Saturday, December 3, 2022
No menu items!
spot_img
HomeGaya HidupDeretan Chef Ini bakal Ramaikan Ubud Food Festival  24-26 Juni

Deretan Chef Ini bakal Ramaikan Ubud Food Festival  24-26 Juni

Ubud, benang.id  –  Sebagai inisiatif membangun Bali untuk merayakan pemulihan Bali dari pandemi, Ubud Food Festival (UFF) kembali hadir di Taman Kuliner, Ubud, Bali pada 24 hingga 26 Juni  2022.

Selama tiga hari perayaan kuliner UFF, yang juga berisi diskusi, lokakarya, musik dan film ini bakal menambah pengalaman kuliner dan budaya yang luar biasa bagi pengunjung.

“Selamat tiga hari yang penuh dengan makanan, kami memiliki program yang sangat padat,” kata Janet DeNeefe, pendiri dan direktur Festival, dalam rilisnya yang diterima di Jakarta, Jumat (20/5/2022).

“Dalam penantian panjang ini, kami telah memilih chef terbaik, mencari para ahli kuliner, pengerajin, food writers dan petani untuk menyuguhkan festival paling seru hingga saat ini,” imbuhnya.

Ubud Food Festival
Ubud Food Festival (UFF) kembali hadir di Taman Kuliner, Ubud, Bali pada 24 hingga 26 Juni 2022.

Selaras dengan tema festival tahun ini, Heroes, UFF mempertemukan para ahli kuliner lokal dengan para chef dalam berbagai Special Events yang ditunggu-tunggu. UFF akan memberikan penghormatan kepada William Wongsodengan Lifetime Achievement Award atas pengabdian besarnya terhadap kuliner Indonesia.

Salah satu social-eco entrepreneur terkemuka Indonesia, Helianti Hilman menyajikan sajian unik yang terinspirasi dari relief Borobudur serta membicarakan penelitiannya mengenai proyek grastronomi heritage.

Nyesha Arrington, seorang chef pemenang penghargaan berdarah Afrika Amerika dan Korea yang tinggal di L.A. akan menyajikan sajian plant-based di Fivelements.

Andrew Walshdari Cure, Michelin-starred di Singapura akan menghidangkan masakan Celticnya di Aperitif.

Lebih dekat dengan Aga Alviandari Meatsmith milik Dave Pynt, ia akan membawa bara menjadi lebih panas lagi di atas meja makan Api Jiwa.

Chef asal Meksiko Diana Beltranakan bergabung bersama para chef dari Chili dan Peru untuk menyulap sebuah malam Latino dan rasa pedas yang tak terlupakan di Cantina, rooftop eatery baru di Ubud

Hadir kembali di UFF, Maurizio Bombinidari Mauri, Seminyak akan mengajak pengunjung untuk mencicipi keahliannya dalam menu 5-course Mediterranean di Mandapa. Chef dari Young George.

Melissa Palinkasmenampilkan sajian Australia Barat dengan tiram mutiara Akoya bersama Amy Baard di Donna. Ayu Gayatri dan Gede Kresna dari Dapur Pengalaman Rasa meracik ritual Bali, keunikan rasa,resep luhur dan dongeng ke meja makan Tall Trees di Westin.

Kris Syamsudinmembawa hidanganlaut lobster, kepiting, dan ikan segar dari Kepulauan Sula di Halmahera Utara ke Casa Luna.

Di panggung Teater Kuliner, Petty Elliottkembali kepada akar Manadonya, mengubah masakan tradisional Indonesia menjadi sebuah hidangan modern.

UFF juga menampilkan Lisa Sibagariangahli fermentasi dari Locavore, dan petualangan kuliner Bali-Bandung yang dipersembahkan oleh Parti Gastronomi.

Raka Ambawaran dan Esy Trianamemperlihatkan bagaimana cara membuat minuman fermentasi beras, Brem Bali. Chef asal Bali Putu Dodik Sumarjanahadir kembali dengan penghormatannya kepada pisang.

Sementara itu, Chef William Salimdari Sensorium menyiapkan menu andalannya yang paling laris Asian-Style Prawn Squid-Ink Tagliolini dengan Prawn Butter.

Ruang diskusi, pandangan dan pemikiran unik, Food for Thought memberikan kesempatan bagi para produsen, chef, dan konsumen untuk berbagai cerita dan ide.

Sesi ini dimulai dari William Wongso mengenai perjalanan kuliner dan siapa pahlawan pangan bagi dirinya. Sesi bincang-bincang yang mencakup tema inisiatif berkelanjutan dengan penggemar ikan segar Ryan Theja, Blane Olson dan pembuat FishGo app Merta Yoga Pratamamembicarakan keberlanjutan hidangan laut, generasi baru petani muda Bali membahas budidaya padi berkelanjutan dan sesi para ahli tentang rumput laut dan pandemi.

Sedangkan Chef Ragil Imam Wibowoakan membahas sebuah proyek untuk melestarikan budaya kuliner masyarakat adat Bali dalam sebuah buku masak unik dan Arak yang disajikan bersama dengan pembuatnya.

Akan bergabung juga di Food for Thought, Janur Yasa, Top 10 CNN Hero yang membuat program Plastic Exchange, sistem tukar plastik dengan beras yang menjadi sebuah gerakan untuk pendidikan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang akan ditemani oleh Ketut Yudanni, pejuang ekoenzime.

Saat matahari terbenam, waktunya untuk memulai musik dan film pilihan. Tahun ini festival menghadirkan Navicula, trio Soul RnB Souldfood, dan Keroncong Jancoekdengan campuran musik tradisional dan kontemporer khasnya.

“Kami percaya bahwa penting untuk menyoroti inisiatif dan penawaran baik dari kawan-kawan kami di dunia kuliner, “ kata Janet DeNeefe.“ Dan kami bangga untuk memimpin upaya pemulihan dan mempromosikan Indonesia sebagai destinasi kuliner. Kami tidak sabar lagi untuk merayakan dan berpesta bersama dengan para penjunjung festival tahun ini.”

Perayaan kuliner lintas budaya

Didirikan pada tahun 2015, Ubud Food Festival (UFF) adalah tiga hari perayaan kuliner lintas budaya dengan kuliner Indonesia sebagai bintangnya.

Mencakup acara-acara istimewa, demo memasak, tur makanan, bincang-bincang, lokakarya, musik, pertunjukan seni, film, pasar makanan, dan banyak lagi, Festival ini merayakan keragaman dan kelezatan lanskap kuliner Indonesia. Telah menggoda 15.000+ pecinta makanan dari negara-negara termasuk Amerika Serikat, Australia, Singapura, Inggris, Filipina, Thailand, dan India pada tahun 2019, Ubud Food Festival sekarang menjadi Festival kuliner terkemuka di Asia Tenggara dan acara yang wajib dihadiri.

Menyatukan foodies Indonesia dari seluruh tanah air, UFF19 juga telah menyambut 85% pengunjung Indonesia, termasuk pengunjung dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Papua.

Memperkaya kehidupan dan penghidupan masyarakat

Yayasan Mudra Swari Saraswati
Yayasan Mudra Swari Saraswati sebagai penyelenggara UFF 2022. Sumber: henbuk.com

UFF digelar oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati yakni yayasan nirlaba independen yang berkomitmen untuk memperkaya kehidupan dan penghidupan masyarakat Indonesia melalui berbagai program pembangunan komunitas seni, budaya, dan kuliner.

Didirikan pada tahun 2003 oleh Janet DeNeefe dan Ketut Suardana sebagai proyek penyembuhan dalam menanggapi bom Bali pertama. Tujuan Yayasan adalah untuk membantu memenuhi kebutuhan kegiatan kreatif di Indonesia, individu, dan komunitas sembari menunjukkan keragaman budaya baik tradisional maupun kontemporer kepada dunia.

Menciptakan ruang untuk pertukaran lintas budaya dan dialog serta diskusi adalah inti dari Yayasan ini. Hal tersebut dapat dicapai melalui inisiatif Ubud Food Festival dan Ubud Writers & Readers Festival. Melalui acara internasional besar ini, Yayasan mempromosikan Ubud sebagai pusat seni dan budaya serta menampilkan seniman, penulis, chef, dan produser.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments