Jakarta, benang.id – Isu lingkungan hidup saat ini tidak lagi dapat dipisahkan dari arah pembangunan ekonomi nasional. Dunia usaha ke depan akan semakin dituntut untuk mengedepankan prinsip sustainability, efisiensi energi, ekonomi sirkular, dan tata kelola lingkungan yang baik.
Hal tersebut dikemukakan Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) 2026–2029 sekaligus Co-Founder Haluan Digital Network, Anthony Leong, saat silaturahmi dan diskusi bersama Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (Men-LH/Kepala BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat seputar penguatan ekonomi hijau, pengelolaan lingkungan berkelanjutan, hingga peran pengusaha muda dalam transformasi ekonomi nasional.
“Pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan tidak boleh dipertentangkan. Ke depan justru pengusaha yang adaptif terhadap green economy akan memiliki daya saing lebih kuat,” ujar Anthony pada keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Anthony mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang menunjuk Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH karena dinilai membawa perspektif baru yang menghubungkan isu lingkungan dengan keadilan sosial, ekonomi rakyat, dan pembangunan nasional berkelanjutan.
Ia menilai kepemimpinan Jumhur memiliki pendekatan yang menarik karena tidak hanya berbicara soal regulasi lingkungan, tetapi juga bagaimana menciptakan keseimbangan antara industrialisasi, investasi, dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Menteri Jumhur sendiri sebelumnya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan serta investasi tetap perlu didorong dengan kepatuhan terhadap standar lingkungan.
“Indonesia membutuhkan pembangunan ekonomi yang modern tetapi tetap memperhatikan keberlanjutan. Karena itu pengusaha muda harus mulai melihat green economy bukan sebagai beban, tetapi peluang bisnis masa depan,” kata Anthony.
Dalam diskusi tersebut, Anthony juga menyoroti besarnya potensi ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah nasional. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 141 ribu ton sampah per hari dan sekitar 75 persen masih belum terkelola dengan baik.
Menurut Anthony, persoalan tersebut justru membuka peluang lahirnya industri baru berbasis waste management, renewable energy, recycling industry, hingga carbon economy yang dapat menjadi sektor ekonomi potensial bagi pengusaha muda Indonesia.
“Sampah tidak boleh hanya dipandang sebagai masalah lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi baru apabila dikelola dengan teknologi dan inovasi,” ujarnya.
Anthony juga mendorong agar Hipmi ke depan mulai aktif membangun ekosistem green entrepreneur melalui program green financing, pelatihan sustainability business, pengembangan energi baru terbarukan, hingga penguatan industri ramah lingkungan.
Ia menilai dunia usaha global saat ini mulai bergerak menuju standar ESG (Environmental, Social, Governance), sehingga pengusaha nasional harus mulai beradaptasi agar mampu bersaing di pasar internasional.
“Ke depan bukan hanya harga dan kualitas produk yang dinilai pasar global, tetapi juga bagaimana proses produksinya memperhatikan lingkungan dan sustainability,” katanya.
Anthony berharap sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dapat mempercepat lahirnya model pembangunan ekonomi Indonesia yang produktif, modern, tetapi tetap berkelanjutan.
“Indonesia memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi dunia. Tetapi pertumbuhan itu harus dibangun dengan tata kelola lingkungan yang baik agar dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh generasi mendatang,” tutup Anthony.
Keseimbangan antara pertumbuhan dan kelestarian

Mohammad Jumhur Hidayat menyambut baik silaturahmi dan diskusi bersama Anthony Leong serta jajaran pengusaha muda terkait penguatan green economy dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Menurut Jumhur, dunia usaha memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan hidup. Karena itu, ia menilai kolaborasi dengan kalangan pengusaha muda menjadi penting untuk mendorong transformasi ekonomi Indonesia yang lebih modern dan berkelanjutan.
“Kita membutuhkan pengusaha-pengusaha muda yang bukan hanya berpikir tentang pertumbuhan bisnis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan dan masa depan bangsa,” ujar Jumhur.
Ia menilai tantangan lingkungan hidup ke depan semakin kompleks, mulai dari persoalan sampah, emisi karbon, perubahan iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Namun menurutnya, tantangan tersebut juga membuka peluang lahirnya sektor ekonomi baru berbasis green economy dan teknologi ramah lingkungan.
“Ke depan ekonomi hijau akan menjadi arah baru ekonomi dunia. Karena itu Indonesia harus mempersiapkan pengusaha nasional agar mampu menjadi bagian dari transformasi tersebut,” katanya.
Jumhur juga menyatakan kesiapan Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH untuk membangun kerja sama dan sinergi dengan Hipmi dalam mendorong lahirnya entrepreneur muda yang adaptif terhadap prinsip sustainability, ekonomi sirkular, energi terbarukan, dan tata kelola lingkungan yang baik.
“Kami terbuka untuk bersinergi dengan Hipmi dalam membangun kesadaran dan kapasitas pengusaha muda terkait green economy dan pembangunan berkelanjutan,” ujar Jumhur. (*/GK)



