
Jakarta, benang.id – Industri sawit merupakan salah satu penyumbang devisa ekspor nonmigas terbesar yang menggerakkan perekonomian jutaan masyarakat. Berkali-kali, sektor ini menjadi penyelamat krisis besar perekonomian nasional.
Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Hadi Sugeng dalam Press Conference penyelenggaraan IPOC 2026 dan Update Kinerja Industri Sawit di Kantor Gapki, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
“Pertama, di tahun 1998 saat reformasi, semua industri collaps, sawit menyelamatkan perekonomian Indonesia. Tahun 2008 saat terjadi krisis global, sawit jugalah yang tampil sebagai penyelamat. Kemudian sewaktu Covid 2020-2022, tidak ada industri yang hidup, tetapi sawit tetap panen, tidak ada PHK, gaji lancar, bahkan juga mampu memberikan vaksinasi kepada pekerjanya,” jelas Hadi Sugeng.

Selain Hadi Sugeng, hadir juga dalam acara tersebut Ketua Umum Gapki Eddy Martono, Ketua Panitia IPOC Suryanto Bun, Bendahara Umum Gapki Mona Surya, Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono, dan Kepala Bidang Komunikasi Gapki Bandung Sahari.
Sugeng menambahkan, yang terbaru ketika berkecamuknya perang AS-Israel vs Iran membuat harga minyak solar melambung tinggi, Indonesia tetap beruntung karena mempunyai sawit sehingga bisa menjadi B50. “Dari April hingga bulan ini, kita tidak ada subsidi untuk biodiesel. Karena harga minyak fosil lebih mahal daripada minyak biodiesel,” jelasnya.
Ia menyampaikan, produksi minyak sawit (CPO) hingga bulan Agustus 2026 tumbuh sekitar 5% dari 39 juta ton menjadi 40,9 juta ton, dan diperkirakan sampai dengan akhir tahun di Desember, menjadi 58,8 juta ton. “Artinya jika dibanding tahun lalu yang hanya 56.6 juta ton, tumbuh 5%,” terangnya.

Begitu pula di sisi konsumsi, Sugeng mengatakan bahwa konsumsi hingga Agustus tumbuh sekitar 6,81% yang dipicu oleh kebutuhan pangan khususnya biodiesel. Biodiesel sampai dengan Agustus tahun lalu 8,3 juta tahun ini 9,2 juta dan outlooknya nanti akan menjadi 14, 7 juta ton.
“Hal ini dikarenakan penerapan B50 di semester II yang efektif per Oktober ini. Sampai dengan akhir tahun ini totol konsumsi kita naik 9,5%,” ucapnya. “Jadi bisa kita bayangkan jika kita tidak punya sawit sementara kita konsumen terbesar minyak sawit, pasti akan impor,” tandasnya.
Oleh karena itu, Sugeng menegaskan Indonesia semestinya bersyukur dan mau memelihara komoditas sawit sebab Indonesia merupakan produser terbesar sekaligus konsumen terbesar, dan eksportir terbesar minyak sawit.

Selanjutnya di sisi ekspor, Sekjen Gapki mengatakan, total ekspor produk sawit pada bulan Agustus 2026 naik 2,9% dari 22,7 juta ton menjadi 23,4 juta ton. Sampai dengan akhir tahun agak sedikit turun dari 32 juta ton menjadi 31 juta atau turun 3,8% karena ada serapan yang cukup besar di biodiesel.
Adapun sumbangan industri sawit terhadap devisa negara, Sugeng mengatakan, sampai dengan bulan Agustus sumbangan devisa sawit sekitar 18,2% atau setara Rp479 triliun, di tahun lalu Rp406 triliun tahun ini hampir Rp480 triliun, dan diestimasikan sampai dengan akhir tahun nanti Rp667 triliun.
“Kalau kita 10 komoditas unggulan Indonesia, hanya sawit yang sampai hari ini tidak impor tapi tetap ekspor, sementara yang lain impor. Jadi komoditas ini harus kita jaga,” tukasnya. (*/GK)

