Friday, February 23, 2024
No menu items!
spot_img
HomeInternasionalMasyarakat Modern Telah Kehilangan Kemampuan Menunggu

Masyarakat Modern Telah Kehilangan Kemampuan Menunggu

Vatikan, benang.id  – Pemimpin Gereja Katolik Sedunia Paus Fransiskus mengingatkan para rohaniwan atau kaum religus yakni pastor, suster, bruder, dan frater  untuk terus memupuk “kehidupan spiritual yang intens” melalui adorasi ekaristi, doa syafaat, dan keheningan.

Paus menyatakan hal tersebut pada Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-28, hari raya Persembahan Tuhan, di Basilika St Pertrus, Vatikan, Jumat (2/2/2024), sebuah pesta yang setiap tahunnya bertepatan dengan hari doa yang ditetapkan oleh Yohanes Paulus II untuk pria dan wanita yang mememuhi panggilan bakti di Gereja.

“Dunia kita sering kali berjalan dengan kecepatan tinggi, yang mengagungkan segalanya saat ini,” kata Paus Fransiskus, seperti dikutip dari ncregister.com.

Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-28, hari raya Persembahan Tuhan, di Basilika St Petrus, Vatikan, pada 2 Februari 2024. Foto: Sr Fransiska CP

“Dalam konteks seperti ini, di mana keheningan dihilangkan dan hilang, menunggu bukanlah hal yang mudah, karena hal tersebut membutuhkan… keberanian untuk memperlambat langkah kita, untuk tidak kewalahan dengan aktivitas, untuk memberikan ruang dalam diri kita untuk karya Tuhan,” tutur Paus.

Paus menggarisbawahi bahwa masyarakat modern telah “kehilangan kemampuan untuk menunggu,” yang menurutnya menimbulkan masalah karena “menunggu Tuhan” adalah bagian penting dari perjalanan iman. “Maka penting untuk memulihkan rahmat yang hilang: untuk kembali, melalui kehidupan batin yang intens, ke semangat kerendahan hati yang penuh sukacita, rasa syukur dalam hening,” katanya.

Prosesi pada Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-28, hari raya Persembahan Tuhan, di Basilika St Petrus, Vatikan, pada 2 Februari 2024. Foto: Sr Fransiska CP

“Hal ini dipupuk oleh adorasi, oleh jerih payah lutut dan hati, oleh doa konkret yang berjuang dan menjadi perantara, yang mampu membangkitkan kembali kerinduan akan Tuhan, cinta awal, keheranan di hari pertama, rasa penantian,” imbuh Paus.

Paus Fransiskus merefleksikan pentingnya memupuk kehidupan batin pada hari raya Persembahan Tuhan, yang juga disebut Candlemas. Pada hari itu, banyak umat Kristiani yang membawa lilin ke gereja untuk diberkati. Mereka kemudian dapat menyalakan lilin-lilin ini di rumah saat berdoa atau saat-saat sulit sebagai simbol Yesus Kristus, Terang Dunia.

Misa di Basilika Santo Petrus dimulai dengan prosesi cahaya lilin.  Para imam, uskup dan kardinal membawa lilin menyala dalam prosesi melalui gereja yang gelap. Laki-laki dan perempuan yang hadir dalam jemaah juga memegang lilin kecil.

Prosesi pada Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-28, hari raya Persembahan Tuhan, di Basilika St Petrus, Vatikan, pada 2 Februari 2024. Foto: Sr Fransiska CP

Ketika berbicara kepada para pelaku hidup bakti, Paus Fransiskus mengingatkan agar tidak “mengubah kehidupan beragama dan Kristiani menjadi memiliki ‘banyak hal untuk dilakukan’ dan mengabaikan pencarian Tuhan sehari-hari.” “Maka, marilah kita berhati-hati agar semangat duniawi tidak merasuki keagamaan kita, kehidupan gerejawi dan perjalanan pribadi kita; jika tidak, kita tidak akan menghasilkan buah,” tandas Paus Fransiskus.

Mendampingi Paus, sebagai selebran misa di altar utama basilika adalah Kardinal asal Brazil João Braz de Aviz, prefek Dikasteri Vatikan untuk Institut Hidup Bakti dan Masyarakat Hidup Kerasulan.

Sr Fransiska CP (ketiga dr kiri dpn) bersama para suster usai mengikuti Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-28, hari raya Persembahan Tuhan, di Basilika St Petrus, Vatikan, Jumat (2/2/2024). Foto: dok. Sr Fransiska CP

Lebih dari 300 pria dan wanita hidup bakti (rohaniwan dan kaum religius) berasal dari lebih dari 60 negara bertemu di Roma minggu ini dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh dikasteri tersebut untuk mengoordinasikan persiapan mereka menyambut tahun Yubileum 2025.

“Kehidupan Kristiani dan misi kerasulan memerlukan kesabaran menunggu. Dewasa dalam doa dan kesetiaan sehari-hari, penantian membebaskan kita dari mitos efisiensi, dari obsesi terhadap kinerja dan, yang terpenting, dari kepura-puraan mengabaikan Tuhan, karena Dia selalu datang dengan cara yang tidak terduga, pada waktu yang tidak kita pilih,” kata Paus Fransiskus kepada para biarawan dan biarawati.

“Setiap hari, Tuhan mengunjungi kita, berbicara kepada kita, menyatakan diri-Nya dengan cara yang tidak terduga; dan, pada akhir kehidupan dan waktu, dia akan datang,” pungkas Paus Fransiskus. (*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments