang Digital dan Sumber Daya Manusia, Dedy Permadi menyatakan Pemerintah Republik Indonesia akan menerapkan perangkat yang dibahas dalam Lokakarya Perangkat untuk Mengukur Keterampilan dan Literasi Digital yang menjadi bagian dari side event Pertemuan DEWG G20 Indonesia.

“Tahun ini, 2022, Indonesia mengembangkan Indeks Masyarakat Digital atau Digital Society Index, berdasarkan perangkat keterampilan dan literasi digital ini,” ujarnya sebelum menutup lokakarya yang berlangsung di Yogyakarta, Kamis (19/5/2022), seperti dilansir kominfo.go.id.

Menurut Dedy Permadi yang menjadi Alternate Chair DEWG G20, survei itu akan mencakup 514 kabupaten dan kota di seluruh provinsi di Indonesia. 

“Salah satu tujuannya adalah memiliki indeks di tingkat kabupaten dan kota, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman bagi pengambil kebijakan dalam mengembangkan sumber daya manusia di tingkat daerah,” jelasnya.

Alternate Chair DEWG G20 menegaskan arti penting informasi terkini dan berkualitas tinggi sangat penting untuk memandu respons kebijakan yang tepat. 

“Memiliki informasi terkini dan berkualitas tinggi sangat penting untuk memandu respons kebijakan yang tepat,” tandasnya. 

Kebijakan dan strategi digitalisasi akan lebih baik jika didukung dengan data yang akurat sehingga membantu semua pemangku kepentingan mengambil keputusan untuk menangani kesenjangan digital dan bagaimana mengoptimalkan manfaat digitalisasi untuk setiap negara.

“Dengan mengetahui berapa banyak orang yang terhubung, bagaimana mereka terhubung, teknologi apa yang bermanfaat untuk menghasilkan pendapatan dan memberdayakan orang, jenis keterampilan digital dan literasi apa yang dimiliki sebagian besar individu, dampak dari terhubung dapat membantu semua pemangku kepentingan membuat keputusan yang tepat tentang cara menangani kesenjangan digital, dan bagaimana mengoptimalkan manfaat digitalisasi untuk setiap negara,” jelas Dedy Permadi.

Alternate Chair DEWG G20 Dedy Permadi meyakini perangkat yang didiskusikan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Meskipun demikian, masih perlu ada pembahasan dan pengujian agar sesuai diterapkan di masing-masing negara.

“Beberapa kekhawatiran terkait dengan definisi luas dan sempit dari perangkat keterampilan digital, variabel aliran vs stok, dan daftar pekerjaan utama vs terperinci, perlu diuji lebih lanjut,” ungkapnya.

Melalui diskusi dan penerapan toolkit, Dedy Permadi mengharapkan masing-masing negara anggota G20 akan dapat melihat implementasi perangkat yang relevan untuk mendukung transformasi digital inklusif.

“Dengan demikian, umpan balik, masukan, pembelajaran, dan berbagi pengalaman dari semua negara G20 benar-benar bermanfaat untuk meningkatkan toolkit dan implementasinya di masa mendatang. Saya memahami bahwa kita semua tertarik untuk melihat banyak anggota masyarakat dapat mengembangkan keterampilan dan literasi,” ungkapnya.

Mengenai hasil survei, Alternate Chair DEWG G20 menyatakan dengan senang hati akan berbagi bersama negara anggota G20. “Kami akan menyebarluaskan hasilnya tahun depan, dan merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk berbagi dengan anggota G20,” tegasnya.

Di kalangan negara anggota G20, kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan dan literasi digital tetap menjadi agenda utama. Oleh karena itu, Presidensi G20 Indonesia mengajukan perangkat untuk mengukur keterampilan dan literasi digital. Rumusan toolkit akan memperhatikan konteks sosial dan ekonomi setiap anggota G20 dan setiap negara dapat memodifikasi indikator berdasarkan prioritas masing-masing. Toolkit atau perangkat pengukuran yang diusulkan Indonesia terdiri dari empat pilar, yaitu 1) infrastruktur dan ekosistem; 2) literasi; 3) pemberdayaan; dan 4) pekerjaan yang dirinci menjadi 32 indikator. Pilar tersebut akan menjadi pengukuran standar keterampilan digital secara lebih komprehensif dan objektif.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments