Tangerang, benang.id – Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) melalui tema utama Arah Dasar (Ardas) Pastoral 2026 “Keutuhan Alam Ciptaan”,mengajak umat Katolik untuk melakukan pertobatan ekologis, merawat bumi sebagai rumah bersama, serta mewujudkan aksi nyata ramah lingkungan seperti pengelolaan sampah dan pengurangan plastik.
Merespons ajakan tersebut, umat Katolik Lingkungan Lucius, Wilayah Sanjaya, Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB), Tangerang, menggelar pelatihan pembuatan karbol dan sabun cair dengan menggunakan Eco-Enzyme. Pelatihan pembuatan karbol yang digelar Sabtu (14/2/2026), dan sabun cair pada Minggu (15/2/2026) lalu, merupakan aksi lanjutan dari pelatihan pembuatan Eco-Enzyme pada November 2025.

Pembuatan Eco-Enzyme termasuk dalam proses memilah dan mendaur ulang sampah, dalam hal ini sampah/limbah organik. Eco-Enzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik berupa kulit buah atau sayur, yang dicampur dengan gula dan air dalam wadah tertutup selama 3-6 bulan. Proses ini menghasilkan cairan berwarna kecoklatan dengan aroma asam segar. Warna Eco-Enzyme bervariasi dari coklat muda hingga coklat tua, bergantung pada jenis sisa buah/sayuran dan jenis gula yang digunakan.
Ketua Lingkungan Lucius, Sunny Pandi mengatakan bahwa pelatihan pembuatan karbol dan sabun cair bisa dilaksanakan karena sudah tersedia bahan dasar utamanya yakni Eco-Enzyme.

“Kebetulan hasil fermentasi kulit buah November tahun lalu, sudah bisa kami panen bulan ini. Pelatihan disampaikan oleh Ibu Lusiana dan diikuti perwakilan keluarga utamanya ibu-ibu yang selanjutnya diharapkan dapat menularkan pengetahuannya kepada ibu-ibu lainnya,” jelasnya.
Pembuatan Biang Karbol Wangi dan Sabun Cair

Dalam pengantarnya, Lusiana mengingatkan Eco-Enzyme yang sudah bisa dipanen sebaiknya disaring dan diendapkan terlebih dulu agar menjadi bening. Setelah itu dimasukkan ke dalam botol-botol. “Eco-Enzyme dalam botol kecil ini juga bisa ditaruh di dekat komputer, TV, tape/radio karena dia dapat mengurangi radiasi,” ujarnya.

Ia menyarankan, meski sudah berhasil memanen, mengumpulkan kulit buah-buahan sebaiknya tetap dilakukan untuk pembuatan Eco-Enzyme berikutnya. “Tidak ada ruginya mempunyai stok Eco-Enzyme. Karena banyak yang bisa kita buat dengan bahan itu. Selain bisa membuat karbol, sabun cair, kita bisa juga buat shampo, deterjen, bahkan lipbalm, hingga salep obat,” katanya.
Manfaat salep dari Eco-Enzyme ini antara lain, Mempercepat penyembuhan luka: luka bakar, luka gores, luka bedah dan luka lainnya; Menenangkan kulit yang teriritasi, dapat membantu menenangkan kulit yang terasa gatal atau meradang; Melembabkan kulit kering: membantu melembabkan kulit kering dan pecah-pecah; Melindungi kulit dari infeksi bakteri dan jamur; Mengurangi bekas luka dan stretch mark.

Di samping itu, lanjut Lusiana, ampas kulit buah sisa Eco-Enzyme pun bisa dimanfaatkan untuk dijadikan bantal. “Setelah disaring kan ada ampasnya, diperas terus dicacah atau diblender kemudian dimasukkan ke dalam plastik tebal. Bantal Eco-Enzyme ini bermanfaat untuk mengeringi rasa lelah atau nyeri pada lutut, kaki, tangan, kepala, atau dijadikan alas tidur untuk pinggang atau punggung,” ujarnya.
Dalam pelatihan Sabtu itu, Lusiana bersama ibu-ibu peserta memraktikkan pembuatan (biang) karbol wangi. “Jangan lupa saat membuat karbol kita harus memakai masker dan sarung tangan karena berhubungan dengan bahan basa kuat yaitu NaOH. Tujuannya agar kita tidak menghirup uapnya atau terpercik tangan kita,” jelasnya.


Sementara pada pelatihan Minggu, Lusiana mendemonstrasikan cara membuat sabun cair. Banyak jenis sabun cair yang bisa dibuat mulai dari sabun cuci tangan, sabun mandi, sabun cuci baju, sabun pembersih atau pengepel lantai.
“Kali ini kita buat sabun cair untuk cuci piring saja. Sebenarnya berbagai jenis sabun berbahan Eco-Enzyme ini letak bedanya cuma di aroma. Untuk cuci piring aromanya ya lemon atau jeruk nipis, terakhir ada nanas. Kalau cuci tangan atau mandi bisa lebih bervariasi seperti wangi aneka bunga, bahkan coklat, moka, atau kopi,” ujarnya.
Pelatihan Berkelanjutan

Secara umum, peserta antusias mengikuti pelatihan pembuatan karbol dan sabun cair ini. Beberapa di antaranya bahkan sudah langsung mempraktikkan sendiri di rumah bersama keluarga, membuat sabun cuci piring dan membuat bantal Eco-Enzyme.
“Terima kasih berkat pelatihan yang mudah dipahami dan dilakukan kami bisa membuat sabun cuci piring dan bantal sehat yang bermanfaat bagi kami sekeluarga,” ujar Ladis Amatus yang bersama istrinya, Nona, tak pernah absen datang ke pelatihan.

Ia pun berharap kegiatan pelatihan pembuatan produk berbahan Eco-Enzyme di Lingkungan Lucius berkelanjutan. “Alam sehat, lingkungan sehat, diri kita pun sehat. Mari kita terus kreatif berkarya dan mengembangkan talenta kita semua,” sambungnya.
Hal senada juga dikemukakan Elizah, seorang ibu yang juga aktif mengikuti pelatihan. Ia berharap pelatihan praktis dan mudah dipraktikkan seperti ini terus diadakan.
“Saya juga sudah mempraktikkan membuat sabun cuci piring dan bantal sehat. Kebetulan ada acara keluarga saya bagi-bagikan sabunnya sebagai contoh, siapa tahu cocok dan kemudian memesan. Terima kasih untuk kegiatan yang bermanfaat ini,” katanya seraya tersenyum. (*/GK)


