FIA UI dan Bank Artha Graha Internasional Perkuat Literasi Keuangan UMKM Bekasi

0
Dra Maria Eurelia Wayan MSAk menyampaikan materi pada workshop “Literasi Keuangan untuk Mendorong Inklusi Keuangan dan Pengembangan UMKM Kabupaten Bekasi” Kamis (8/10/2026), di Aula Kampus B STIAMI Cikarang, Kabupaten Bekasi. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Sebanyak 59 pelaku UMKM binaan Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bekasi dibekali materi pencatatan keuangan, akses pembiayaan formal, dan kewaspadaan terhadap pinjaman online ilegal

Cikarang, benang.id – Klaster Riset Entrepreneurial Finance and Sustainable Business (EFSB) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) bersama Bank Artha Graha Internasional Cabang Cikarang menggelar workshop bertema “Literasi Keuangan untuk Mendorong Inklusi Keuangan dan Pengembangan UMKM Kabupaten Bekasi” pada Kamis, 8 Oktober 2026, pukul 10.00–11.45 WIB, di Aula Kampus B STIAMI Cikarang, Kabupaten Bekasi.

Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) Kabupaten Bekasi serta STIAMI Kampus B Cikarang sebagai tuan rumah. Workshop diikuti oleh 59 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Dinkop UKM Kabupaten Bekasi dari berbagai wilayah, antara lain Cikarang, Cibitung, Babelan, Serang Baru, dan Tambun.

Kepala Dinkop UKM Kabupaten Bekasi, Drs H Hasan Basri MM menyampaikan sambutan pembuka pada workshop “Literasi Keuangan untuk Mendorong Inklusi Keuangan dan Pengembangan UMKM Kabupaten Bekasi” Kamis (8/10/2026), di Aula Kampus B STIAMI Cikarang, Kabupaten Bekasi. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Kepala Dinkop UKM Kabupaten Bekasi, Drs H Hasan Basri MM mengatakan, para peserta berasal dari empat program pembinaan, yaitu Tulip Inkubator, UMKM Naik Kelas, UMKM Kemitraan, dan Forum UMKM, dengan omzet tahunan berkisar Rp1 juta hingga Rp300 juta. “Sebagian besar bergerak di sektor makanan dan minuman, sementara sisanya menjalankan usaha jasa seperti salon dan laundry, hantaran dan parsel, serta kerajinan,” ujar Hasan Basri, dalam sambutannya.

Dalam kesempatan tersebut, Hasan Basri menyampaikan terima kasih kepada Bank Artha Graha Internasional dan STIAMI yang telah memfasilitasi pelatihan ini. Karena kuota terbatas, peserta dipilih oleh Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro dari pelaku usaha yang kegiatannya sudah berjalan.

Foto bersama narasumber, peserta, dan panitia workshop “Literasi Keuangan untuk Mendorong Inklusi Keuangan dan Pengembangan UMKM Kabupaten Bekasi” Kamis (8/10/2026), di Aula Kampus B STIAMI Cikarang. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Ia menyebutkan, sebagian besar peserta telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat halal, tetapi umumnya belum mendaftarkan merek dagangnya sebagai hak kekayaan intelektual. “Banyak pelaku UMKM kita, terutama ibu-ibu, mengelola keuangan usaha sekaligus keuangan rumah tangga. Setelah sebulan berjualan, mereka bingung keuntungannya ke mana karena pencatatan keuangan tidak dilakukan,” ujar Hasan.

Ia mengingatkan agar pelaku usaha yang membutuhkan tambahan modal mencari lembaga keuangan resmi dan tidak meminjam sembarangan sehingga tidak terlilit utang hingga kehilangan aset. Hasan juga menyoroti peluang yang belum banyak dimanfaatkan pelaku usaha lokal, yakni pasokan bahan baku tekstil impor yang masuk melalui terminal peti kemas (dry port) di Cikarang.

Beberapa produk UMKM Kabupaten Bekasi dipamerkan pada workshop “Literasi Keuangan untuk Mendorong Inklusi Keuangan dan Pengembangan UMKM Kabupaten Bekasi” Kamis (8/10/2026), di Aula Kampus B STIAMI Cikarang, Kabupaten Bekasi. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Menurutnya, Kantor Bea Cukai Cikarang terbuka untuk mendampingi UMKM agar dapat naik kelas dan menembus pasar ekspor. Ia turut mencontohkan Gado-Gado Boplo, usaha keluarga yang berawal dari garasi rumah dan kini memiliki banyak cabang di pusat perbelanjaan Jakarta, sebagai bukti bahwa usaha kecil dapat tumbuh besar melalui semangat dan ketekunan.

Workshop menghadirkan narasumber dari Klaster Riset EFSB FIA UI, yakni Dra Maria Eurelia Wayan MSAk, Dra Novita Ikasari MComm PhD, dan Imam– anggota Klaster Riset EFSB, serta Branch Manager Bank Artha Graha Internasional Cabang Cikarang, Lukas Rudy Gunawan. Materi yang disampaikan mencakup empat topik: literasi keuangan, inklusi keuangan, pinjaman online, dan ketahanan bisnis UMKM.

Para narasumber menekankan bahwa banyak pelaku usaha berupaya meningkatkan penjualan, tetapi belum didukung kemampuan membaca kondisi keuangan usahanya. Pencatatan keuangan yang rapi membantu pelaku usaha memahami kondisi bisnis, mengambil keputusan secara lebih terukur, serta menyiapkan dokumen untuk mengakses pembiayaan formal.

Dra Maria Eurelia Wayan MSAk tanya jawab dengan peserta pada workshop “Literasi Keuangan untuk Mendorong Inklusi Keuangan dan Pengembangan UMKM Kabupaten Bekasi” Kamis (8/10/2026), di Aula Kampus B STIAMI Cikarang, Kabupaten Bekasi. Foto: benang.id/Gora Kunjana

“Bagi pelaku UMKM, literasi keuangan dimulai dari kemampuan sederhana, yakni memisahkan uang usaha dan uang rumah tangga, mencatat transaksi, menghitung omzet dan biaya, serta mengetahui apakah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan sebelum mengambil pinjaman,” kata Maria Eurelia Wayan.

Peserta diajak memulai dari kebiasaan yang mudah diterapkan, misalnya menyimpan uang usaha dan uang rumah tangga dalam amplop terpisah. Narasumber juga menjelaskan cara menghitung aset usaha secara wajar. Rumah yang masih ditinggali tidak dapat seluruhnya dianggap modal usaha; yang dihitung hanyalah bagian yang benar-benar dipakai untuk berusaha, seperti garasi atau satu ruangan tempat berjualan.

Pada sesi pinjaman online, peserta menyimak video edukasi tentang risiko pinjol. Kemudahan pencairan yang hanya bermodal KTP kerap membuat pelaku usaha tergoda, padahal bunga tinggi dan cicilan yang cepat dapat menjerat usaha yang belum balik modal ke dalam pola “gali lubang tutup lubang”.

Branch Manager Bank Artha Graha Internasional Cabang Cikarang, Lukas Rudy Gunawan melakukan icebreaking sebelum menyampaikan materinya pada workshop “Literasi Keuangan untuk Mendorong Inklusi Keuangan dan Pengembangan UMKM Kabupaten Bekasi” Kamis (8/10/2026), di Aula Kampus B STIAMI Cikarang, Kabupaten Bekasi. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Narasumber mencontohkan, plafon pinjaman yang tampak besar, misalnya Rp80 juta, dapat menyusut menjadi sekitar Rp50 juta dana yang benar-benar diterima setelah dipotong bunga dan berbagai biaya. Karena itu, sebelum meminjam peserta diminta memeriksa hal-hal berikut:
• Pinjaman benar-benar dibutuhkan untuk usaha, bukan untuk konsumsi sehari-hari.
• Kemampuan bayar sudah dihitung berdasarkan arus kas, termasuk besaran cicilan, bunga per tahun, dan jangka waktu.
• Pemberi pinjaman berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memiliki identitas yang jelas, serta menyediakan mekanisme pengaduan.
• Produk pembiayaan memiliki perhitungan bunga yang transparan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Branch Manager Bank Artha Graha Internasional Cabang Cikarang, Lukas Rudy Gunawan melakukan tanya jawab dengan peserta pada workshop “Literasi Keuangan untuk Mendorong Inklusi Keuangan dan Pengembangan UMKM Kabupaten Bekasi” Kamis (8/10/2026), di Aula Kampus B STIAMI Cikarang. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Kehadiran Bank Artha Graha Internasional memberikan perspektif perbankan terkait inklusi keuangan, mulai dari cara lembaga keuangan menilai kesehatan usaha hingga hal-hal yang perlu disiapkan pelaku UMKM sebelum mengakses layanan keuangan formal. Inklusi keuangan dipahami sebagai rangkaian yang dimulai dari memahami produk keuangan, memiliki akses, lalu menggunakannya secara bijak untuk menjaga ketahanan usaha.

Dalam konteks ini, perbankan menyediakan KUR sebagai salah satu fasilitas pembiayaan untuk pengembangan UMKM. “UMKM tumbuh dan berkembang dimulai dari keuangan yang sehat,” ujar Lukas Rudy Gunawan.

Pada sesi ketahanan bisnis, narasumber mendorong peserta menjaga kualitas produk dan kerahasiaan data mitra seiring masuknya sebagian peserta ke jaringan ritel modern. Salah satu peserta, produsen bawang goreng, bahkan telah menerima pesanan dari Indogrosir.

Foto bersama narasumber, peserta, dan panitia workshop “Literasi Keuangan untuk Mendorong Inklusi Keuangan dan Pengembangan UMKM Kabupaten Bekasi” Kamis (8/10/2026), di Aula Kampus B STIAMI Cikarang. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Peserta yang sebagian besar sudah berjualan melalui marketplace, TikTok, Facebook, dan Instagram juga didorong mengelola pemasaran digital secara lebih serius, antara lain dengan melibatkan anak muda di lingkungan sekitar sehingga usaha turut memberi dampak ekonomi bagi komunitas.

Workshop ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat Klaster Riset EFSB FIA UI yang dipimpin oleh Prof Ir Bernardus Yuliarto Nugroho MSM PhD. Kolaborasi dengan Bank Artha Graha Internasional dan Dinkop UKM Kabupaten Bekasi menjadi salah satu upaya untuk menghubungkan riset kampus, jaringan perbankan, dan pelaku usaha, agar hasil riset dapat diterapkan sesuai kebutuhan di lapangan. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here